Thursday, July 20, 2006

Pantai Kelapa “Marginalisasi”

Marginalisasi adalah sebuah ungkapan buat masyarakat pinggiran. Masyarakat pinggiran yang jauh dari tanggungjawab pemerintah atau birokrasi yang semestinya bertanggungjawab atas nasib mereka. Marsyarakat marginal selalu identik dengan orang-orang yang selalu melawan sistim pemerintah dan susah diatur. Dan biasanya dicap selalu melanggar aturan pemerintah.
Kasus marginalisasi selalu ramai di kota-kota besar di seluruh dunia. Kendati negeri ini baru merdeka setahun lebih masalah ‘marginalisasi’ juga tidak kalah berbeda dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Salah satu kasus yang ingin ditampilkan pada paper ini adalah di daerah Pantai Kelapa Dili.
Di sepanjang bibir Pantai Kelapa masalah ‘marginalisasi’ mulai muncul. Ada berbagai aktivitas manusia pada waktu malam hari di pantai tersebut. Seperti Pedagang K5 dan orang-orang yang ingin bertamasya disana untuk menikmati udara segar dari laut. Aktivitas tersebut lebih banyak dilakukan pada malam hari. Sedangkan siang hari Pantai Kelapa tidak begitu ramai dibandingkan dengan malam hari. Biasanya pada siang hari hanya digunakan oleh anak-anak mahasiswa dari UNICON dan masyarakat lain yang ingin bersantai disana.
Akivitas Pedagang K5 di Pantai Kelapa dikaitkan dengan masalah sosial budaya dan sosial ekonomi tentu saja harus dilihat dari beberapa aspek penting yang melatarbelakangi terjadi arus aktivitas di daerah tersebut.
Pertama: aspek sosial ekonomi. Ketika negeri ini mulai bebas dari regim kolonial dan mencoba untuk berdiri sendiri dalam artian merdeka banyak hal yang menjadi tantangan dan hambatannya untuk membangun negeri ini. Salah satunya adalah masalah ekonomi. Sebagaimana kita ketahui bahwa roda perekonomian di Timor Lorosae tingkat perkembangannya sangat lambat. Dan hampir 75% persen penduduk di Timor Lorosae pekerjaannya tidak menetap. Dalam artian penggangguran dan mereka yang selalu berpindah-pindah pekerjaan. Seperti mulai dari petani, buruh kasar, pedagang K5 dan orang-orang yang bekerjanya tidak menetap. Selain itu masih adanya arus urbanisasi dari desa ke kota yang sangat pesat. Tidak ada data statistik yang bisa menjelaskan arus urbanisasi dari desa ke kota dalam satu tahun dan lain sebagainya.
Peningkatan arus perpindahan masyarakat dari desa ke kota menimbulkan berbagai macam persoalan sosial di kota. Terutama di kota Dili. Tujuan perpindahan arus dari desa ke kota dengan harapan bisa mendapat pekerjaan yang lebih muda dari desa. Tetapi kota yang menjadi harapan satu-satunya untuk memperbaiki status sosial mereka justru berbalik lain. Satu-satunya yang bisa mendapatkan akses dan bisa bersaing adalah sebagai pedagang dan buruh kasar. Salah satu prakteknya adalah yang terjadi di Pantai Kelapa dan berbagai tempat di kota Dili.
Ada nilai positif yang harus kita perhatikan dari aktivitas Pedagang K5 di bibir Pantai Kelapa. Di sana masyarakat bisa memperoleh pendapatan ekonomi untuk kebutuhan mereka. Kenyataan ini bisa menekan angka pengangguran yang terjadi di Timor Lorosae saat ini. Kendati demikian lahan di Pantai Kelapa bukanlah satu-satunya untuk menimbang kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Paling tidak di Pantai Kelapa bisa mempertemukan masyarakat terutama penjual-pembeli. Yang paling menyenankan buat pembeli adalah bukan hidangan atau makanan yang disajikan oleh Pedagang K5 disana seperti Ikan bakar, Jagung bakar, Minum Tuak dan Bakso tetapi adalah lokasinya yang strategi dibibir pantai.
Meskipun aktivitas di Pantai Kelapa tergolong kecil dalam arus perputaran roda perekonomian, setidaknya sudah menunjukkan adanya kemaun masyarakat untuk berusaha terutama untuk menolong dirinya sendiri secara ekonomi. Karena negara kita atau pemerintah Timor Leste belum bisa menjawab kebutuhan masyarakatnya secara keseluruhan. Oleh karena itu pemerintah atau kita sebagai warga negara perlu memikirkan jalan atau alternatif lain untuk membantu apa yang terbaik dan sebagai jalan keluarnya. Terutama kelanjutan secara kontinue bagi Pedagang K5 di Pantai Kelapa. Dalam istilah trendnya adalah sustanaible development.
Kedua: aspek sosial budaya. Ada hal yang sangat kontras terlihat disana. Terutama di depan pantai lahan itu dikuasai oleh Pedagang K5 tetapi disebelahnya adanya Restoran bagi orang-orang berduit. Kadang-kadang menjadi suatu adegan yang memuakkan antara orang yang berkunjung ke Restoran dengan orang yang berkunjung ke Pedagang K5 di depan Restoran. Secara psikologis muda mempengaruhi orang kearah ‘emosional’ untuk berpikir hal-hal yang aneh. Atau setidaknya menciptakan kecemburuan sosial yang bermuara pada akumulasi riwayat perjalanan bangsa ini. Kalau kita mencermati dan merekam adegan seperti ini bisa menafsikan banyak hal dimasa depan. Hanya saja apa yang kita tafsirkan sekarang belum terjadi.
Aspek sosial budaya lain adalah mulai mengusur tradisi orang Timor yang original. Contoh yang paling konkrit soal minuman keras. Sejak awal kita mencermati orang Timor menghirup minuman tuak di tempat-tempat tertentu saja. Seperti di pasar tradisional dan dipinggir jalan adalah hal yang biasa sejak awal. Tetapi tidak secara keseluruhan praktek ini terjadi dimana-mana. Sekarang di Pantai Kelapa dan dibibir pantai lainnya menjadi hal yang biasa. Seakan-akan tradisi ini ada sejak awal. Seperti minum ketika sedang membawa kendaraan atau sambil berjalan ditempat-tempat terbuka. Kalau kita perhatikan tradisi seperti ini ‘pertama-tama dipraktekan’ pada jaman UNTAET oleh orang-orang asing yang bekerja pada UN dulu.

Wine versus Tuak Sabu
Kaitan minuman keras dengan Pantai Kelapa. Apa yang kontras berkaitan dengan minuman keras di Pantai Kelapa. Sejak awal Restoran mulai dibuka di Pantai Kelapa belum ada Pedagang K5 yang menjual minuman keras dan menjual barang dagangan lainnya seperti sekarang. Paling tidak hanya ada Pedagang K5 dengan kendaraan tiga roda. Tetapi sekarang ini mulai ramai. Setidaknya di dalam Restoran orang-orang berduit menikmati aroma minuman wine, dine, music. Anggur, santap malam dengan irama musik. Paling tidak menemani mereka berkencan ala barat. Setidaknya aroma wine, dine, music dan anggur memberi suasana santai tapi juga makin romantik, kata Sindhunata .
Apa yang kita rasakan antara suasana di dalam restoran dan suasana dipantai. Tentu sangat kontras. Untuk menekan keinginan kita untuk menikmati minuman. Dengan ‘terpaksa’ kita menikmati Tuak Sabu dan Tuak Mutin minuman tradisional kita yang popular di negeri ini. Adegan seperti ini akan mengundang banyak hal untuk merusak budaya asli orang Timor. Bukan saja budayanya dirusak tetapi merusak juga mental orang Timor secara ekonomi dengan budaya pesta fora gaya baru. Sehingga di Timor Lorosae menambah ranking dalam tradisi pesta fora. Yang satu di pesta resmi yang satu pesta fora diijalanan. Seperti yang nampak di Pantai Kelapa dengan suasana santai.
Selain Wine dengan Tuak Sabu ada juga yang lebih heboh lagi. Di Restoran siang hari orang menikmasi Capuccini dengan Hamburger dan Pizza model Italia di depan pantai orang kita menikmati es sendol dengan pisang goreng atau dengan donat ala Timor.
Ketiga: aspek lingkungan dan penataan tata kota. Dari segi aspek lingkungan di Pantai Kelapa memang belum tergesar secara keseluruhan. Tetapi bukan berarti bahwa keadaan ini akan tetap berlanjut. Lama-kelamaan akan mulai merubah bentuk tanah yang berada disana. Seperti rumput dan pasir kalau setiap hari selalu disentuh oleh manusia dan makhluk lain tentu akan bergeser pada beberapa tahun yang akan datang. Apalagi pencemaran di Pantai Kelapa mulai berlanjut meskipun sedikit, pelan tapi pasti akan merusak di kemudian hari.
Aspek Penataan Tata Kota. Dari segi penataan kota merupakan suatu tontonan yang kurang menarik sebagai sebuah pemandangan. Apalagi di sepanjang Pantai Kelapa terdapat kantor dan perumahaan bagi duta besar dari negera-negara yang saat ini berada di negeri ini. Tentu saja sangat kontras antara elit dan masyarakat kita. Dan tentu saja akan mengganggu kenyaman bagi kawasan elit yang ada disana. Sehingga menciptakan gap antara elit dan masyarakat pinggiran di sepanjang Pantai Kelapa.

Pantaskah Mereka Digusur di Masa Mendatang?
Ini bukan sebuah rekomendasi yang baik kepada pemerintah untuk mengurus Pedagang K5 di Pantai Kelapa. Tetapi pemerintah punya kewajiban moral untuk melihat proses atau aktivitas yang saat ini sedang berjalan di Pantai Kelapa dengan berbagai pertimbangan. Pertama-tama pemerintah harus melihat segi positif yang mendorong arus transaksi antara penjual dan pembeli di Pantai Kelapa. Setidaknya masyarakat sebagai Pedagang K5 telah membantu dirinya sendiri dalam aktivitas ekonomi. Proses ini yang perlu didorong oleh pemerintah kearah profesionalisme. Terutama aktivitas yang sedang berlangsung disana. Dan harus mencari berbagai macam kajian untuk mendorong kebijakan yang melindungi aktivitas Pedagang K5 di sana. Dan berbasis pada kearah kemandirian dalam bidang ekonomi.
Faktor ini merupakan salah satu pendapatan masyarakat yang perlu dilindungi oleh pemerintah. Karena mereka telah menolong dirinya sendiri termasuk membantu meringankan beban pemerintah di bidang lapangan kerja dan perluasan sektor swasta. Meskipun dengan modal kecil, pelan tapi pasti. Asalkan pemerintah membantu dan mendorong proses aktivitas yang sedang berjalan saat ini.
Kembali kepada masalah Pantai Kelapa dan ‘Marginalisasi’. Proses ‘marginalisasi’ yang saat ini sedang berkembang di Pantai Kelapa adalah sesuatu yang wajar dalam konteks sekarang. Tetapi point yang paling penting adalah jangan membiarkan proses ‘marginalisasi’ itu terus berkembang. Karena pengalaman membuktikan di kota-kota besar telah memberi suatu referensi yang besar kepada kita. Meskipun saat ini ada pemisahan antara Restoran dan Pedagang K5 dan Elit dengan Masyarakat ‘Pinggiran’ tetapi dimasa mendatang akan hilang dengan sendirinya tembok pemisahan itu. Asalkan pemerintah serius memikirkan jalan terbaik buat Pedagang K5 yang saat ini sedang berusaha keras untuk memperjuangkan nasib mereka ke masa depan. Baik-buruknya kemajuan kaum Pedagang K5 di Pantai Kelapa tergantung pada kemauan baik pemerintah dan masyarakat Timor Leste secara keseluruhan.
Semoga diwaktu mendatang Pantai Kelapa bukan tempat bagi masyarakat ‘pinggiran’ tetapi merupakan sebuah tempat dimana orang mulai berjuang dari bawah kearah kemandirian. Dan juga mempertemukan antara elit dan masyarakat ‘pinggiran’ dalam kegiatan atau transaksi ekonomi yang lebih baik dan berkualitas.

Referenci:
1. Hasil pengamatan penulis
2. Majalah Basis bulan Maret-April tahun 2002

Dili, 5 Juli 2003

Helio Freitas
Mahasiswa Universitas Dili
Jurusan Humaniora, Fakultas Politik Pembangunan

No comments: