Thursday, October 29, 2009

Mahalnya Nilai Diplomasi


Artikel ini ditulis pada dua hari setelah ke kantor Menaker di Jakarta pada bulan Februari 1998 di Jakarta sebagai refleksi atas tindakan sewenang-wenang oleh aparat keamanan di Kantor Menakar , di post ke blogs, 29 Oktober 2009.

Kamis, 12 Februari 1998 di Jakarta; tujuh orang wakil buruh Timor Timur mendatangi kantor Menaker di jalan Gatot Subroto. Persis jam 10.00 pagi baru masuk halaman pekarangan kantor menaker pihak keamanan langsung menahan ke tujuh orang ini. Pada hal masuk ke halaman tersebut tidak membuat apa-apa. Ke-tujuh orang ini dikumpulkan di pos keamanan seperti layaknya seorang perampok yang sedang ditahan oleh pihak aparat. Kemudian ditanyakan mau kemana dari mana, perlu apa untuk apa dan mau ketemu siapa. Pertanyaan-pertanyaan memang sangat memanas. Karena ada beberapa orang lewat mengunakan kendaraan atau berjalan kaki sambil melihat ke arah pos di mana ketujuh orang itu ditahan. Sangat memalukan dan mengundang reaksi ketujuh orang itu untuk membuat onar di depan kantor menaker. Setelah terjadi proses tawar-menawar atau didiskusikan kepada pihak aparat tetap tidak diijinkan untuk masuk. Sehingga hanya dua orang saja yang bisa ke dalam dan diantar oleh seorang satpam. Ternyata ditengah-tengah perjalanan di halaman terbuka itu ditahan lagi oleh seorang intel yang mengaku pernah tugas di Timor Timur sebagai Nanggala. Dia bertanya lagi tahukan Nanggala atau RPKD. Lalu dua orang itu menjawab ia kami tahu.

Dan pertanyaan dia sama seperti pertanyaan di pos tadi. Kamu tinggal dimana kerja dimana alasan apa ke sini dan untuk apa itu terulang lagi. Kemudian terjadi perdebatan sengit dan akhirnya kedua orang ini lolos dan diantar oleh satpam tadi. Sampai di tempat penerangan (reseptionis) menyerahkan KTP dan mengisi formulir yang telah disediakan. Setelah itu juga sama saja pegawai Depnaker juga masih berlaga sama. Sambil bel ke atas yaitu ke tempat pak Lucas Prayitno. Dan tujuh orang Timor Timur ingin ketemu pak Lucas Prayitno. Agak lama berdebat di situ setelah dua orang tadi meminta kepada pihak Depnaker agar kelima kawannnya yang ditahan di pos Depnaker itu segera dipindahkan dari sana. Karena dua orang ini merasa mungkin mereka nanti di pos polisi itu akan diinterogasi macam-macam. Lebih baik mereka ditempatkan dulu pada suatu tempat. Setelah itu satpam Depnaker ke pos polisi dan membawa ke lima kawannya itu ke ruang penerangan lantai bawah. Dimana kedua kawannya sudah menunggu pada tempat pendaftaran tadi. Setelah itu ketujuh orang itu digiring ke pos satpam di sebelah kiri gedung atau sebelah barat gedung. Kiranya mau ditempatkan pada sebuah ruangan yang baik ternyata dibawah ke ruang satpam seperti misalnya di supermarket. Bagaikan orang mencuri dibawah ke pos satpam. Persis disekitar pos satpam itu banyak sekali pegawai depnaker dan begitu polisi dan aparat keamanan lainnya. Sangat memalukan sekali. Persoalannya setelah di dalam pos satpam itu banyak sekali dikelilingi oleh intel-intel baik yang berseragam maupun yang tidak berseragam. Seperti mereka telah berhasil menangkap pencuri. Itu sesuatu yang tidak terpuji sekali bagi orang Timor Timur. Setelah pihak depnaker memberitahu bahwa sebentar lagi pak Lucas Prayitno akan turun karena dia lagi ada tamu. Lalu timbul pertanyaan bahwa apakah seorang inspektor yang berpangkat kolonel mempunyai ruangan kerja di pos satpam atau karena kesengajaan. Pertanyaan lain inilah namanya pendidikan kekerasan itu seperti ini. Tahu sendirikan kalau orang Tim-Tim datang baik-baik lalu diterima dengan alat kekerasan seperti itu siapa sih mau menerima terus menerus seperti ini. Bahasa-bahasa inilah yang muncul dibenak mereka ketika sedang duduk di pos satpam itu. Kurang lebih satu jam baru pak Lucas Prayitno itu datang ke pos tersebut dan dikawal oleh beberapa ajudannya termasuk mereka yang menamakan dirinya sebagai pahlawan (bodyguard).

Ketika pak Lucas datang pertanyaan yang keluar dari mulutnya adalah kalian datang pasti ada masalah. Kalau tidak ada masalah pastilah kalian tidak akan datang pada saya. Setelah bersalam-salaman dan selanjutnya pak Lucas bilang ayo ke tempat saya saja. Tetapi kalian tidak membawa bom kan, semua ketawa. Tidak pak kami tidak membawa bom. Dan selanjutnya berangkatlah ke ruang pak Lucas lewat liff dan menuju lantai 5 gedung A.

Mulai Dialog

Untuk mulai masuk ke dialog berapa energi atau paling tidak secara psikologis menimbulkan suatu reaksi yang tentu saja mengganggu dialog ini, barang kali? Namun berkat Tuhan ketujuh orang ini masih mengendalikan emosional secara perlahan-lahan. Memang setelah mendapat suasana yang baik ternyata dialog dengan pak Lucas itu lancar-lancar saja dan ada suasana kekeluargaan yang terlihat disitu. Berbicara dengan pak Lucas ini benar-benar seorang yang mempunyai moral diplomatis yang tinggi. Sehingga apa yang dibicarakan kepadanya ditanggapi dengan bahasa-bahasa diplomatis.

Memang tujuan kesana itu untuk membicarakan tindak lanjut pertemuan dengan pak Lucas beberapa bulan lalu tentang soal pekerjaan. Dan waktu itu pak Lucas mengeluarkan sebuah rekomendasi kepada teman-teman buruh Timor Timur yang tinggal di Tangerang tentang masalah pekerjaan. Karena ada 6 orang buruh yang sampai saat ini masih menganggur dan tidak mempunyai kegiatan apa-apa. Soal inilah yang ingin disampaikan kepada pak Lucas. Dan pak Lucas menjawab ia memang saya mempunyai kontak dengan Jose Gusmao dan waktu itu dia datang ke tempat saya dan juga sering telpon ke saya. Maka saya bilang sama dia bahwa lebih baik sesudah lebaran baru kamu telpon lagi atau kamu datang kesini karena besok saya akan ke Timor Timur. Itulah tanggapan pak Lucas. Kemudian mulai merembet ke persoalan lain. Dan secara tidak sengaja dia memberi banyak informasi tentang seluruh pemuda Timor Timur yang mengikuti program tenaga kerja hingga saat ada 3000 orang dan tersebar di seluruh propinsi. Hanya enam propinsi di Indonesia yang tidak ada buruh Timor Timur. Berarti ada 19 propinsi di Indonesia. Dia juga mengakui banyak persoalan yang selama ini dihadapi oleh buruh Timor Timur misalnya seperti kasus Tanah Abang. Dan beberapa perusahaan meubel di KBN (Kawasan Blikat Nusantara) Jakarta utara yang rata-rata bekerja tidak ada jaminan kesehatan apa-apa. Dan dia mengatakan bahwa sayapun kalau bekerja seperti itu digaji dua kali lipat saya tidak akan mau bekerja seperti itu. Entah karena apa dia mengatakan seperti itu. Dan memang di tempat itu terjadi korban yaitu meninggalnya Marcus Fatima pada tanggal 17 September 1993 yang lalu. Termasuk meninggalnya Petrus Tomae korban pembunuhan pekerja di Indocement, Bogor. Ia dibunuh entah kasusnya apa sampai sekarang belum ada tanda-tanda dari pihak kepolisian untuk menjelaskan kasus ini kepada publik. Tidak tahu persis kenapa pak Lucas membuka lembaran ini. Mungkin untuk membuka komunikasi lebih baik lagi antara ke tujuh orang Timor Timur ini dengan dia.

Memang sih, banyak cerita yang melebar sana-sini dan tidak terfokus pada inti persoalannya. Sehingga tidak menghasilkan apa-apa dari dialog ini. Dan pak Lucas hanya pesan bahwa saya akan telpon terus ke Kandep Tangerang (Pak Apong) agar segera mengurus kalian tetapi saya tidak janji lho? Karena kalian tahu sendiri keadaan sekarang ini. Dan saat ini mungkin akan men-PHK tiga juta buruh. Karena perusahaan sudah mulai bangkrut. Saya berharap supaya kalian datang ke kandep Tangerang ketemu sama pak Apong bicara tentang hal ini. Dan saya akan telpon pak Apong dari sini. Dan waktu menunjukkan pukul 13.00.Wib kami pamit dari ruangan pak Lucas. Dan pak Lucas sendiri mengantarkan ke tujuh orang ini sampai di pintu liff. Sekian.

Cerita tadi sebenarnya tidak terfokus pada judul diatas paling tidak ada sesuatu yang sangat menganjal. Lewat pengalaman berkali-kali seringkali kita kehilangan nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu untuk mengeluarkan pendapat. Sebenarnya dialog antara buruh Timor Timur dengan pak Lucas Prayitno tidak ada masalah. Tetapi sekali lagi yang sangat mengganggu itu adalah kehormatan seseorang dihadapan hukum itu dimana? Dan apalah artinya hak asasi dan sejenisnya yang berlaku di negeri ini. Dimanakah moral mereka yang memegang roda kekuasaan ini. Begitu kejamkan mendiskriminasikan sekelompok orang, suku atau warga tertentu di sebuah departemen yang berkuasa di negeri ini. Memang ketika selesai dialog dengan pak Lucas Prayitno ada sebuah nilai yang berarti. Tetapi, ya memang bagi pribadi seseorang tertentu tidak semudah itu? Maka sulit untuk mengakhiri sebuah refleksi ini maka yang ada selalu dengan kata tapi, tetapi dan seterusnya. Mari kita belajar dari kasus kecil ini sebagai tanda bukti menunjukkan identitas kita sebagai orang Timor Timur yang masih memiliki harga diri, meskipun dalam situasi apa pun kapan dan dimana kita berada diperlakukan sebagai sebuah masyarakat anak tiri di negeri ini.


Jakarta, 12 Februari 1998
Helio Freitas

No comments: