Thursday, October 29, 2009

Salah Satu Kendala Pemerintah Menghancurkan Kesatuan

Tulisan ini dibuat pada bulan Desember 1993 di Jakarta atas refleksi terhadap kasus Timor-Timur kini Timor-Leste ada beberapa hal yang diuraikan dalam artikel ini. Dan dipostkan ke blog ini pada tanggal 29 Oktober 2009.

Salah satu tragedi yang sering mengadakan unjuk rasa di Timor Timur terdiri dari kaum muda yang rata-rata adalah para lulusan SLTP, SLTA, putus sekolah dan Mahasiswa. Demonstrasi di Timor Timur pertama kali terjadi ketika kedatangan Sri Paus Yohanes Paulus II ke Timor Timur bulan Oktober 1989. Pada mulanya kaum muda Timor Timur sepertinya telah lahir kembali dari salah satu sistim yang sangat menghalangi kebebasan dan jalan mereka.
Kedatangan Sri Paus Yohannes Paulus II ke Timor Timur membawa visi kesatuan dan kekuatan bagi joven’s Timor Timur. Sebelumnya, visi joven’s sangat sempit dan diapi-apit. Terutama karena mereka sendiri tidak mengenal citra diri sebenarnya sebagai joven’s penerus tanah air sendiri. Pada mulanya langkah mereka tidak seirama dengan arus perkembangan mereka itu sendiri. Masing-masing hanya mencari dan mengejar kepuasaan dan perkembangan diri sendiri.
Kedatangan Sri Paus Yohanes Paulus II ke Timor Timur membangkitkan ikatan persaudaraan dalam masyarakat. Hal ini merupakan berkat yang paling berharga bagi masyarakat Timor Timur. Bagi kaum muda, hal ini merupakan suatu fenomena yang tepat untuk lebih mengenal citra diri sendiri lebih mendalam. Sebelumnya kaum muda sendiri acuh tak acuh terhadap perkembangan situasi di dalam istilah pergaulan mereka sendiri. Hal ini mengakibatkan sempitnya wawasan kaum muda di dalam perkembangan arus situasi itu sendiri. Realitas tumbuhnya kesadaran kaum muda dapat dilihat dengan adanya demonstrasi pada pertengahan Ekaristi yang sedang berlangsung di Tasi-Tolu Dili Barat pada tanggal 12 Oktober 1989 yang dipimpim langsung oleh Sri Paus Yohannes Paulus II dan dibantu oleh Uskup Belo dan beberapa pastor lainnya. Demonstrasi ini disaksikan oleh Sri Paus, Presiden Soeharto dan beberapa Mentri Kabinet V lainnya serta ribuan masyarakat Timor Timur yang hadir pada waktu menyambut kedatangan Sri Paus.
Peristiwa di atas menjadi awal lahirnya kebangkitan kaum muda untuk semakin mengenal citra dirinya dan semakin bersatu. Tetapi, dimana satu dua orang berkumpul untuk melakukan kegiatan mereka selalu diawasi dan dikejar-kejar oleh aparat keamanan. Pemantauan dan pengawasan terus menerus oleh pemerintah dan aparat keamanan mempersempit dan menghalangi kebebasan kaum muda untuk melakukan suatu kegiatan atau reaksi. Walaupun pengawasan terhadap gerak-gerik mereka, semakin ketat, namun pada tanggal 28 April 1990 berlangsung aksi demonstrasi di depan Hotel Dili. Dari aksi demonstrasi itu terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan para demonstran. Sehingga banyak yang ditahan di Kodim, kemudian diinterogasi. Dan akhirnya massa demonstran meminta perlindungan pada Uskup Belo sebagai satu-satunya benteng perlindungan bagi kaum muda. Pada tanggal 28 April 1990 massa demonstran cepat dikendalikan oleh aparat keamanan. Akhirnya mereka diberi kesempatan untuk melakukan demostrasi pada 29 - 30 April 1990. Selama demonstrasi itu, pihak Pemerintah dan Aparat Keamanan ikut terlibat di dalamnya, sambil meneliti langkah dan arah para domonstran.

PEMERINTAH MENYUSUN STRATEGI
DAN MEMBAGI KEKUATAN

Semangat kaum muda semakin berkobar sehingga tidak bisa dikendalikan oleh pihak Pemerintah dan Aparat Keamanan. Dengan semakin kokohnya di kalangan kaum muda, kemudian pemerintah menyusun suatu langkah halus untuk mengendalikan kekuatan kaum muda di Timor Timur. Hal ini nampak jelas dengan kedatangan Siti Hardiyanti Rukmana pada tanggal 27 Desember 1990 di Gedung RRI Kaikoli Dili Timor Timur. Maksud kedatangan Siti Hardiyanti ke Timor Timur ini merupakan salah satu strategi propaganda untuk merayu kaum muda Timor Timur.
Propaganda yang dilontarkan oleh Siti Hardiyati Rukmana kepada kaum muda Timor Timur, merupakan suatu impian yang membawa kehancuran. Dalam acara tatap muka kurang lebih 100 orang kaum muda Timor Timur, Siti Hardiyanti Rukmana pertama-tama menyampaikan salam hangat dari bapaknya yaitu presiden Soeharto. Kemudian dilanjutkan dengan propagandanya bahwa ia menyatakan, akan membawa adik-adik ini untuk ditempatkan di Pulau Batam, dengan tujuan untuk dipekerjakan dan mendapat upah semaksimal mungkin agar dapat membantu orang tua dan adik-adiknya di Timor Timur, di samping itu mereka bisa melanjutkan sekolah atau mengikuti kursus yang lain sesuai dengan bakat masing-masing.

KEKUATAN DAN KESATUAN
DIHANCURKAN OLEH IMPIAN BATAM

Suatu pertemuan yang hanya memakan waktu kurang lebih selama dua jam itu dapat menggoyangkan pola pikir diantara kaum muda itu sendiri. Dari situlah timbul arus perubahan pendirian kaum muda yang mendorong mereka untuk menimba pengalaman di Batam. Dan dengan bekal pengalaman itu mereka berharap dapat memanfaatkannya untuk masa depan Timor Timur lebih-lebih untuk memperbaiki status ekonomi keluarga yang lebih baik. Akibatnya timbul kesenjangan diantara kaum muda sendiri sehingga didalam pergaulan mereka saling mencurigai.
Propaganda yang disampaikan oleh Siti Hardiyanti itu sangat meyakinkan, sehingga banyak sekali kaum muda yang harus meninggalkan bangku sekolah. Mereka yakin dan percaya bahwa di Batam nanti mereka dapat melanjutkan sekolah sambil bekerja sesuai dengan janji Siti Hardiyanti Rukmana.
Tawaran yang disampaikan Siti Hardiyanti Rukmana ini bekerja sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Timor Timur. Kepada KNPI Timor Timur ini kaum muda mengkonsultasikan segala kesulitan dan kebingungan mereka. Sehingga dengan mudah KNPI berubah profesi menjadi salah satu bursa tenaga kerja pada saat itu. Sebab KNPI merupakan salah satu wadah untuk menghimpun generasi muda. Maka langkah ini diprakarsai oleh pemerintah pusat atau Yayasan Tiara Indonesia dan dijadikan sebagai salah satu jaringan bisnis untuk menjual kaum muda Timor Timur ke luar daerah.
Sehingga dalam waktu yang cukup singkat KNPI dapat menghimpum kaum muda kurang lebih antara 900 sampai dengan 1000 orang pemuda. KNPI mendata kaum muda secara pergelombang yaitu gelombang pertama sebanyak 172 orang. Yang dikirim pada tanggal 27 Maret 1991, waktu itu di lepas oleh Gubernur Timor Timur Ir. Mario Viegas Carrascalao dan Uskup Belo melalui KNPI atau Yayasan Tiara Indonesia (Siti Hardiyanti Rukmana) sendiri. Dan disaksikan oleh sejumlah pejabat lainnya para orang tua dan sahabat karib mereka.
Pelepasan 172 pemuda ini membuat kota Dili cukup terkesan dan nilai tersendiri bagi para orang tua dan sanak saudara di Timor Timur, sebab orang tua percaya dan yakin bahwa anak-anaknya suatu saat akan bermanfaat bagi keluarga mereka. Dan ini merupakan misi pertama kalinya kaum muda di lepas oleh orang tua untuk mengadu nasib guna memperbaiki status ekonomi keluarga. Hal ini jelas bahwa kekompakkan kaum Muda nampaknya mulai melemehkan, langkah ini dimamfaatkan oleh aparat untuk menyusun strategi-strategi selanjutnya.
Tiba di Jakarta tengah malam dan pada esokan harinya, kaum muda ini berharap bahwa akan membicarakan masalah diklat atau training. Sebab sebelumnya ke Jakarta mereka sempat di beri latihan oleh Aparat Militer, Depnaker dan Departemen Agama di Politeknik Dili selama 15 hari. Selama diklat itu, dari pihak panitia sempat mendata nama-nama untuk mengikuti kursus sesuai dengan pilihan diantaranya; eletronik, perkayuan dan gelas. Namun pagi itu mereka bertatap muka langsung dengan Yayasan Tiara Indonesia Pusat dan beberapa Pengusaha. Bukan membiracakan masalah kursus atau diklat untuk rencana ke Batam, tapi langsung dipersiapkan untuk dikirim ke Simangole pada sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang kayu dan meubel. Namun ada 16 orang yang tidak setuju dan akhirnya dibatalkan. Mereka menuntut bahwa kami datang ke sini mengikuti kursus sesuai dengan janji, setelah itu ditempatkan di pulau Batam. Dari sinilah membawa suatu kehancuran dan kekecewaan yang sangat memukul hati bagi kaum muda. Dari pihak Yayasan membantah dengan alasan bahwa mereka ini tidak ada skill dan pengalaman apa-apa untuk menuntut gaji yang lebih besar.
Dari sinilah terbaca tentang propaganda yang di lontarkan oleh Siti Hardiyanti Rukmana merupakan harapan bagi kaum Muda Timor Timur ini membawa suatu kehancuran, kekecewaan dan sangat menyesal dengan harapan Batam tadi. Dengan hati pedih dan amarah mereka menyesali dan merefleksi diri bahwa semua ini semata-mata untuk membunuh kita secara diam-diam dengan cara yang sangat halus.
Strategi dan propaganda ini di ketahui oleh media masa luar negeri, bahwa hal ini diprakasai oleh Siti Hardiyanti Rukmana. Sehingga masalah ini diangkat oleh Asia Watch (A Committee Of Human Rights Watch dan beberapa majalah dan Radio luar negeri seperti BBC dan Radio Australia. Secara politis dapat dianggap bahwa itu merupakan penculikan terhadap Kaum Muda Timor Timur guna untuk mengurangi keributan atau demonstrasi untuk menyambut Parlemen Portugal ke Timor Timur bulan November 1991.
Yayasan Tiara Indonesia atau keluarga “Cendana” mulai tersiar di Media Masa luar negeri mengenai masalah pengiriman tenaga kerja asal Timor Timur. Akhirnya membuat satu strategi dan gelombang-gelombang berikutnya diserakan kepada Depnaker. Secara diam-diam Yayasan Tiara Indonesia dan KNPI bekerja sama dengan Depnaker, maka sebagai gelombang pertama dari Depnaker di kerim pada tanggal 6 Juni 1991 sebanyak 300 orang. Tiba di Surabaya pada tanggal 11 Juni 1991 dan dibagi dalam tiga kelompok yaitu 60 orang ke Denpasar, 140 Surabaya dan 100 orang di Jakarta. Selama kurang lebih dua minggu lamanya gelombang ke II di kerim lagi oleh Depnaker pada tanggal 24 Juni 1991 sebanyak 350 orang.
Melihat waktu yang relatif singkat akan kedatangan Parlamen Portugal ke Timor Timur pada pertengahan bulan November 1991. Dengan arus yang sangat cepat dalam waktu kurang lebih 4 bulan dapat mengeluarkan kaum Muda Timor Timur kurang lebih 1000 orang. Secara politis menegaskan bahwa Timur terhadap Parleman Portugal. semua ini hanya semata-mata demi mengurangi kaum Muda untuk berdemonstrasi di Timor
MENJELANG INSIDEN 12 NOPEMBER
Mengingat waktu yang relatif singkat kunjungan Parleman Portugal ke Timor Timur pada tanggal 18 Nopember 1991 kaum Muda Timor Timur siap siaga baik fisik maupun spiritual. Didalam persiapan menunggu kedatangan Parlamen Portugal ini pada tanggal 28 Oktober 1991 terjadi kaum muda mengadakan persiapan aksi spritual di Gereja Motael Dili, hal ini dicium oleh aparat keamanan akhirnya terjadilah pembunuhan terhadap Sebastioan Gomez pada tanggal 28 Oktober 1991.
Kematian Sebastiao Gomez merupakan suatu reaksi yang sangat keras dikalangan kaum muda, sehingga membuat kaum muda terpaksa harus berbuat aksi terhadap pemerintah dan aparat. Sebab kaum muda merasa diri sudah terlalu dihina oleh pemerintah dan aparat dengan berbagai cara untuk menghancurkan kekuatan dan kesatuan di Timor Timur. Sebagai kaum muda yang selalu mempertahankan citra diri untuk melakukan tindakan terhadap pemerintah dan aparat untuk menunjukkan kepada dunia internasional, maka kematian Gomez diperingati sebagai salah satu wujud kepada dunia bahwa walaupun sebagian besar kaum muda terbawah arus oleh propaganda Siti Hardiyati Rukmana dan Depnaker. Tetapi dengan kelemahan yang sangat sedikit dapat menanamkan rasa solidaritas yang kuat dan harus menghadapi kenyataan apapun yang terjadi terhadap kaum muda ini, siap saja untuk menerima kenyataan.
Dimana terjadi peristiwa berdarah yang dikenal dengan Insiden Dili atau peristiwa Santa Cruz. Kejadian ini banyak sekali kaum muda atau masyarakat yang tidak tahu menahu tentang seluk beluk masalah Timor-Timur ini menjadi korban. Kejadian ini menimbulkan reaksi keras antara aparat dan pemerintah saling bentrokan yaitu oleh Bapak Gubernur Ir. Mario Viegas Carrascalao dan Jenderal Tri Sutrisno waktu itu sebagai panglima ABRI. Tri Sutrisno sendiri menyalahkan peristiwa ini adalah tanggung jawab Fretilin, sedangkan Carrascalao sendiri mengatakan bahwa ABRI harus bertanggungjawad atas insiden ini.
Kejadian ini sempat dikritik oleh PBB terhadap Bapak Antonio Freitas Parada yang waktu itu sedang berada di luar negeri dalam rangka tugas khusus. Antonio Parada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Tingkat I Propinsi Timor Timur. Dalam hal ini dari PBB menanyakan tentang peristiwa Santa Cruz kepada Parada, tetapi pak Parada sendiri tidak bisa berbicara apa-apa di depan PBB selain hanya diam saja.

Jakarta, December 4, 1993
Helio Freitas da Silva

No comments: