Thursday, July 14, 2011

In Memoria Madame Ade Rostina Sitompul (12-12-1938 – 8-7-2011)

Oleh: Helio Freitas

Tulisan ini tidak mengulang tentang kegiatan ibu seperti yang beredar di media maya saat ini. Namun tulisan ini semata-mata saya buat tentang kegiatan kecil yang pernah saya lakukan bersama ibu Ade pada masa lalu sebagai bagian dari refleksi dan duka-cita dan hormat saya terhadap sosok seorang Madam Ade Rostina. Keterlibatan dalam Pekerjaan Kemanusiaan dan Perjuangan Pembebasan Hak Asasi Manusia itu seringkali menjadi ancaman bagi dirinya maupun pada orang-orang yang dekat dengan beliau pada masa regim Suharto. Beliau meninggal dunia pada hari Jumat, 8 Juli 2011 yang lalu di RSCM, Jakarta.

Secara pribadi saya tidak mengenal ibu Ade secara langsung. Sebelum bertemu dengan ibu Ade saya sudah mendengar namanya dari teman-teman aktivis Indonesia ketika saya bekerja pada Institut Sosial Jakarta pada awal tahun 1993. Pada suatu hari sekitar tahun 1994 ibu Ade menelpon saya, ditelpon ibu mengatakan kepada saya, kamu bisa datang ke kantor saya? Saya jawab kantor ibu di mana alamatnya. Ibu menyebutkan bahwa kantor saya disebelah rumah Sakit Sint Carolos Salemba, Jakarta Pusat. Lima menit setelah pembicaraan di telpon itu saya segera pamit pada teman-teman untuk pergi ke kantor Ibu Ade di Salemba.

Dari pertemuan itu untuk pertama kalinya saya bertemu secara langsung dengan beliau. Ketika saya ketemu sama ibu Ade, ibu tidak bicara banyak dan bertanya tentang latar belakang saya dan sebagainya. Langsung pada intinya persoalannya. Ibu mengatakan kepada saya bahwa “kamu bisa ngak mencari lima (5) orang pemuda Timor-Timur yang sudah berizasah SMA untuk sekolah di Macao”. Saya tanya bagaimana dengan biaya dan akomodasi selama disana. Ibu bilang kita ada link di luar negeri yang akan mengurus semuanya selama mereka mengikuti pendidikan disana. Kurang lebih tiga puluh menit saya berada dikantor ibu saya langung minta pamit untuk pergi. Sebelum pamit saya sempat mendapatkan sebuah foto copy buku dari Tigor Naipospos, aktivis dari Pijar yang waktu itu ada di kantor ibu Ade. Saya keluar dari kantor ibu Ade langsung ke Pasar Kamis, Tangerang untuk bertemu dengan teman-teman yang bekerja di pabrik IKAD anak perusahaan Kedaung Group milik keluarga Suharto. Saya tawarkan kepada teman-teman tentang pembicaraan saya dengan ibu Ade kepada mereka. Saya tidak menyebutkan nama ibu Ade kepada mereka. Setelah pertemuan itu saya tidak ketemu lagi sama ibu Ade namun kami tetap kontak lewat telepon, meskipun tawaran sekolah ke Macao itu tidak ada kelanjutannya.

Tahun1995 saya dengan seorang teman, kami sama-sama bekerja di Institut Sosial Jakarta ke Dili dengan mengunakan kapal laut (Dobonsolo) dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kurang lebih dua hari di Dili saya ketemu dengan ibu Ade dan mbak Agung Putri di depan Hotel Resende. Ketika saya mendekat ibu Ade untuk menyampa ibu, ibu langsung bilang ke saya “kamu jangan dekat-dekat disini banyak lalat”. Saya mengerti maksud ibu dan saya berdiri jaraknya sekitar 3 meter untuk bicara dengan ibu Ade dan mbak Agung Putri. Itupun tidak berlangsung lama. Karena keberadaan ibu di Dili diawasi oleh intel dan kaki tangan militer Indonesia waktu itu.

Sekembali dari Dili ke Jakarta kami tetap mengunakan kapal Dobonsolo. Ditengah perjalanan teman saya mengatakan kepada saya “Leo kayanya perjuangan kalian akan cuma-cuma dan tidak akan mencapai kemerdekaan”. Saya tanya kenapa? Dia bilang “saya bertemu dengan anak-anak kecil baik di Dili dan tempat lain yang saya kunjungi rata-rata usia mereka dibawah 10 tahun kebawah semua mengunakan bahasa Indonesia”. Saya bilang soal bahasa itu tidak menjadi ukuran. Nanti kamu lihat saja. Kami tidak berdebat disitu karena situasi tidak aman untuk bicara masalah politik di dalam kapal pada waktu itu.

Ketika arus peminta suaka politik pada beberapa kedutaan besar di Jakarta saya memulai pendekatan dengan ibu Ade secara intensif. Saya dibantu oleh jaringan Gereja dan salah seorang teman sekarang tinggal di Inggris Celso Oliveira kami berdua menerima beberapa kelompok teman-teman dari Dili yang merasa dirinya terancaman ke Jakarta untuk minta suaka politik. Saya dengan Celso dibantu oleh Frater Venancio dari Yesuit kini pastor menerima mereka untuk ditempatkan pada beberapa tempat berbeda di Jakarta, Tangerang dan Bekasi sebelum teman-teman melanjutkan misi Suaka Politik.

Dari misi suaka politik itu saya sangat intensif kontak dengan ibu Ade untuk membantu teman-teman terutama masalah logistik dan akomodasi. Ketika itu ibu Ade berkantor di Joint Comite untuk advokasi kasus Timor-Timur yang berkantor dikantor Elsam di Kampung Melayu. Selain bantuan dari Ibu Ade saya juga mendapat bantuan dari Institut Sosial Jakarta, Komunitas Susteran CB yang memberi rumah di Tangerang, Jonhnson Panjaitan pengacara Xanana Gusmao juga memberi rumah di Jalan Bunga, Matraman dekat dengan Perwakilan Timor-Timur di Kebun Pala, Jatinegara, Jakarta Timur, sebuah rumah di daerah Jakarta Utara milik Yayasan Estrada yang dikelolah oleh Komunitas Yesuit dan beberapa rumah pribadi lainnya di daerah Bekasi.

Misi Suaka Politik itu melibatkan banyak jaringan di Indonesia. Terutama ibu Ade secara pribadi yang selalu siap dengan akomodasi dan Suster Bernadeth yang bekerja pada Justice in Peace di KWI di Jakarta. Saya merasa bersyukur bahwa selama melakukan misi Suaka Politik itu tidak terjadi apa-apa bahkan sampai pada jaringan Ibu Ade dan teman-temannya. Meskipun ada tekanan, dan kita merasa gemetar bahkan ketakutan pada saat-saat sulit namun kita bisa menghindari. Dengan menghindari dari tekanan dan ketakutan itu secara tidak langsung kita telah melindungi orang-orang penting untuk membantu kita pada masa sulit selanjutnya. Salah satunya adalah Ibu Ade dengan jaringannya.

Kaitan dengan Bom Demak dan Tanah Tinggi, Jakarta

Setelah meledaknya Bom di Demak, Jawa Tengah, Avelino Coelho sekarang Sekretaris Negara Urusan Politik Energi pada Pemerintah AMP sekarang, dia meloloskan diri meminta perlindungan pada Kedutaan Besar Austria di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Sementara teman-teman lainnya yang tidak tertangkap aparat seperti Laurindo dan Bosco menjadi target operasi militer pada waktu itu. Kaitan dengan kasus itu ibu Ade menelpon saya untuk membantu ibu bagaimana caranya mereka bisa ditempatkan ditempat aman. Ibu bertanya kepada saya kamu bisa mencarikan tempat untuk teman-teman yang jadi target operasi militer? Saya bilang saya siap untuk bantu. Itu pertemuan pertama saya dengan ibu untuk kasus bom Demak. Pertemuan kedua dengan Ibu Ade untuk bicara secara detail tentang evakuasi terhadap mereka terutama Laurindo dan Bosco yang menjadi target pada waktu itu. Ketika saya datang ke rumah ibu Ade di Matraman, Jakarta Pusat baru mau duduk di kursi di ruang tengah rumah Ibu Ade, tiba-tiba ada telepon yang diterima oleh anaknya kalau tidak mbak Ezki. Ibu langsung berdiri dan keluar dari ruang tengah ke salah satu ruang keluarga di luar. Lima menit kemudian ibu Ade kembali dan bicara ke telinga saya pelan sekali. Ibu mengatakan bahwa ada Andi Arif, PRD sekarang ada di sini. Dia luka dan berdarah. Saya tanya kenapa, ibu mengatakan baru saja bom meledak ditempat mereka di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat dan dia mengalami luka dan berdarah. Ibu bilang ke saya kamu bisa bantu dia keluar dari rumah saya. Saya bilang bisa bu. Tidak lama kemudian mobilnya Romo Sandyawan Sumardi, SJ, Direktur Institut Sosial Jakarta ke rumah ibu Ade. Saya dengan sopirnya, Romo Sandyawan segera mengangkut Andi Arif dari rumah ibu Ade.

Ketika kami bertiga keluar dari rumah ibu Ade kami tidak tahu tujuannya kemana tidak jelas. Di tengah perjalanan kami bertiga diam dan tidak bicara apa-apa. Saya hanya memberi kode kepada Sabeni (sopir) bahwa kekira atau ke kanan dan kemudian masuk-keluar jalan tol di daerah Bypass itu beberapa kali dan kami keluar kearah terminal Rawamangun, Jakarta-Timur. Sebelum keluar dari jalan tol Andi Arif sempat melepaskan bajunya yang penuh darah itu dilemparkan dari jendela mobil ke jalan tol semata-mata untuk menghilangkan jejak. Diterminal Rawamangun Andi Arif sempat keluar dari mobil untuk telepon. Pada waktu dia telepon saya merasa gemetar dan ketakutan luar biasa. Sulit untuk menceritakan rasa ketakutan saya pada waktu itu. Karena Andi Arif pada waktu itu sebagai buronan militer pada kasus 27 Juli 1996 di Kantor PDI di jalan Ponegoro, Jakarta Pusat setahun yang lalu, sekarang ditambah lagi kasus bom saya tidak bisa membayangkan apa yang sesungguhnya terjadi seandainya kami tertangkap pada waktu itu. Sedikit penjelasan tentang Andi Arif adalah aktivis dari Partai Rakyat Demokrat (PRD) bersama dengan Budiman Sujatmiko kini anggota DPR dari Fraksi PDIP dan Andi Arif sekarang sebagai juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Indonesia.

Selesai telepon kami bertiga ke Wisma Yesuit di Rawasari sebelah Kampus STF Driyarkara, Jakarta Pusat. Disitulah Andi Arif dirawat dan keesokannya harinya Andi Arif menghilang kemana saya juga tidak berusaha untuk mengetahuinya dan bahkan melupakan. Dan saya ketemu kembali dengan Andi Arif setelah regim Suharto runtuh di Selamba. Saya tidak menulis pembicaraan saya dengan Andi Arif pada waktu itu disini.

Begitulah salah satu kegiatan kecil yang saya lakukan bersama ibu Ade secara nyata pada waktu itu. Pada era reformasi saya melihat ibu Ade banyak membantu gerakan kita tentang masalah logistik seperti pada demonstransi 12 Juli 1998 di Kantor Ali Alatas, Jakarta Pusat secara intensif sampai pada akhir 1999. Apa yang ibu lakukan telah menyalamatkan teman-teman resistensi yang sekarang menjadi orang penting di negeri ini namun “mungkin” ibu kecewa bahwa orang-orang penting saat ini telah mengkhianati perjuangan kemanusiaan sesungguhnya dengan membebaskan penjahat kemanusiaan dan tidak memberi keadilan kepada korban di Timor-Leste dan juga di Indonesia.

Lewat jasa ibu Ade banyak teman-teman aktivis dari Indonesia lebih dekat pada situasi di Timor-Leste seperti Hilmar Farid (Fay), mbak Agung Putri, Mas Nugroho Katjasungka, mbak Titi Supardi yang kini menetap di Timor-Leste dan beberapa aktivis lainnya dari Indonesia. Ibu Ade juga punya jasa besar untuk membantu Yayasan Hak dan Fokupers pada masa sulit pada era militerisasi Indonesia di Timor-Leste.

Hanya dengan menulis pengalaman kecil ini sebagai bagian dari duka cita saya terhadap Madam dan saya merasa bahwa banyak kenangan dari teman lain yang lebih mumpuni dari tulisan ini. Akhir kata saya ucapkan Selamat Jalan dan Selamat Isterihat ibu!!!


Warga Negara Timor-Leste tinggal di Dili
Pernah bekerja pada Institut Sosial Jakarta 1993-1999
Email:heliofreitas_2000@yahoo.com
Tulisan ini dimuat pada Timor Post, 14 Juli 2011

No comments: