Friday, October 12, 2012

Strategi Politik Dalam Sebuah Organisasi



  Artikel ini ditulis sebagai bahan untuk diskusi pada organisasi Moris Dame di rumah almarhum Francisco Xavier do Amaral di Cijantung, Jakarta Timur, pada bulan Maret 1998. 

Apa yang melatarbelakangi kita untuk berbicara tentang strategi politik? Untuk menjawab  pertanyaan diatas tentu saja kita tahu tentang latar belakang dari strategi politik itu sendiri. Pada dasarnya strategi  politik dibalik berdirinya sebuah organisasi tentu saja ada semacam kebutuhan yang mendesak. Hal ini kita melihat dari waktu-waktu kita selalu menemukan banyak persoalan yang selalu menghantui kita. Mungkin saja persoalan yang kita temukan itu barangkali saja sejenisnya,  tetapi untuk mengatasi persoalan itu sering kali sangat sulit dan kandang-kandang menghabiskan banyak energi.
Maka Strategi Politik Organisasi adalah sebagai salah satu jembatan antara subyek dan obyek untuk merumuskan sebuah permasalahan yang sering kali muncul ditengah-tengah kita. Mungkin orang atau kelompok kecil untuk berkumpul dalam salah satu organisasi berbicara tentang strategi politik barangkali saja tidak terlepas dari sebuah persoalan yang timbul atau setidak-stidaknya adanya tanda-tanda yang membahayakan. Maka untuk membicarakan strategi politik ini akan melahirkan banyak sekali alternatif-alternatif untuk memutuskan atas persoalan tersebut. Contoh kasus atau bicara tentang fakta. Misalnya kita sendiri atau pemuda Timor Timur yang sekian banyak dikirim ke luar Timor Timur oleh pemerintah tentu saja pemerintah juga mempunyai target atas rencana-rencana tersebut.
Maka paling tidak kita harus secara sadar untuk melihat program-program tersebut. Paling tidak ada dua kemungkinan untuk melihat secara obyektif. Yaitu dari segi positif dan segi negatifnya atas rencana program tersebut.  Secara obyektifitas kita mulai ditarik-tarik oleh dalam dua penilaian tersebut maka dari situlah kita akan sadar bahwa ternyata antara segi positif itu persoalannya seperti ini dan segi negatif itu persoalannya seperti ini. Begitu juga kita melihat antara keuntungan dan kerugian dari segi positif begitu juga dari segi negatifnya.
Dalam kerangka berpikir seperti itu maka setiap individu setidak-setidaknya mempunyai strategi masing-masing untuk mengungkapkan eksperinya sendiri-sendiri. Entah lewat tulisan, diskusi atau berupa pengaduan-pengaduan kepada lembaga-lembaga bantuan hukum yang bersangkutan. Ya, kalau kita sudah masuk dalam metode ini mungkin saja orang atau salah satu kelompok yang bergabung dalam sebuah organisasi yang mempunyai sebuah persoalan yang sama pastilah akan menggunakan rumus-rumus tersendiri untuk melakukan pembelaan-pembelaan.
Kalau sudah masuk dalam rumusan-rumusan untuk menggunakan dalam bentuk pembelaan diri tentunya mempunyai tahapan-tahapan untuk mencapai sebuah target. Setidak-tidaknya kita mungkin diarahkan jauh kedepan untuk memikirkan konsekuensi daripada rumusan-rumusan pengaduan tersebut.
Lewat konsekuensi-konsekuensi yang akan berdampak pada rumusan-rumusan kita barangkali merupakan sebuah pendidikan yang bermakna. Kenapa ini menjadi sebuah pendidikan? Barangkali untuk menjawab lebih jauh tentang makna pendidikan sangat banyak tentang kasus yang berkaitan dengan hal itu. Misalnya ketika seorang buruh diPHk (Pemutusan Hubungan Kerja) langkah apa yang harus dia tempuh untuk mengadakan pembelaan. Atau dia pasrah begitu saja untuk menerima putusan PHK tersebut.  Mungkin sebagian besar pasti menerima kenyataan sepihak ini. Tetapi secara nurani sebagian besar justru mencari alternatif lain untuk melawan putusan ini. Alternatif-alternatif yang ada hubungannya dengan bentuk penindasan terhadap seseorang atau sekelompok atau masuk dalam contoh kasus tadi itu merupakan bagian dari strategi politik dan bentuk pembelaan diri atau bisa juga dinamakan pendidikan alternatif.
            Masuk pada sebuah kesadaran untuk memahami antara strategi politik dan strategi pendidikan untuk membela diri pada dasarnya adalah sama. Sekarang yang menjadi yang persoalan adalah bagaimana kita menggunakan strategi politik itu membela diri. Saya kira problemanya terletak pada kesadaran bagaiamana kita mempetakan jenis kasus yang kita hadapi itu. Paling tidak kita harus secara jernih untuk melihat kasus yang kita hadapi tersebut. Dan  betul-betul menganalisa sebelum kasus itu gunakan sebagai salah satu kampanye dalam arti pembelaan diri atau membela orang lain atau kelompok masyarakat yang kena kasus atau korban dari sebuah regim yang tidak adil. Maka sekali lagi yang utama adalah mempelajari secara cermat tentang jenis kasus tersebut.
Ada satu kasus yang menarik bagi kita untuk diskusikan bersama. Misalnya tentang kasus Tanah Abang. Seperti kita ketahui bersama bagaimana prosesnya kasus Tanah Abang itu meledak dan muncul kepermukaan. Begitu seragamnya kita bertahan disana sehingga kehidupan Tanah Abang menjadi kristal sekali dengan kondisi masalah perkotaan sebagaimana mestinya. Menurut saya sebenarnya ada trik-trik yang bisa kita gunakan lewat kasus Tanah Abang ini untuk membongkar kasus lain.  Khusus untuk kita memang kasus ini menarik sekaligus mengadakan sebuah preser secara besar-besaran untuk melawan. Tetapi kenyataan apa yang kita lakukan terhadap kasus ini. Dan kita tidak pernah mau memahami inti kasusnya sendiri.  Ini sebenarnya sebuah ajakan. Begitu juga mengetuk setiap orang atau lembaga baik itu pemerintah maupun organisasi lain untuk mengadakan penelitian terhadap kasus ini. Kenapa ini tidak pernah lakukan. Banyak sekali alasannya. Baik dari pihak korban kita sendiri maupun pemerintah untuk mengali kembali kasus ini. Kalau seandainya kita mau mengali kembali tentang kasus ini pastilah akan terbongkar banyak hal yang ada hubungannya dengan kasus tersebut.  Tapi sudahlah diskusi kali ini bukanlah tujuan untuk membongkar fakta tentang kasus tersebut. Paling tidak ini hanya merupakan salah satu gambaran saja. Sekarang pastilah kita bersama-sama merenungkan apa yang menjadi dasar pemikiran kita bersama untuk mengkounter kasus ini. Atau setidak-tidaknya kita mulai masuk pada salah satu kesadaran seandainya kasus serupa itu muncul lagi.
Maka pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa berbicara tentang strategi politik setidak-tidaknya kita mau memahami betul inti persoalannya adalah  memainkan strategi sejauh mungkin. Karena di negeri ini keadaan atau suasananya selalu tidak damai dengan kita untuk bicara soal poltik. Anjing kentut saja sudah kena subversi maka kita harus hati-hati untuk bicara soal.  Tapi saya kira yang mendorong atau memaksa kita untuk bicara politik setidak-tidaknya ada sebuah kebutuhan yang mendesak. Atau katakanlah karena sebuah situasi yang memaksa kita untuk bertindak maka mau tidak mau harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri.  Dalam tahap demikian siapa pun saya kira kalau melakukan sebuah tindak politik untuk menyelamatkan diri demi masa depannya atau demi masyarakat banyak menurut saya perlu untuk melakukannya. 

Analisa Fakta
Mungkin kita yang ada disini bagian dari analisa saya berikut ini. Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa; Program Tenaga Kerja yang diprakarsai oleh Yayasan Tiara Indonesia dan Depnaker menurut saya bukanlah tujuan utama untuk memberi lapangan kerja kepada pemuda Timor Timur pada umumnya. Yang menjadi utama dari agenda tersembunyi dibalik program tenaga kerja ini adalah bagaimana caranya pemerintah mempunyai suatu rencana untuk mengeluarkan pemuda Timor Timur sebanyak mungkin ke luar Timor Timur.  Tahun 1990-an ada desas-desus bahwa parlamen Eropa akan datang ke Timor Timur untuk melihat kondisi masalah hak asasi di Timor Timur. Maka untuk menghindari dari kunjungan parlamen ini pemerintah mempunyai rencana besar untuk mengeluarkan pemuda Timor Timur sebanyak mungkin di Timor Timur. Saya tidak tahu persis kenapa terjebak dengan rencana ini. Yang jelas ada tawaran-tawaran yang cukup menggembirakan sebelum kita berangkat ke luar Timor Timur untuk mengikuti program ini.  
Pada contoh kasus diatas maka setidak-tidaknya kita melihat secara obyekti bahwa biarkanlah kita yang  menjadi korban dari rencana ini tetapi saya tidak ingin saudara saya atau teman ikut korban dengan rencana ini. Hal itu untuk menyakinkan teman atau saudara agar tidak terjebak lagi dengan rencana ini tugas kita adalah memberi informasi sebanyak-banyaknya kepada mereka yang masih disana.  Atau mengadakan preser-preser atau perlawanan-perlawanan agar masyarakat di sana tahu betul tentang kehidupan kita disini. Ini juga bagi dari strategi politik. Kalau kita sudah melakukan ini berarti secara tidak langsung kita telah membantu orang lain demi sebuah agenda yang tersembunyi. Namun sekali lagi kita harus  hati-hati mengadakan preser atau perlawanan-perlawanan. Ya, saya kira banyak sekali contoh kasus lebih-lebih yang berkenaan dengan kita sendiri itu banyak sekali.  Tergantung situasi pada saat mana kita harus bertahan, pada saat mana kita harus melawan, pada saat mana kita harus mundur. Semua itu tergantung situasi. Dalam tahapan-tahapan itu sangat dekat dengan situasi kita, maka sekali lagi gunakanlah akal sehat untuk mengadakan strategi kita demi masa kita sendiri.
                                                                               Jakarta, 25 Maret 1998
Helio Freitas

No comments: