Tuesday, July 18, 2006

Menyimak Sejarah Fretilin & Tantangannya

Oleh: Helio Freitas*

Fretilin akan mengadakan kongres besok pada tanggal 17-19 Mei 2006, di Dili untuk memulai struktur baru dalam partai tersebut. Tujuan dari kongres itu untuk menetapkan program kerja partai dan memilih kabinet baru dalam partai Fretilin. Kongres itu merupakan salah satu sarana yang baik untuk berkompetensi dalam proses demokrasi. Oleh karena itu kita harus menyambut dengan lapang dada dan keterbukaan untuk menerima apa yang menjadi keputusan kongres nanti.

Partai yang pertama kali didirikan pada bulan Mei 1974 setelah revolusi bunga di Portugal pada 25 April 1974. Tujuan dari revolusi bunga itu untuk memberi kesempatan kepada daerah jajahan Portugis untuk menentukan nasib sendiri. Baik di Timor-Portugis maupun daerah jajahan Portugis lainnya di Benua Afrika. Revolusi tanpa darah itu melahirkan lima partai politik di Timor-Portugis waktu itu. Fretilin merupakan salah satu partai terbesar yang didukung oleh rakyat jelata yang pertama kali melahirkan cita-cita bagi kemerdekaan di Timor-Portugis waktu itu. Meskipun partai lain seperti UDT dan lainnya juga punya cita-cita yang sama tentang kemerdekaan tapi harus federasi dengan negara lain dalam beberapa waktu yang tidak ditentukan. Sementara Fretilin tidak. Merdeka tanpa melalui federasi dengan negara mana pun.

Pertama kali sebelum menjadi Fretilin pertai itu bernama ASDT (Asosiasão Sosial Demokratica de Timor). Kemudian pada tanggal 11 September 1974 ASDT dirubah nama menjadi (Frenti Revolusionario Independenti de Timor) atau Fretilin. Ketika partai itu didirikan untuk pertama kali Francisco Xavier do Amaral ditunjuk sebagai Presiden Partai, almarhum Nicolao Lobato sebagai sekretaris umum.

Pada tanggal 28 November 1975 Fretilin secara Unilateral mendeklarasikan proklamasi kemerdekaan Timor, Francisco Xavier do Amaral di tunjuk sebagai Presiden RDTL yang pertama dan almarhum Nicolao Lobato sebagai Perdana Menteri RDTL yang pertama. Serta mengangkat beberapa menteri dalam kabinet pertama RDTL yang diambil dari mayoritas anggota Komite Sentral Fretilin pada waktu itu.

Setelah invasi Indonesia masuk ke Timor-Leste Desember 1975 fungsi pemerintahan tidak jalan dan waktu itu situasi dalam keadaan perang. Seluruh aparat negara bersama pasukan Falintil dan rakyat Timor mengungsi ke hutan untuk menyelamatkan diri. Dan pada tahun 1977 di hutan sekitar daerah Remexio (Aileu) Francisco Xavier do Amaral diturunkan dari jabatan Presiden dan sekaligus sebagai ketua partai. Dan almarhum Nicolao Lobato yang mengantikannya sebagai ketua partai dan sekaligus sebagai Presiden RDTL yang kedua.

Ketika Presiden RDTL kedua meninggal pada bulan Desember 1979 pada sebuah pertempuran besar melawan militer Indonesia di hutan sekitar Turiscai (Manufahi) terjadi kekosongan kepemimpinan baik sebagai presiden RDTL maupun sebagai ketua partai. Hampir beberapa tahun Fretilin berjuang bersama rakyat dan Falintil tidak ada struktur yang jelas.

Setelah Nicolao Lobato meninggal dunia pada akhir tahun 1979 struktur Fretilin vakum. Lider Fretilin Xanana Gusmão bersama dengan anggota Komite Sentral Fretilin lainnya pada tahun 1981 mendirikan Partai Marxis Lenenis Fretilin (PMLF). Partai tersebut diketuai oleh Dr. Abilio de Araujo dan sekretaris umumnya adalah Xanana Gusmão. Partai Marxis itu umurnya tidak panjang. Hanya tiga (3) tahun yaitu mulai dari tahun 1981-1983 bubar tanpa alasan yang jelas. Ketika PMLF bubar mereka kembali kepada Fretilin. Dr. Abilio de Araujo tetap ditunjuk sebagai ketua delegasi Fretilin di luar negeri bersama beberapa anggota komite sentral Fretilin lainnya seperti Dr. Jose Manuel Ramos Horta, Dr. Mari Alkatiri, Jose Luis Guterres, Roque Rodigues dan lainnya.

Kemudian selanjutnya Xanana Gusmão bersama dengan lider Fretilin lainnya mendirikan CNRM (Conselho Nasional Resistencia Maubere). Bersama dengan CRNM Falintil dipisahkan dari Fretilin. Sementara Xanana Gusmão sendiri keluar dari Fretilin satu tahun kemudian Falintil pisah dari Fretilin.

Setelah pemisahan Falintil dari Fretilin Xanana Gusmão memimpin Falintil sementara pengurus harian partai Fretilin berada dibawah kepemimpinan almarhum Mauhudo Ran Kadalak. Kemudian diganti oleh Mauhuno. Setelah kedua orang ini Mauhudo dan Mauhuno tertangkap oleh militer Indonesia pengurus harian partai dipegang oleh Conis Santana putra kelahiran Tutuala (Lautem). Dan ketika Conis Santana meninggal dunia di Mertutu, Ermera pada tahun 1998. Tongkat kepemimpinan selanjutnya dibawah Francisco Guterres ‘Lu’olo’ sampai dengan referendum pada tahun 1999.

Hampir belasan tahun Fretilin tidak ada struktur maksimal. Namun daya juang dan spirit kebebasan tetap berapi-api. Bahkan kebebasan nasional bukan milik Fretilin tetapi pada umumnya menjadi salah satu prinsip rakyat Timor Leste untuk memperjuangkan. Bahkan bisa dibilang bahwa perubahan nama CNRM ke CNRT di Peniche Portugal pada tahun 1998 yang dianggap sebagai alat pemersatu menurut saya sangat terlambat ketika rakyat ini telah dibakar oleh api nasionalis akibat dari penindasan dan kekerasan panjang yang dialamatkan kepada rakyat yang bukan orang Fretilin dan partai lain pun menjadi korban. Mereka korban lagi-lagi bukan atas nama Fretilin tetapi demi nama bangsa timor yang kini menjadi Timor-Leste.

Pemilihan pertama bagi rakyat Timor-Leste yang diselenggarakan oleh UNTAET pada tahun 2001, Fretilin keluar sebagai pemenang dan mendominasi kursi parlamen. Dan Francisco Guterres ‘Lu’olo sebagai ketua Parlamen Nasional dan Dr. Mari Alkatiri sebagai Perdana Menteri dan sekaligus sebagai kepala pemerintahan RDTL. Kabinet Mari Alkatiri didominasi oleh anggota Komite Sentral Fretilin. Bagian terbesar dari Kabinet itu adalah memilih teman seperjuangan Mari yang selama ini lebih banyak tinggal di luar negeri pada masa resistensi. Keberadaan mereka di luar negeri karena keadaan perang pada waktu itu.

Kabinet ini dilantik oleh Presiden RDTL Xanana Gusmão pada tanggal 20 Mei 2002 di depan Palazio do Governo. Kabinet Mari Alkatiri sejak 20 Mei 2002 hingga kini sudah dua (2) kali mengadakan perombakan. Perombakan kabinet kedua mengundang banyak reaksi di kalangan masyarakat. Banyak komentar miring atas perombakan dan penambahan kabinet itu. Namun pemerintah Mari Alkatiri tetap eksis. Kendati demikian berbagai macam persoalan telah dialamatkan kepada Kabinet Fretilin terutama kepada kepemimpinan Mari Alkatiri. Mulai dari masalah rasis, suap, nepotismo, arongan dan masalah yang paling berpengaruh adalah pemecatan terhadap 594 anggota F-FDTL pada bulan Maret tahun ini. Dampak dari pemecatan terhadap anggota F-FDTL itu melahirkan tragedi 28 April 2006 yang memakan korban jiwa. Data sementara yang sudah diketahui umumnya adalah (lima) 5 orang meninggal dan puluhan orang mengalami luka parah. Dan puluhan rumah dan kios dibakar oleh massa. Dampak lain dari pemencatan terhadap anggota F-FDTL itu rakyat dinegeri ini digoyang isu dan membuat panik. Dan terjadi arus pengungsi sangat dratis di kota Dili. Dan sampai sekarang sebagian masyarakat belum kembali ke Dili untuk melakukan aktivitas mereka. Ini menjadi salah satu pukulan yang sangat memabukkan bagi Mari Alkatiri.

Selain masalah eksternal diatas, Mari dan Lu’olo juga mendapat berbagai macam kritikan didalam tubuh komite sentral Fretilin sendiri. Seperti kritikan dari Vicenti Maubosi dan Reis Kadalak setahun lalu. Banyak anggota Fretilin yang tidak puas dengan kepemimpinan Mari dan Lu’olo’ sehingga mereka keluar dan mendirikan partai lain.

Bicara tentang Fretilin saat ini tidak terlepas dari figur seorang Mari Alkatiri. Begitu juga bicara tentang pemerintahan saat ini juga tidak terlepas juga dari pengaruh Mari Alkatiri. Apa yang dilakukan oleh pemerintah berdampak positif sebagai salah satu pujian kepada pemerintah. Tetapi kesalahan pemerintah pasti dialamatkan kepada Mari Alkatiri. Jadi bisa dibilang bahwa bicara tiga (3) serangkaian yang tidak terlepas dari figur seorang Mari Alkatiri. Yaitu bicara tentang Fretilin adalah Mari Alkatiri. Bicara tentang Mari Alkatiri adalah Fretilin. Dan bicara tentang pemerintahan dan kabinet adalah bagian dari kehidupan pribadi Mari Alkatiri. Bahkan berbagai komentar miring juga tentang kebijakan-kebijakan Parlamen Nasional seringkali dialamatkan kepada Mari Alkatiri.




Tantangan Fretilin lewat kongres partai

Masalah utama Fretilin terletak pada orang-orang yang ada di Fretilin itu sendiri. Menjelang kongres Fretilin terjadi ketegangan antara orang-orang Fretilin sendiri. Kelihatannya Fretilin saat ini sedang dibedah. Yaitu siapa mendukung siapa dan siapa tidak mendukung siapa. Hal ini terlihat dari pencalonan Igidio de Jesus dan Jose Luis Guterres yang kemarin (15/5/2006) diumumkan lewat konferensi pers di Hotel 2001, Metiut Dili. Sementara dilain tempat Estanislau da Silva yang saat ini sebagai menteri pertanian tetap mendukung Mari Alkatiri dan Francisco Guterres untuk memimpin Fretilin ke depan.

Kepemimpinan figur baru Fretilin ke depan entah Mari-Lu’olo atau Jose Luis-Egidio atau yang lainnya terletak pada peserta kongres. Dari formasi ini punya pengaruh terhadap pemilihan umum 2007 yang akan datang. Apakah Fretilin tetap keluar sebagai pemenang dengan mayoritas atau ada keseimbangan dengan partai lain.

Namun perkiraan bahwa seandainya Fretilin tetap sebagai pemenang pada pemilihan 2007 yang akan datang paling tidak Fretilin harus belajar dari pemerintahan sekarang. Sehingga tidak terulang lagi kesalahan-kesalahan masa lalu. Tetapi jangan lupa bahwa kabinet yang akan datang setelah pemilihan umum 2007 akan dibebani dengan berbagai macam persoalan yang ditinggalkan oleh kabinet sekarang. Seperti persoalan para Veteran, rekomendasi CAVR yang belum ditindak lanjuti, pembayaran eks pegawai negeri Indonesia yang belum dibayar dan masalah teknis lainnya. Seperti sengketa tanah, terbatasnya lapangan kerja dan masalah F-FDTL yang sampai sekarang naik ke permukaan dan lainnya. Dan masalah keadilan bagi keluarga korban yang sampai sekarang belum ada kepastian.

Pernyataan Mari Alkatiri baru-baru ini mengatakan bahwa kalau pada kongres nanti Ia tidak terpilih lagi maka ia akan mundur dari Perdana Menteri. Kalau memang pada kongres nanti Dr. Mari Alkatiri tidak terpilih lagi sebagai sekretaris partai dan ia mundur dari Perdana Menteri adalah hak dia dan kita harus menghargainya. Tapi satu konsekuensi yang akan dipikul oleh bangsa ini ke depan adalah apakah mundurnya Mari dari Perdana Menteri dengan pertanggungjawabannya bagaimana. Karena banyak jabatan publik berada di pundaknya selain sebagai Perdana Menteri. Seperti menteri ekonomi dan negosiasi celah timor dengan pemerintah Australia itu bagaimana. Dan bagaimana juga dengan keadaan kas negara dan masalah asset lainnya selama masa kepemimpinannya. Ini perlu dibicarakan oleh Komite Sentral Fretilin seandainya Mari benar-benar mundur dari Perdana Menteri belum pada waktunya. Pernyataan Mari bukan menjadi salah satu ancaman bagi Fretilin tetapi Fretilin sendiri harus punya pilihan yang tepat. Sehingga tidak semata-mata merebut kursi kekuasaan tetapi bagaimana menyelamatkan negeri ini ke depan, karena untuk sementara ini berada di tangan Perdana Menteri.

Perpecahan di tubuh Fretilin menjadi salah satu keuntungan bagi partai lain. Tetapi satu catatan yang perlu diingat bahwa orang-orang Fretilin yang tidak puas dengan kebijakan Fretilin dan mendirikan partai sendiri atau bergabung dengan partai lain menjadi salah satu kekuatan Fretilin itu sendiri. Benar atau tidak itu nanti ditentukan lewat pemilihan umum baru kita menilainnya. Karena bisa terjadi koalisi antara partai atau juga rakyat yang akan menentukan lewat pemilihan umum. Pada dasarnya partai lama lebih memikat rakyat ketimbang partai baru. Apalagi partai baru belum meyakinkan rakyat dengan sebuah kenyataan yang pasti. Ditambah lagi dengan isu-isu yang membuat panik masyarakat dengan sendirinya masyarakat akan menghukum partai-partai yang kurang bersinar dan punya potensi menimbulkan konfilik ke depan.

Timor Post, 17/5/06
*Helio Freitas, bekerja pada Asosiasi Jornalis Timor Lorosa’e

No comments: