Tuesday, July 18, 2006

W A R

oleh: Helio Freitas*


Menonton film yang dibintangi oleh James Nacthwey adalah sesuatu yang menyedihkan, dan sekaligus mengetarkan. Judul film War itu kebanyakkan menampilkan kegiatan James Nacthwey sebagai fotographer yang masuk pada daerah-daerah konflik dan berbahaya.

James Nacthwey seorang fotographer perang yang sering kali memotret pertempuran di medan perang. Ia seperti seorang serdadu perang, meskipun ia tidak punya senjata tempur. Tapi ia membidik moment-moment penting dengan kamera bermerek Canon. James Nacthwey pada saat meliput adegan perang ia tidak terpisah dengan serdadu bersenjata yang sedang bertempur di medan perang yang sangat berbahaya. Seolah-olah ia seperti seorang tentara di medan perang dengan senjata Kamera untuk membidik tragedi-tragedi kemanusiaan yang menghebohkan.

Ia bersama dengan kawan-kawan wartawan lainnya untuk meliput kejadian perang di Kosovo pada tahun 1999. Tragedi kemanusiaan di Kosovo juga menewaskan dua orang wartawan. Pada saat kejadian itu ia sempat menolong teman-teman wartawan yang kena musibah. Sebelum di Kosovo James bersama dengan wartawan lain seperti Joao Sílva seorang fotografer koran lokal The Star dan lainnya untuk meliput pemilihan di Afrika Selatan pada bulan April 1994 yang dimenangkan oleh kelompoknya Nelson Mandela. Peliputan di Afrika Selatan itu menyewaskan dua (2) orang wartawan yaitu Greg Marinovisch dan Ken Oosterbroek. Keduanya ditembak pada saat sedang meliput bertingkaian antara kelompok Mandela dengan Inkatha.

Hampir 30 tahun sebagai wartawan profesional. Ia telah mendapat berbagai penghargaan di bidang jornalis fotografi. Ia dikenal sebagai wartawan perang yang berani dan kuat menghadapi berbagai macam tantangan dan realita. Ia juga sering kali meliput masalah kemiskinan dunia yang diakibatkan oleh masalah ketidakadilan dan sistim kekuasaan yang tidak manusiawi. Bersentuhan dengan masalah perang dan kemiskinan manusia itulah seringkali membuat stress dan kehilangan kata-kata untuk komunikasi dengan teman-temannya.

Editor Majalah Geo Saison, Christiane Breustedt mengatakan bahwa James Nacthwey punya perpustakaan pribadi yang terletak di kepalanya dan sering kali membuat penderitaan bagi dirinya sendiri. Ia tahu banyak hal tentang tragedi dunia tetapi sulit untuk komunikasi dengan kawan-kawannya. Seolah-olah tragedi kemanusian itu cukup baginya sebagai bagian kehidupan dunia yang tidak fair, dan tidak berprikemanusiaan. Kesaksiaannya tidak terkatakan, namun tersimpang dalam sebuah perpustakaan pribadinya yang membebaninya setiap saat.

Hans Hermann Klare editor majalah Stern di Hamburg, Jerman setelah menyaksikan foto-foto James ia punya komentar sendiri. Ia mengatakan bahwa ketika tembok Berlin jatuh kekerasan bukan lagi antara negara dengan negara, tetapi kekerasan sekarang antara manusia dengan manusia.

Pernyataan Hans Hermann Klare dalam konteks Timor-Leste bisa mendekati konflik atau kerusuhan yang terjadi baru-baru di negara kita. Bahwa setelah kita berhasil mengusir bangsa Indonesia lewat referendum Agustus 1999 lalu, yang ada di Timor-Leste hanya ada rakyat Timor sendiri yang tergabung dari suku Lorosae-Loromuno. Dulu rakyat di negeri ini berjuang untuk mendukung suksesnya referendum pada tahun 1999 bukan atas nama Lorosae-Loromunu atau juga mewakili salah satu partai politik. Tetapi pada dasarnya adalah rakyat yang ada pada 13 Distrik diseluruh wilayah Timor-Leste yang tidak berpihak pada salah satu ras, suku atau golongan. Dan hanya ada dua (2) pilihan yaitu pro-kemerdekaan (merdeka) atau pro-otonomi (Indonesia).

Setelah pembebasan rakyat pada tahun 1999, rakyat di negeri ini merasa bebas dari pelanggaran hak asasi manusia. Rakyat merasa bebas dan tidak punya musuh yang perlu ditakuti setiap saat. Satu-satunya yang menjadi beban bagi masyarakat di negeri ini adalah bagaimana pemerintah memberi perlindungan dari segi keamanan bagi rakyat untuk menata kehidupan ke depan. Begitu juga bagaimana rakyat di negeri ini berjuang untuk menghidupi kehidupan sendiri yang lebih manusiawi ketimbang masa lalu. Meskipun perjuangan ini berat karena kita memulai dari nol untuk menata kembali apa yang menjadi impian rakyat di negeri ini.

Pengalaman James Nacthwey yang telah mengunjungi berbagai negara yang tidak terlepas dari kekerasan bagi umat manusia. Mulai dari New York, Afrika 1994, Palestina, Indonesia dan daerah lainnya. Dari sekian negara yang dikunjungi oleh James Nacthwey masalah kekerasan dan kemiskinan terhadap kemanusiaan menjadi sebuah memory baginya untuk tidak pernah lupa pada apa yang sebenarnya terjadi bagi umat manusia.

Ia mengabadikan beberapa moment menarik di Indonesia khususnya di Jakarta dan Jawa Timur. Di Jakarta ia menelusuri beberapa kawasan yang dihuni oleh orang-orang pinggiran yang mengalami ketidakadilan akibat sistim dan tatanan negara yang tidak adil. Seperti ia mendatangi Sumarno dengan keluarganya yang tidak punya rumah dan mereka tinggal di pinggir rel kereta api di Jakarta. Ia memotret realitas kemiskinan yang dialami oleh Sumarno dengan keluarganya. Mulai dari mereka makan, tidur, mandi dan bagaimana Sumarno yang kehilangan satu kaki dan satu tangan itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Ia bekerja sebagai pengamen di pinggir jalan dan di lampu merah di kota Jakarta. Sumarno sekeluarga dengan masyarakat lainnya mandi di kali dengan air kotor yang dicampur dengan berbagai sampah dan kotoran manusia.

Selain itu ia juga mengunjungi TPA (tempat pembuangan akhir) di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Di areal sekitar 100 hektar yang di bebaskan oleh Pemda DKI-Jakarta sebagai tempat pembuangan sampah. Hampir 200 truk yang mengangkut sampah tiap hari dari Jakarta dan Bekasi di buang disana. Di areal sampah itu sekitar ratusan ribu masyarakat memanfaatkannya lahan mencari nafkah. Yaitu mereka memungut sampah, kemudian sampah itu dikelolah dan selanjutnya di jual kembali dan sebagian di daur ulang. Lahan itu bukan saja sebagai tempat memungut sampah tetapi juga sebagai tempat tinggal mereka selama mereka bekerja di areal sampah itu. Masyarakat yang tinggal di areal sampah itu kebanyakkan berasal dari pulau Jawa.

Beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga seringkali mendampingi mereka di areal sampah itu. Kebanyakkan LSM yang mengadakan aktivitas disana adalah membuka sekolah informal untuk mengajar anak-anak pemulung yang tidak sempat sekolah pada sekolah formal. Salah satu LSM yang pernah membuka sekolah informal bagi anak-anak di Bantar Gebang adalah Institut Sosial Jakarta (ISJ). Empat (4) tahun lalu Institut Sosial Jakarta sudah bubar tetapi keadaan masyarakat di Bantar Gebang tetap sama dan tidak ada perubahan apa-apa.

James juga mengunjungi Kawah Ijen di Jawa Timur, Oktober 1999. Ia memotret ditengah asap kabut yang sering-kali membuat James merasa pedih, sesak napas dan batuk-batuk. Ia dengan sabar membidik kameranya untuk memotret kegiatan masyarakat di Kawah panas itu. Kedatangan James pada kawasan panas itu selain memotret ia juga akrab dengan masyarakat yang mengadakan aktivitas disana. Pergaulan James dengan masyarakat di Kawah Ijen itu seolah-oleh mereka sudah kenal lama, dan di tempat itu ia baru bertemu dengan teman lama.

Karya James Nacthwey yang bersentuhan dengan korban kekerasan dan masyarakat marginal ia di kenal oleh dunia lewat karya fotografinya. Keberhasilan dan kebanggaan itu bagi James sebagai sebuah pertanyaan besar yang selalu menganjal pada pikirannya. Pertanyaan yang menganjal pada pikiran James melahirkan sebuah refleksi yang sangat mendalam.

Refleksi James pada akhir film itu ia bertanya pada diri sendiri bahwa, apakah aku hidup dari penderitaan orang, apakah penderitaan dan kesensaraan orang menjadi tangga kesuksesanku, apakah aku mengesploitasi orang, apakah aku penghisap darah manusia seperti vampir dengan Kamera? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sebuah getaran yang selalu menyentak jantung dan pikirannya.

Refleksi semacam itu menjadi sebuah kesunyiaan bagi James sekaligus sebagai sebuah penyeguhan untuk menatap ke masa depan. Ia berharap bahwa berbagai macam manusia yang ia temui di berbagai negara suatu saat bisa merubah nasib mereka menjadi lebih baik. Tidak harus menderita seterusnya dan diakhiri dengan kematian. Paling tidak mereka bisa merubah nasib mereka, itu terpenting ketimbang penghargaan yang diterima oleh James.

Pengalaman apa yang kita petik dari refleksi James. Setidaknya bagi pemimpin negara yang saat ini sedang berkuasa agar merefleksikan kembali cita-cita perjuangan bangsa ini, ketika rakyat ini disatukan dalam sebuah perjuangan panjang untuk melawan kaum kolonial. Kita disatukan dalam gerakan perlawanan tidak pernah memandang suku ras dan golongan. Satu-satunya yang ada, adalah bagaimana menanamkan rasa nasionalis untuk melawan ketidakadilan yang selama ini dialamatkan kepada rakyat Timor-Leste yang dikuasai oleh kaum kolonial pada waktu itu.

James yang mirip dengan almarhum Dr. Sergio Viera de Mello dalam film dokumenter itu menjadi sebuah referensi bagi jornalis Timor-Leste, bagaimana menempatkan diri untuk meliput tragedi kemanusiaan yang terjadi di daerah-daerah konflik yang sering kali memakan korban jiwa. Jornalis Timor-Leste tidak harus seperti James tapi paling tidak keberanian dan kemauan untuk memulai dan menciptakan sejarah sendiri. Jornalis Timor-Leste lahir dari puing-puing kehancuran bertepatan dengan keadaan dan kondisi negeri ini kita berharap bahwa arah sejarah negeri ini yang benar bukan terletak pada mereka yang berkuasa dan silih berganti, tetapi pada dasarnya ada ditangan kaum jornalis. Semoga.


*bekerja pada Asosiasi Jornalis Timor Lorosa’e

No comments: