Friday, October 12, 2012

PERTANIAN KITA, DAN PERMASALAHANNYA


Artikel ini ditulis pada saat masih kuliah di Universitas Dili (UNDIL) pada mata kuliah tentang Pertanian.

Sejak awal tanah Timor ini, terbentuk mayoritas masyarakat hidup dari pertanian dan pemburuan. Petani kita pada masa nenek-moyang kita berpindah-pindah tempat dan tidak pernah menetap pada satu area tertentu. Kebanyakan petani pada masa lalu tanah garapannya bukan pada dataran rendah tetapi lebih pada dataran tinggi.

Dan pertanian pada masa lalu itu harus diakui bahwa pertanian tradisional yang belum mengenal apa itu produksi, dan kegunaan dari produksi itu untuk apa dan kelanjutannya. Ketika pada masa penjajah atau masa kolonial jaman Portugis misalnya para petani belum mengenal apa itu pasar. Lama-kelamaan penjajah Portugis itu tetap bertahan di Timor masyarakat mulai mengenal pasar. Tapi pasar yang mereka maksud adalah barter. Yaitu barang tukar dengan barang lain. Misalnya ubi tukar dengan kelapa atau kelapa tukar dengan kopi misalnya.
Periode selanjutnya tradisi barter mulai tergeser dengan adanya nilai mata uang escudo Portugis. Tetapi sebelum escudo Portugis dipakai di Tiimor terlebih dahulu mengunakan duit. Tidak jelas duit itu sendiri berasal dari negara mana belum ada penelitian lebih lanjut. Dari duit sebelum mengunakan escudo mereka mengunakan pataka. Barangkali pataka juga berasal dari Portugis. Setelah pataka baru mengunakan escudo Portugis hingga berakhirnya kekuasaan Portugis di Timor pada tahun 1975.

Kejayaan Portugis di Timor sebelum invasi Indonesia secara garis besar kemajuan pasar di Timor  cukup maju. Masyarakat mulai menghasilkan hasil pertanian dan dipasarkan kepada pasar lokal di Timor. Seperti kelapa, pinang, kopi dan lain sebagainya. Barangkali produksi pertanian yang bisa ekspansi ke pasar internasional adalah kopi dan kayu cendana lewat kapitalis kolonial Portugis waktu itu di Timor. Tapi jauh sebelum kapitalis Portugis menguasai produksi lokal di Timor pedagang dari jaringan Asia sudah terlebih dahulu menguasai produksi lokal di Timor. Seperti pedagang dari Timor Tengah, China dan Pakistan melalui Samudra Malaka. (Barangkali kita harus membuka kembali buku sejarah, tapi penulis belum bisa merumuskan data dengan baik).
Petani Tradisional Ke Petani Modern.

Sebenarnya dilihat dari sejarah perkembangan pertanian di Timor pada alinea ini penulis tidak ingin menyebutkan pertanian modern. Karena penulis belum menjelaskan petani tradisional menurut perkembangannya. Kalau tidak salah tafsir petani yang semula perpindah-pindah dari daerah yang satu ke daerah lain karena masyarakat sendiri secara sosiologis belum terorganisir. 

Barangkali petani yang menatap dan mengarap sebuah lahan secara terus menerus pada sebuah lokasi setiap tahun berarti secara struktur dan sosiologis sudah terbentuk. Barangkali pengaruh dari kekuasaan kaum kolonial yang mulai menguasai penguasa lokal. Seperti pimpinan atau lider lokal yang biasa dikenal dengan liurai atau dom atau raja-raja.

Ketika masyarakat sudah beradaptasi dengan lingkungan dan adaptasi dengan lider lokal dengan kroninya kapitalis Portugis masyarakat mulai dihadapkan pada pertanian modern. Tapi pertanian modern yang hanya membantu satu langkah dari pertanian aslinya. Yang saya maksud disinilah adalah barangkali para petani sudah bisa mengarap sawah dengan sapi atau hand tradctor (tractor tangan). Tapi bisa dihitung orang-orang yang waktu itu mengunakan  hand tractor atau tenaga sapi yang biasa dikenal dengan bajak.

Tapi hasil pertanian yang mengunakan hand tractor dan sapi hasilnya belum bisa dipasarkan ke luar Timor. Kecuali pasar lokal di Timor itu sendiri.

Petani Pada Masa Indonesia

Pada masa pendudukan Indonesia petani Indonesia tidak ada perbedaan dengan petani pada masa pemerintahan Portugis. Hanya saja pemerintah Indonesia memberi beasiswa kepada orang Timor sendiri untuk mengikuti pendidikan tentang pertanian di Indonesia maupun di negara lainnya. Produksi hasil pertanian pada masa Indonesia juga belum bisa meninggalkan cara dan kebiasaan pada masa lalu. Bahkan beberapa dekade ketika gencarnya militer Indonesia di Timor menguasai juga produksi lokal. Seperti koramil dan hansip atau bekerja sama dengan lider lokal untuk melarang masyarakat menjual hasil produksi ke daerah lain atau ketingkat ibu kota misalnya di Dili. Kalau tidak dijual kepada koramil atau hansip maka para petani tersebut diancam dan lain sebagainya. Sehingga masyarakat dengan terpaksa menjual kepada penguasa lokal dengan kroninya adalah militer.

Ketika para lulusan pertanian yang dicetak oleh perguruan tinggi diberbagai kota di Indonesia tidak dikembalikan ke desa masing-masing untuk mendidik para petani di desa. Tetapi justru mereka ditempatkan ditempat elit yang jauh dari basis pertanian. Maka tidak bisa mengadakan perubahan para petani di akar rumput yang dekat dengan produksi lokal. Tetapi dibelakang pemerintah dan kaum intelektual cetakan pemerintah Indonesia, militer Indonesia secara diam-diam menguasai produksi lokal seperti kopi, kayu cendana dan kayu jati. Para petani tetap tidak  mendapat peluang karena represi militer yang begitu kuat.
Petani Pada Masa Kemerdekaan.

Petani Timor menghadapi satu situasi yang sangat sulit. Karena infraintruktur hancur pada masa pasca refrendum tahun 1999. Sebuah etapa yang membebaskan rakyat dari sebuah situasi refresif. Tetapi petani kita justru jauh lebih refresif lagi karena hasil pertaniannya tidak bisa dipasarkan. Hanya saja situasi represif pada masa Indonesia jauh berbeda pada saat ini.

Fakta membuktikan bahwa mayoritas penduduk Timor Leste adalah petani, tetapi petani di Timor Leste tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri secara personal. Apalagi mau memenuhi kebutuhan negara. Persoalannya adalah terletak pada sumber daya manusia dan sumber daya alam yang belum di kelolah dengan sebuah menejemen yang profesional.

Sumber daya manusia sendiri, berbenturan dengan sistim pemerintah dan adat kebiasaan yang berlaku di negeri ini. Sistim pemerintah juga berbenturan dengan masalah financial dan kemampuan negara itu sendiri.

Beberapa Usulan Alternatif.

Pertama; menyiapkan lahan pertanian berdasarkan studi atau penelitian lapangan yang bisa menjamin kelanjutan produktivitas secara terus menerus.

Kedua; setelah lahan pertanian itu sudah disiapkan perlu menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan mengadakan perbandingan studi yang ada relasinya dengan ekologi di Timor Leste. Menjamin secara hukum bahwa tenaga trampil yang disiapkan harus bekerja pada bidangnya bukan bekerja pada bidang lain yang tidak ada hubungannya dengan skillnya. Misalnya seorang sarjana pertanian bekerja pada bidang lain seperti kasir dibank dan lain sebagainya.

Ketiga; setelah point pertama dan point kedua tersedia harus ada konsep yang jelas tentang produktivitas pertanian. Misalnya, pertama hasil produksi pertanian pertama-tama targetnya adalah memenuhi kebutuhan petani dan negara. Kedua kemana produksi hasil pertanian itu bisa mengadakan ekspansi dengan negara lain. Kalau misalnya Indonesia yang biasa menghasilkan buah apel, rambutan, salak dan lainnya sudah biasa ekspansi dengan negara lain, kita jangan coba-coba bersaing dengan Indonesia dalam buah apel dan jenisnya diatas.

Keempat; harus ada will politic yang baik dari pemerintah dibidang diplomasi yang bisa mendukung hasil pertanian di Timor Leste. Tentu saja harus ada politik diplomasi yang ada relasinya dengan produksi dalam negeri dengan negara lain yang bisa diajak kerja sama.

Kelima; harus ada politik pemerintah yang bisa menjamin produksi dalam negeri. Dan mengadakan proteksi terhadap barang import yang defakto di Timor Leste sendiri menghasilkan barang tersebut. Seperti sayur-mayur yang saat ini dijual di supermarket yang nota bene di Timor Leste sendiri ada. Hanya saja mutu belum bisa bersaing dengan produksi luar negeri.

Dili, 16 Maret 2004

Helio Freitas
Mahasiswa Universitas Dili
Fakultas Humaniora
Jurusan  Politik Pembangunan

No comments: