Thursday, October 29, 2009

Gerakan Moral Yang Ternoda

Artikel ini dibuat pada saat kerusuhan kasus Ketapang di Jakarta. Kasus ini sebagai awal dari perang antara Muslim dan Kristen di Ambon setahun kemudian. Namun artikel ini tidak membuat suatu analisis tentang apa yang sebenarnya terjadi di Ambon setelah kasus Ketapang, namun sebagai bagian refleksi dari orang Timor-Timor yang melihat secara kritis dan ingin belajar menjadi orang Indonesia pada waktu itu, dipostkan ke blogs, 29 Oktober 2009.

Hari ini tanggal 22 Nopember 1998, bangsa Indonesia kembali membuat sejarah. Sejarah baru dibangun diatas tirani menuju pada cita-cita demokratisasi. Bangunan sejarah yang dialihkan dari elit politik ke masalah SARA adalah satu fenomena yang perlu dilihat lebih tajam. Dan apakah benar kasus Ketapang, Jakarta ini murni SARA atau ada permainan politik dibalik kasus ini. Menurut informasi yang dikembangkan dimasyarakat bermula dari kasus perebutan lahan parkir. Yang kedua adalah warga kristiani membakar musholla dan membacok seorang kiai di daerah Ketapang. Dari informasi inilah yang berkembang bahwa warga Ambon yang beragama nasrani membakar musholla. Dan akhirnya massa mulai turun ke jalan merusak sejumlah gereja dan beberapa bangunan. Dan membantai warga Indonesia bagian Timur. Pada kasus ini enam orang tewas dan beberapa orang harus dirawat ke rumah sakit termasuk aparat keamanan. Untuk menghindari amukan massa warga Indonesia Timur segera dievakuasi dari sana oleh aparat keamanan.

Ada dua kategori yang dikejar oleh massa pada kasus ini; yaitu umat nasrani dan orang Indonesia berkulit hitam dan berambut kriting. Pada point kedua yaitu orang Indonesia bagian Timur, massa jelas disini tidak melihat lagi apakah orang Indonesia bagian Timur kristen atau muslim. Yang jelas kulit hitam dan rambut kriting dibantai saja. Pernyataan dari berbagai tokoh masyarakat mengutuk peristiwa itu. Namun kita belum mendengar pernyataan warga yang dikorbankan pada peristiwa itu. Apa komentar dan pendapat mereka tentang kasus ini. Seolah-olah mereka sudah harga mati dan pantas untuk dihukum dan tidak perlu lagi menjawab apa yang sebenarnya pertanggungjawaban mereka sebagai korban pada kasus ini.

Melihat kasus ini ada satu fenomena yang menarik setidak-tidaknya ada satu harapan dibalik aksi-aksi brutal ini. Maka yang menjadi pertanyaan adalah sampai sejauh mana hak asasi pada suku tertentu dan agama tertentu diharga di negeri ini. Dan sampai sejauh mana jaminan keamanan dari pemerintah bagi warga atau suku tertentu yang merasa terancam nyawanya. Dari dua pertanyaan itu memang benar sulit mendapat jawaban atau tindakan konkrit dari pemerintah maka timbul satu pengharapan bagi kelompok sasaran massa.

Mengatakan dengan sejujurnya. Wahai bangsa Indonesia mencari kepentingan apa di balik tragedi Ketapang ini. Apakah mencari popularitas entah ideologi negara atau ideologi agama. Apa yang kita kejar negara atau agama. Inilah kembali sebuah pertanyaan yang perlu digali oleh para politisi di negeri ini.

Sayangnya disaat gerakan moral yang dimotori oleh kaum intelektual dari gerakan kampus telah dinodai dengan nilai-niai yang berkedok religius. Dan cita-cita demokratisasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa seakan-akan telah dibangun di atas tirani. Kalau demokratisasi yang dikejar pada fase tertentu dan cita-cita negara jatuh pada nilai religius tertentu maka jelas bahwa antara kepentingan ideologi negara dan ideologi agama sama saja. Maka apa yang dimaksud dengan pluralisme atau bhinneka tunggal ika tidak berlaku di negeri ini. Dan inilah cacat sejarah bangsa Indonesia. Sejarah hanyalah tinggal sejarah yang penuh dengan noda-noda hitam.

Namun perlu diingat oleh bangsa Indonesia entah agama manapun yang subur di negeri ini bukan berarti lahir di negeri ini. Dan bangsa Indonesia hanyalah pengikut agama-agama yang ada tanpa penulis menyebutkan darimana asalnya agama-agama itu muncul. Dan yang menjadi pertanyaan lagi adalah kenapa kita harus radikal pada nilai religius. Dan seolah-olah bangsa Indonesia saat ini sedang dalam pertarungan besar untuk memperjuangkan nilai-nilai religius. Dan konfliknya selalu itu-itu melulu. Atau barangkali mental kita sangat dijajah oleh nilai-nilai religius sehingga kita tidak bisa kendalikan diri. Dan perlu dipertanyakan nilai religius mana yang mengajarkan umatnya untuk mengadakan brutal. Dan tidak bisa lagi adanya toleransi dan saling maaf memaafkan. Dan sampai sebatas mana kita akan menggunakan nilai moralitas dan sampai sebatas mana kita harus saling membunuh hanya karena nilai religius. Atau bangsa Indonesia telah mempersiapkan sebuah skenario baru untuk masuk pada babak baru apa yang sedang dikembangkan dinegeri ini tentang rekonsiliasi nasional. Atau era reformasi ini harus dibangun diatas istana tirani.

Di saat bangsa Indonesia mulai masuk pada peradaban bangsa untuk memulai meninggalkan nilai tradional namun di saat itu sangat sulit karena kita masih bertarung diatas nilai-nilai haram dan halal. Bangsa Indonesia tidak akan pernah dewasa kalau pertarungan masih terus menerus disitu yaitu kata Gus dur apa yang disebut dengan haram dan halal tadi. Kalau memang benar inilah yang menjadi persoalan untuk menghambat peradaban bangsa maka dengan jujur harus menghargai itu. Karena konflik horizontal ini belum selesai meskipun bangsa Indonesia sudah masuk pada aspek-aspek modernisasi. Dan dimanakah letak kesalahannya. Apakah para penguasa yang selama ini berkuasa tidak aspiratif pada nilai-nilai religius. Pada hal mayoritas yang duduk dikabinet mulai dari rejim orde baru dan rejim reformasi sekarang didominasi oleh kelompok mayoritas.

Kembali pada masalah Ketapang bahwa inilah sebuah cita-cita masyarakat untuk menutup tempat-tempat hiburan dan perjudian mengapa gereja yang korban. Apakah tempat-tempat hiburan itu ijinnya dari geraja. Dan inilah sebuah kesalahan besar, dan sampai kapan dan dimanapun dunia internasional selalu mencatat itu sebagai bagian dari kemajuan bangsa Indonesia. Dan mempersoalkan SARA pada kasus ini adalah bagian dari pertanggungjawaban moral pemerintah untuk menjelaskan kepada dunia internasional pula bahwa masyarakat Indonesia telah masuk pada sebuah cita-cita tertentu. Dengan sebuah negara yang berideologi pada nilai religius. Bukan pada masalah pluralisme dan peradaban bangsa. Maka dengan jelas bahwa orang Indonesia Timur mendirikan negaranya sendiri adalah wajar. Dan inilah tujuannya karena bangsa Indonesia bukan lagi penganut ideologi negara tetapi penganut ideologi religius.


Jakarta, 25 Nopember 1998
Helio Freitas

No comments: