Thursday, October 29, 2009

COMORO: BURAS LIU La iha ida que diak liu nia

Oleh:Helio Freitas

Tulisan ini dibuat sebagai tindakan moral untuk menanggapi sebuah jalan di Kota Dili pada masa Indonesia di daerah Hudilaran – Delta diberi nama jalan Ibu Tien Soeharto, dipostkan ke blogs, 29 Oktober 2009.

Itulah syair sebuah lagu yang kudengar pada waktu aku masih duduk dibangku SD. Entah siapa pencipta lagu ini. Yang jelas lagu itu muncul tahun 80-an. Comoro salah satu kampung yang sangat indah, sejuk begitu juga tanahnya sangat subur. Comoro juga memberi fantasi kepada generasi muda bila mereka yang telah tenggelam mengenal bahasa cinta atau pada waktu sedang musim kasmaran. Pasti pulang sekolah selalu saja di dalam bus antara Becora dan Comoro tidak ingin turun secepat mungkin. Apalagi kalau datang terlambat ke sekolah atau tidak ada pelajaran bus-bus jurusan Comoro tidak sepi dari keramaian pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran.

Comoro selain memberi fantasi kepada pasangan muda-mudi untuk bernuansa, bermadu cinta, menjanjikan banyak hal, begitu juga Comoro merupakan pusat pertanian terbesar di kota Dili. Banyak sekali kenangan di kampung Comoro ini namun sulit sekali bagi saya untuk memuat di tulisan sederhana ini.

Fantasi dan kenangan manis ini “sayang”nya sebentar lagi hanya tinggal kenangan. Sebuah nama yang cukap mengganggumkan dan cukup meleket dari generasi-kegenerasi namun sayangnya sebentar lagi akan di baptis dengan nama yang baru. Nama baru memang cukup dikagumi oleh para “priya” yang haus akan kehilangan; reputasi, predikat, jabatan dan kredibilitas itu semua bukanlah di depan masyarakat Timor Timur tetapi di depan pemerintah orde baru. Mendambahkan nama ibu Tien Soeharto di Timor Timur bukanlah merupakan tekanan dari arus bawah untuk mendesak pemda (Abilio Osorio) mengatasnamakan masyarakat Timor Timur untuk memberi yang terbaik atau memberi penghargaan kepada keluarga Cendana. Tetapi harus diakui bahwa semua itu Abilio lakukan karena takut kehilangan muka atau jabatannya. Agar “babe” senang terpaksa Abilio melacur untuk menjual nama dalam hal ini adalah mengantikan nama jalan Comoro dan memberi tanah 2000 hektar kepada Tommy Soeharto secara cuma-cuma. Hal ini berdasarkan proposal yang diajukan oleh Abilio kepada presiden Soeharto kira-kira tiga pekan yang lalu di Jakarta.

Mau tidak mau itu menjadi sebuah skenario dari Abilio untuk mempertahankan jabatannya. Sebagai langkah selanjutnya bagaimanakah reaksi kita pencinta (hadomi rai Tiimor) sekarang ini. Sebagai orang muda tentunya mempunyai banyak harapan dan rencana untuk berbuat yang terbaik dan untuk mempertahankan budaya kita sebagai orang Timor yang sejati. Tidak perlu melacur atau menjual diri untuk menghidupkan masyarakat Timor Timur. Dalam bahasa religius atau ajaran agama itu adalah “haram”.

Kepada saudara/sdri, kakak/adik, bapak/ibu, kawan/sahabat, tua/muda tanpa terkecuali joven’s Timorense sekalian bangakitlah dan mengambil sikap dan mengadakan aksi damai untuk mengagalkan rencana busuk dari Abilio - Soeharto ini. Banyak teori telah mengajarkan kita untuk mengantisipasi budaya dari luar yang merusak budaya kita katanya “kata guru PMP-ku dulu. Namun teori-teori itu hanyalah berkembang biak bagaikan sebuah “penyakit” yang terus menerus menghisap darah dan tulang-tulang kita selama ini.

Gagalkan rencana busuk ini.

Tentunya kita harus bersedia untuk melihat diri sendiri siapa saya sebenarnya? Belajar dari sejarah. Atau tidak perlu tinggi-tinggi perhatikan disekitar kita. Seandainya saja seseorang mengantikan nama secara tiba-tiba tentu saja atau mungkin menjadi bahan bicara orang banyak. Apa yang melatarbelakangi orang ini supaya mengantikan namanya. Tentu saja ada alasan-alasannya. Itu bisa saja karena sebagai benda hidup tentunya dia pasti berpindah-pindah tempat. Lalu bagaimana dengan benda mati yang tidak bisa berpindah tempat. Saya kira itu tidak perlu menjelaskannya. Namun yang jelas bahwa latar belakang budaya, geografi, sosial politik yang tidak ada sangkut pautnya antara budaya Jawa dan budaya Timor. Belajar dari budaya Jawa dan budaya Sunda. Anda coba saja jalan-jalan di kota Kembang (Bandung) di sana tidak ada nama jalan yang namanya jalan Gajah Mada atau jalan Hayam wuruk. Hal ini tentunya ada latar belakangnya. Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa pada kejayaan Gajah Mada dan Hayam Wuruk dulu selalu saja bentrok-bentrok fisik atau perang saudara oleh kesombangan Gajah Mada dan Hayam Wuruk terhadap orang-orang Sunda. Hal itu nama Gajah Mada dan Hayam Wuruk sangat dikutuk di kalangan masyarakat Sunda sampai sekarang ini. Tentu saja itu sudah berapa abab yang lalu namun masih menimbulkan kebencian terhadap kedua tokoh ini di kalangan generasi muda sampai sekarang. Apalagi bangsa Loro Sa’e yang baru kemarin direkayasa untuk integrasi masih dalam tanda tanya besar (?). Apakah tidak trauma terhadap bekas-bekas peluru yang masih tertulis ditubuh kita?

Tentang Kontroversial itu:
Nobel Perdamain

Kontradisi dari berbagai pihak mengkomentari atas pemberian Nobel kepada Mgr. Belo dan Jose Ramos Horta. Pemerintah Indonesia melalui Sekneg. Moerdiono merasa kaget mendengar berita tentang pemberian nobel kepada Mgr. Belo & Ramos Horta. Begitu juga Gubernur Abilio Jose Osorio dengan arogansinya menuduh Ramos Horta sebagai pembunuh dan penghasut masyarakat Timor Timur. Orang seperti Ramos dan Uskup Belo tidak pantas untuk menerima penghargaan nobel ini kata Abilio. Sementara itu Ali Alatas dari Jerman mengatakan bahwa seandainya uskup Belo merasa dirinya sebagai orang Timor Timur lebih baik menolak saja nobel perdamaian itu. Ini tentu saja mempunyai motif politik untuk kepentingan Indonesia seandainya saja uskup Belo menolak nobel tersebut.

Banyak pengamat politik di negeri ini seolah-olah merekalah yang paling benar untuk mengatasnamakan uskup Belo dan Ramos Horta secara terang-terangan untuk menolak nobel perdamaian tersebut. Kelihatannya tidak pernah memberi sedikit waktu kepada uskup Belo dan Ramos Horta untuk membela diri. Dua hari yang lalu hanya reporter dari Radio Ramaco Musik FM mewawancarai uskup Belo untuk memintai komentarnya tentang pemberian nobel tersebut. Namun bersamaan dengan itu secara diam-diam repoter dari Radio Ramoco Musik FM tersebut mempertemukan uskup Belo dengan wartawan dari Majalah Gatra untuk mewawancarai juga terhadap uskup Belo. Namun uskup Belo dengan keras kepada wartawan majalah Gatra agar minta maaf dulu kepada uskup Belo.

Penolakan pemerintah Indonesia atas pemberian nobel ini tentu saja ada alasan-alasan tertentu. Alasan-alasan tersebut sebagai berikut:

Pertama, Indonesia secara diplomasi merasa gagal di forum-forum internasional mempertahankan arogansi politiknya yang difokuskan terhadap pembangunan di Timor Timur. Di mata dunia internasional Soeharto bersama dengan “kuda hitamnya” Ali Alatas kehilangan muka.

Kedua, Indonesia berkepentingan karena masalah Timor Timur menjadi pusat perhatian dunia karena Timor Timur sebagai suatu negara yang dijajah oleh Indonesia.

Ketiga, adanya unsur SARA. Kebencian terhadap umat nasrani oleh elit-elit politik yang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok dari CIDES, ICMI, CPDS dan Muhammadia yang mempunyai massa muslim banyak. Cukup masuk akalkan?

Akhirnya lewat Suara Maubere dari pinggiran mengucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada masyarakat Timor Timur, rekan-rekan falintil dan tanpa terkecuali joven’s Timorense yang ada dimana saja telah mempercayai Moensiyur Carlos Filipe X. Belo, SDB dan Dr. Jose Ramos Horta untuk mendapatkan nobel perdamaian dari komite yang bersangkutan dari pemerintah Norwegia. Biarkanlah anjing-anjing itu bergongong dan tidak perlu untuk melayaninya. Peringatan kepada regim orde baru (pemerintah pusat) atau pemda setempat bahwa berikanlah apa yang menjadi hak rakyat Timor Lorosa’e, dan hindarkanlah apa yang bukan menjadi milik rakyat. Jangan sampai melacur untuk membangun Timor Timur. Sekali lagi “haram”. Di dalam Injil juga dengan keras mengatakan bahwa “apa yang sepantasnya milik Kaisar berikanlah kepada Kaisar dan apa yang milik Tuhan berikanlah kepada Tuhan”. Untuk Moensiyur Carlos Filipe X. Belo, SDB dan Dr. Jose Ramos Horta kami ucapkan salam dan selamat atas penerimaan nobel perdamaian semoga menjadi saksi dunia untuk perdamaian di Timor Timur. Bergembiralah dan bercorak-corailah “hai rakyat Maubere dan Muibere” atas peristiwa agung ini. Bersatulah, bergandenganlah, bersyukurlah, berpeluklah hai, saudara rakyat Maubere demi perdamaian di bumi Lorosae yang kita cintai. semoga.................... Jakarta, 14 Oktober 1996.

No comments: