Thursday, August 23, 2012

Manajemen Gerakan Rakyat Antara Krisis Ekonomi & Krisis Kepemimpinan



 Artikel ini ditulis pada bulan Agusto 1998 di Jakarta, sebagai bagian dari refleksi pribadi tentang perkembangan sosial politik di Indonesia. Dan bagaimana perkembangan sosial politik di Indonesia itu dikait dengan persoalan Timor-Timur yang waktu itu bagian dari propinsi Indonesia dari segi hak asasi manusia, dipostkan ke blog pada tanggal 23 Agosto 2012.

Mengapa rakyat harus mengadakan sebuah gerakan? Diskurs tentang gerakan rakyat tentu saja ada sebab akibatnya. Untuk menjelaskan tentang bagaimana rakyat mengadakan sebuah gerakan setidak-tidaknya harus melihat secara jernih apa kebutuhan atau urgensi dari masyarakat yang ingin mengadakan sebuah gerakan. Untuk menjawab urgensi masyarakat manajemen hanyalah sebuah ‘jembatan’.  Bukan untuk menyelesaikan kebutuhan yang mendesak di masyarakat itu. Maka yang menentukan adalah proses waktu yang bergulir.

Kemiskinan adalah sesuatu yang biasa bagi masyarakat dimana dan kapan saja kemiskinan itu bisa terjadi. Tetapi sengaja untuk memiskinkan masyarakat adalah sebuah tatanan sistim yang tidak fair terhadap masyarakat. Kemiskinan karena sistim dan kekuasaan adalah sesuatu yang harus dilawan dan mencari solusi untuk melepaskan masyarakat dari kemiskinan itu. Itulah gagasan disekitar lahirnya sebuah manajemen gerakan rakyat.

Konsep dari pada manajemen gerakan rakyat saya kira adalah sesuatu teori yang sampai sekarang belum ada satu ahlipun menulis tentang gerakan manajemen ini. Ide dasar untuk melahirkan sebuah manajemen gerakan rakyat dari pengalaman sendiri sebagai orang yang selalu kalah, orang selalu lemah, sebagai orang selalu frustasi melihat segala macam ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Bertitik tolak pada pengalaman sebagai rakyat biasa dan sebagai pemuda yang selalu kalah dan selalu terjebak dengan segala macam propaganda maka saya ingin mengungkapkan pengalaman ini sebagai sebuah bahan refleksi sekaligus menyusun sebuah konsep untuk melawan atau keluar dari kekalahan selama ini.

Sebagai bagian dari sebuah bangsa yang selalu kalah lalu bergabung dengan sebuah bangsa yang telah menyelesaikan dan menyentukan haknya bagi saya sama saja. Saya belum melihat ada tanda-tanda untuk menghilangkan nilai kemiskinan oleh sebuah negara yang telah merdeka selama ini. Di mana suatu negara dikatakan makmur disitulah terjadi banyak sekali kemiskinan.

Tahun 1997 yang baru saja berlalu ini merupakan sebuah tahun yang meninggalkan banyak catatan. Di mana Indoneseia secara internasional menerima penghargaan dari UNDP sebagai sebuah negara berkembang telah mengurangi kemiskinan maka tinggal selangkah lagi kemiskinan di Indonesia itu akan di tuntaskan. Di saat bangsa Indonesia sedang diujung tanduk tentang pengurangan kemiskinan di saat itulah bangsa Indonesia mengemis kepada negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Daruslam. Begitu juga bantuan dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat lewat dana IMF dan Bank Dunia.

Itulah kemiskinan menurut konteks pemerintah lewat media massa. Apa hubungannya dengan manajemen gerakan rakyat. Tentu saja ada hubungan karena di mana ada negara disitu ada banyak rakyat yang bervariasi hidupnya. Lewat dinamika hidup rakyat yang beraneka ragam inilah terdapat banyak sekali kesenjangan-kesenjangan sosial yang kita temukan di masyarakat. Yang menarik dari tulisan ini ingin fokuskan pada realitas masyarakat yang lemah dan selalu kalah dan suara mereka tidak terdengar lagi oleh kekuatan hukum dan kekuatan sosial politik yang ada selama ini.

Untuk keluar dari kekalahan selama ini paling tidak harus mempunyai konsep yang jelas. Pertama; masyarakat disejajarkan dengan sebuah pandangan yang sama dan mempunyai kebutuhan urgent yang sama. Sehingga lokalisasi issue dapat terfokus kepada masyarakat yang bersangkutan. Kedua; membuat satu kondisi yang sama tentang komitmen mereka untuk berjuang demi kepentingan mereka sendiri. Ketiga; mengadakan restrukturisasi terhadap tantanan politik selama ini. Baik itu kekuatan birokrasi maupun kekuatan ekonomi yang selama ini menimbulkan kesenjangan dikalangan masyarakat sendiri. Tentu sedikit mungkin akan melahirkan adanya semi revolusi sosial.

Untuk mencari format yang disebutkan diatas setidak-tidaknya perlu mencari sebuah mekanisme yang konseptual. Paling tidak konsep tentang bagaimana mekanisme manajemen itu mengerakkan masyarakat, maka harus melihat urgensi dari kebutuhan masyarakat itu sendiri. Di mana masyarakat di sejajarkan dengan paham ideologi yang sama begitu juga tentang sebuah pandangan yang sama dalam sebuah negara.

Pada intinya bagaimana sebuah urgensi dari kebutuhan masyarakat itu tidak dipandang sebagai sebuah mekanistik yang biasa. Setidak-tidaknya justru karena sebuah urgensi dari masyarakat maka inti persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat merupakan sebuah target yang perlu dipastikan. Untuk memastikan urgensi masyarakat itu perlu melalui tahapan-tahapan program yang terstruktur. Dalam proses seperti itu paling tidak sudah saatnya masyarakat diiukutsertakan untuk mengambil keputusan bersama.  

Pada fase ini akan terlihat berbagai tarikan. Maka akan terlihat dengan jernih siapa yang lebih dominan untuk mengambil keputusan. Maka akan terlihat pula konsistensi pertarungan antara negara dan masyarakat. Siapa yang bijaksana, siapa yang menjadi wasit, siapa yang menjadi hakim garis dan lain sebagainya. Pada tahapan-tahapan ini seandainya tidak melalui pandangan yang sama, maka akan terjadi dua pilihan yaitu; negara akan berjalan dengan birokrasinya dan masyarakat berjalan dengan keadaannya sendiri. Dan tentu saja tidak akan menemukan titik persamaan pada satu pandangan yang sama tentang tujuan negara yang demokratis.

Pertarungan antara elit negera dan masyarakat akan melahirkan sebuah komprotasi, maka untuk menyelamatkan masyarakat dari krisis kepercayaan setidak-tidaknya mempersiapkan sebuah konsep untuk menyakinkan masyarakat pada sebuah pandangan yang sama. Pada tahap ini mengadakan banyak hal untuk konsolidasi terhadap masyarakat yang dalam masa transisi. Biasanya lewat media, sosialisasi isu untuk mengarahkan masyarakat pada satu tujuan yang sama. Mungkin pada moment sekarang adalah apa yang menjadi urgen masyarakat. Misalnya lapangan kerja. Masalah pendidilkan, sanitasi, dan lebih khusus masalah kebutuhan masyarakat sembilan bahan pokok atau kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Dari semua tahapan-tahapan yang dilalui seaindainya belum bisa menyelesaikan masalah maka sebagai sebuah konsensus untuk menyadarkan masalah secara keseluruhan di tengah-tengah masyarakat anggap saja sebagai sebuah evolusi yang berdimensi pluralisme. Biarkanlah pluralisme ditengah-tengah masyarakat itu menjadi bagian dari kekayaan suatu bangsa yang perlu dipelihara bersama. Yang penting adalah konsensus dari perbedaan itu harus mengambil jalan tengah secara cepat dan cermat. Apalagi dalam momentu masa transisi yang sedang berlangsung mencari format peminpin masa depan menurut versus rakyat.


Jakarta, 10 Agustus 1998
Helio Freitas

No comments: