Friday, February 05, 2016

MAKALAH


PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DI SEKOLAH

I.     Pendahuluan

Anak-anak pada masa usia sekolah adalah harapan masa depan bangsa. Karena mereka yang akan menerus cita-cita bangsa ke masa depan. Sumber daya suatu bangsa ditentukan dengan kualitas anak-anak saat ini. Oleh karena itu bentuk kepedulian pemerintah kepada anak-anak usia sekolah dengan memberikan makanan tambahan bagi anak-anak dibangku sekolah. Bahan makanan yang dikonsumsikan oleh anak-anak disekolah paling tidak mendekati kualitas yang baik dan bergizi. Dengan demikian bisa menambah daya tahan tubuh dan meningkatkan daya tangkap atau intelektual terhadap proses kegiatan belajar disekolah.

Dalam rangka itu Pemerintah Timor-Leste pada tahun 2006[1] mengeluarkan satu undang-undang berupa dekrit Menteri Pendidikan untuk memberi makanan tambahan bagi anak-anak disekolah. Program pemberian makanan tambahan di sekolah itu di Timor-Leste dikenal dengan “Merenda Escolar”. Terjemahan secara harafian Merenda artinya Saparan dan Escolar artinya Sekolah. Jadi Merenda Escolar diartikan sebagai sarapan disekolah atau makan disekolah. 

Jadi pada dasarnya berbagai publikasi tentang pemberian makanan tambahan atau kasus Timor-Leste “Merenda Escolar” diberbagai Negara adalah meningkatkan kualitas gizi lewat makanan yang berkualitas dan juga  memberi semangat kepada anak-anak untuk tetap aktif disekolah. 

II.     Pembahasan Masalah

Penulisan paper  ini difokuskan pada masalah pemberian makanan tambahan disekolah atau Merenda Escolar di sekolah-sekolah dasar di Negara Timor-Leste. Seperti yang diuraikan diatas bahwa Merenda Escolar yang diterapkan di Timor-Leste lewat Dekrit Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan nomor 21/2006 pada pasal 26  yang memberi mandat kepada suatu Divisi di Kementrian Pendidikan untuk bertanggungjawab atas implementasi program Merenda Escolar pada setiap sekolah dasar di Timor-Leste.

Tanggungjawab Divisi itu untuk bertangungjawab pada masalah administrasi dan keuangan untuk memperlancar pelakasanaan programa Merenda Escolar di setiap sekolah dasar di Timor-Leste baik sekolah publik milik pemerintah maupun sekolah-sekolah swasta yang pada umumnya dikelolah oleh Gereja dan beberapa organisasi lainnya sebagai pegiat pada masalah pendidikan.

Implementasi Merenda Escolar

Tujuan dari Merenda Escolar adalah memberikan makanan tambahan pada anak-anak disekolah agar anak-anak dapat  meningkatkan daya tahan tubuh untuk dapat tetap konsentrasi mengikuti proses belejar disekolah. Selain itu bisa menambah nutrisi atau peningkatan gizi kepada anak-anak. Dengan demikian tujuan pada khusunya adalah menambah daya tahan tubuh agar bisa berkonsentrasi untuk mengikuti proses pendidikan di sekolah dan meningkatkan masalah nutrisi dan gizi bagi anak-anak.
Implementasi program Merenda Escolar pada awalnya berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Dekrit Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Timor-Leste. Yaitu bahan makanan yang di distribusikan kepada sekolah-sekolah yang melakasanakan program Merenda Escolar adalah bahan-bahannya harus memenuhi standar tinggi dengan kualitas nutrisi yang baik dan bergizi. Seperti kacang hijau, susu, ikan (deho), kacang merah, minyak, garam beras dan lain-lainnya.[2]

Pelaksanaan program Merenda Escolar ini pemerintah Timor-Leste melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kerja sama dengan suatu lembaga PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) yaitu WFP (Word Food Programme) untuk distribusi makanan ke sekolah-sekolah yang disebutkan diatas.[3]  Tujuan kerja-sama pemerintah Timor-Leste dengan lembaga internasional itu agar bisa mengkontrol kualitas bahan makanan yang akan dikonsumsi oleh anak-anak di sekolah- sekolah yang ada di seluruh wilayah Timor-Leste.

Kendati demikian pada implementasinya program tersebut tidak terjadi seperti hal-hal yang diuraikan diatas. Seperti distribusi bahan pada sekolah-sekolah banyak yang rusak seperti kacang atau beras dalam keadaan busuk. Dan juga distribusi bahan-bahan itu sering terlambat dan tidak tepat waktu. Seorang pastor di Sub-distrik Maubessi yang mengolelah sekolah milik Gereja mengeluhkan bahwa barang-barang yang dikirim banyak yang rusak dan tidak ada tindaklanjuti pada program Merenda Escolar disekolah mereka di Maubessi[4]  Hal yang sama dikeluhkan oleh seorang siswa Lucas Magno dari Sub-distrik Ainaro mengatakan bahwa seharusnya programa ini dilakukan sekali seminggu di sekolah tetapi saat ini sudah tujuh bulan bahan-bahan yang dipakai untuk Merenda Escolar tidak lengkap sehingga para guru meminta kepada kami agar setiap siswa membawa sayur atau makanan sendiri untuk dikonsumsi disekolah. Agostinho Lopes Kepala Sekolah dari Maununu Sud-distrik Ainaro mengatakan bahwa WFP yang bertanggung-jawab atas distribusi bahan makanan ke sekolah-sekolah akan tetapi bahan-bahan itu banyak yang dalam keadaan rusak, tidak lengkap sehingga tidak bisa dikonsumsi di sekolah[5]

Direktur Pendidikan dari Regional Enclave Oecussi, Justino Neno mengatakan bahwa tidak ada perubahan pada menu makanan yang dikonsumsi untuk Merenda Escolar karena dana  yang dialokasikan ke programa ini hanya diperbolehkan untuk menyediakan bahan-bahan seperti; minyak goreng, beras, garam dan kacang merah. Tidak ada perubahan pada menu makanan untuk Merenda Escolar ini tidak akan membantu perkembangan fisik untuk memperlancar otak anak-anak, kata Manuel da Costa salah satu staf dinas kesehatan di Disitrik Oecussi[6]. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa perlu ada perubahan bahan makanan untuk Merenda Escolar seperti sayur-mayur, kacang hijau dan makanan especial lainnya agar bisa membangun daya intelektual anak-anak.

Di lain tempat seperti tidak ada kelanjutan dari program Merenda Escolar ini memberi dampak kepada anak-anak untuk mengikuti proses belajar disekolah. Banyak anak yang malas datang ke sekolah gara-gara tidak ada kelanjutan program Merenda Escolar di sekolah mereka. Kata kepala sekolah Aiteas di Distrik Manatutu kepada wartawan dari media Suara Timor Lorosae (STL). Senorina de Paulo salah satu siswa dari sekolah tersebut mengatakan bahwa kami tidak suka datang lagi ke sekolah seperti dulu karena tidak ada Merenda Escolar. Oleh karena itu kami minta kepada pemerintah untuk distribusi lagi bahan makanan kepada kami disekolah[7].

Laporan Komisi C Parlamen Timor-Leste yang bertanggung-jawab pada masalah ekonomi dan keuangan dalam laporannya memberi rekomendasi kepada pemerintah untuk tetap mengadakan distribusi kepada sekolah-sekolah sesuai dengan waktu. Laporan itu dibacakan pada waktu debat anggaran pemerintah tahun 2011 di sidang pleno Parlamen Nasional Timor-Leste[8].

Dengan tidak adanya kesinambungan atas program Merenda Escolar ini, sulit dipahami oleh para pendidik disekolah maupun para orang tua siswa. Tidak jelas siapa sebernarnya yang bertanggungjawab atas program ini. Mantan Menteri Pendidikan Joao Cancio Freitas pada suatu kesempatan di gedung Parlamen Timor-Leste mengatakan kepada anggota dewan bahwa WFP yang bertanggungjawab atas distribusi bahan makanan ke sekolah-sekolah namun seringkali bahan-bahan itu tidak ada kualitas. Oleh karena itu kementrian pendidikan telah mengumumkan kepada setiap direktur regional untuk membuka rekening dibank serta memberi daftar nomor siswa pada setiap sekolah dan akan mengirim uang kepada setiap rekening dan digunakan untuk melaksanakan program Merenda Escolar. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pemerintah tidak punya cukup dana untuk memenuhi kebutuhan setiap program Merenda Escolar. Selama ini beras dipakai untuk progam Merenda Escolar ini disuplai dari kementrian Pariwisata, Comercial dan Industri [9].

Atas ketidak-lancaran program Merenda Escolar itu dipertanyakan oleh anggota dewan dari Fraksi Oposisi dari Partai Fretilin, Eladio Faculto kepada pemerintah pada saat debat anggaran retifikativu 2012 di gedung Parlamen Timor-Leste pada bulan Oktober tahun 2012. Menanggapi hal itu Menteri Pendidikan, Bendito Freitas mengatakan bahwa ketidak-lancaran distribusi bahan makanan ke sekolah-sekolah karena adanya pemilihan tiga kali yang diadakan pada tahun ini[10].

Perubahan distribusi bahan makanan untuk program Merenda Escolar yang tadinya distribusi bahan-bahan langsung ke sekolah diganti dengan uang. Hal ini dimanfaatkan oleh penanggungjawab sekolah untuk membuat daftar nomor siswa siluman. Artinya melebih-lebihkan nomor siswa sehingga bisa mendapat uang lebih dari programa ini. Yang lebih para lagi penanggung-jawab pendidikan di Regional yang melalukan pemalsuan daftar siswa. Contoh kasus seorang guru dari Sekolah dasar Daitula Maucali, Jacinto M. Ximenes mengatakan siswa dari sekolahnya hanya ada 64 siswa namun daftar yang dibuat oleh direktur pendidikan Regional Baucau tertulis 389 siswa[11]. Hal ini bisa terjadi karena pemerintah pusat tidak punya sumber daya yang cukup untuk mendata setiap siswa yang ada di setiap sekolah.

Saat ini jumlah sekolah yang dikelolah oleh pemerintah sebanyak 860 dan 121 sekolah yang dikelolah oleh swasta atau sekolah pribadi[12]. Dengan jumlah sekolah itu pemerintah Timor-Leste lewat Menteri Pendidikan dan kebudayaan pada tahun 2011 hanya menyediakan dana untuk program Merenda Escolar sekitar $1.5 juta dolar Amarika[13]. Pelaksanaan program Merenda Escolar ini bukan saja di sekolah publik milik pemerintah tetapi juga pada sekolah swasta.

Persoalan yang dihadapi pada program ini bukan saja masalah distribusi dan kualitas bahan-bahan makanan akan tetapi masalah Infrastutur juga tidak mendukung. Seperti masalah sanitasi dan air minum yang dialami oleh dua sekolah dasar milik pemerintah di kota Dili. Seperti sekolah publik nomor 3 Bairo Pite dan sekolah Publik nomor 4 Aituri Laran di Dili. Kedua sekolah ini mengalami kesulitan air sehingga menghambat proses kegiatan Merenda Escolar di sekolah mereka[14]. Seperti sekolah publik Aituri Laran seorang siswa mengatakan bahwa setiap hari pada guru meminta kepada setiap siswa untuk membawa 1,5 liter dari rumah. Air itu digunakan untuk memasak, mencuci untuk mendukung program Merenda Escolar di sekolah mereka. Sementara sekolah nomor 3 Bairo Pite terpaksa menimbang air dari masyarakat terdekat untuk melaksanakan program Merenda Ecolar di sekolah tersebut[15].

III.    Kesimpulan

Perkara ketidak-sistimasasi atas programa Merenda Escolar diatas menjadi salah satu ketidak-mampuan pemerintah Timor-Leste dibidang sumber daya manusia untuk mengontrol proses pelaksanaan program Merenda Escolar itu. Atas ketidak-beresan itu anak-anak yang menjadi subyek dari programa ini memberi satu gambaran kepada kita bahwa mereka telah kehilangan sebagian hak mereka yang seharusnya pemerintah menyediakan untuk mereka. Oleh karena mereka merasa kehilangan harapan untuk berpatisipasi dalam prosesu pembangunan dimasa yang akan datang.

Anak-anak usia sekolah dasar yang menjadi subyek dari program ini merasa kehilangan bukan karena kesalahan mereka tetapi karena kesalahan sistim yang tidak mengakomodir atas terlaksananya program tersebut. Oleh karena itu seperti salah satu siswa Senorina de Paula dan kawan-kawannya dari Manatuto tidak rutin datang kesekolah bukan kesalahan mereka. Tetapi pemerintah sebagai badan pelaksana dari program ini bertanggungjawab.

Bahwa perkara antara ketidak-mampuan pemerintah itu perlu dibebani dimasa yang akan datang agar anak-anak yang menjadi subyek dari program Merenda Escolar ini tidak menjadi korban dan paling tidak memberi semangat kepada anak-anak untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan di sekolah mereka.
Jangan sampai hanya karena program ini akan membunuh semangat mereka untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan. Karena pendidikan bagi anak usia dini merupakan investasi bagi bangsa dan negara di masa yang akan datang.

Di negara-negara maju para pengiat pendidikan mencoba berbagai hal positif untuk merumuskan dalam sistim kurikulum disekolah  agar bisa merancang siswa untuk lebih aktif mengikuti proses pendidikan. Sementara di Timor-Leste justru membunuh semangat anak-anak lewat program Merenda Escolar yang diselenggarakan di sekolah-sekolah dasar di seluruh wilayah Timor-Leste. Mocthtar Buchori (2001) mengatakan bahwa setiap pendidik dituntut untuk menguasai dan merumuskan apapun bidangnya kearah specialisasi itu sangat perlu untuk dimilikinya. Beda dengan Timor-Leste yang saat ini masih sibuk untuk merumuskan sistim kurikuler dan bagaimana mendistribusikan bahan makanan bagi anak-anak  disekolah.

Selain sistim dan distribusi bahan makanan diatas sarana dan prasarana juga harus mendukung program ini. Seperti bangunan, air bersih, sanitasi, jalan raya dan juga sumber daya manusia. Seperti kasus pada sekolah nomor 3 nomor 4 yang ada di ibukota negara mengalami kekurangan air bersih dan masalah sanitasi apalagi sekolah-sekolah dipelosok kondisinya seperti apa. Ini merupakan suatu ironi. Oleh karena itu pemerintah harus membenahi masalah infrastruktur untuk mendukung program Merenda Escolar maupun proses pembangunan pada sektor lainnya di Timor-Leste.

Keprihatinan lain yang sedang melanda sistem pendidikan di Timor-Leste adalah para pendidik sendiri memulai dengan suatu ‘penipuan’ dengan memanipulasi data siswa untuk mendapatkan keuntungan bagi pendidik. Faktor ini akan membius dan melahirkan suatu tatanan sistim pendidikan yang kurang baik dimasa mendatang. Seharusnya kita sadar bahwa sekolah adalah tempat untuk melayani dalam tatanan sosial bukan sekolah sebagai tempat untuk mencari nafkah tambahan lewat pelayanan progam Merenda Escolar kepada anak-anak di sekolah.

Dili, 19 Oktober 2012




[1] Decreto-Lei nomor 21/2006 22 de Novembru. Organica do Ministerio da Educacao e da Cultura.
[2]Infor Parlamentar No. 5/5 Dezembru 2011- Janeiro 2012, halaman 21-22. 
[3] Ibid.
[4] Timor Post, 21 November 2011.
[5] Timor Post, 28 Oktober 2011.
[6] Info Parlamentar, No5/Desembru 2011 – Janeiro 2010 hal. 22.
[7] Ibid.
[8] RELATÓRIO E PARECER PROPOSTA DE LEI N.o 29/II ORÇAMENTO GERAL DO ESTADO PARA 2010, halaman 52.
[9] Timor Post, 9 Februari 2012.
[10] Timor Post, 18 Oktober 2012.
[11] Timor Post, 21 Novembru 2011
[13] Budget Negara 2011.
[14] Diario Nacional 15 Oktober 2012.
[15] Ibid. 

No comments: