Thursday, May 04, 2006

Perbedaan Menuju Perubahan

Apapun dan bagaimanapun manisnya dunia ini pasti selalu ada perbedaan. Entah itu indahnya romantisme dalam dunia percintaan atau pahitnya dunia politik. Biasanya dalam dunia politik yang menang akan naik ke podium sedangkan yang kalah akan tersingkir.

Selain perbedaan antara menang dan kalah, dunia juga mempunya cerita, yakni tak akan pernah jadi satu warna dan juga satu ide dalam masyarakat yang seragam. Secara umum pemikiran masyarakat menganut bermacam-macam ide dan perbedaan ide atau pendapat tersebut haruslah dihargai bila ingin hidup dalam dunia yang demokratis. Kalau dalam kategori politik atau partai politik bisa dibilang tak pernah seragam. Contohnya perbedaan ideologi seperti Marxis, Sosialis, Democrat, Liberal, komunis dan sebagainya.

Ivan Illich, dalam bukunya “menggugat kaum kapitalis” berbunyi demikian “pelimpahan masyarakat lewat dominasi kaum mayoritas makin lengkap oleh ilusi yang berkuasa. Harapan untuk keselamatan religius digantikan oleh harapan pada negara sebagai pemimpin mereka”. Pengalaman selama 24 tahun bersama regim Indonesia, merupakan salah satu contoh kongkrit yang membuktikannya ke arah itu.

Benny K. Harman, dalam bukunya “Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia” mengatakan bahwa “birokrasi di Indonesia mempunyai self igame bahwa pejabat itu sangat tahu, sangat pintar, sementara rakyat tidak tahu apa-apa dan dianggap bodoh”. Akibat dari itu tugas para birokrat yang seharusnya melayani masyarakat justru dilayani oleh masyarakat. Kalau ada pelayanan dari masyarakat bukan berarti suatu kewajiban para birokrasi. Tetapi pelayanan itu kadang-kadang dianggap sebagai suatu hadiah kepada masyarakat.

Dalam bingkai cerita diatas untuk konteks pengalaman politik kita di Timor Lorosaé harus menjadi satu catatan tersendiri. Berbagai polemik di masyarakat selama ini punya cerita dan spekulasi yang berbeda-beda. Contoh kasus selama 24 di bawah kekuasaan regim Indonesia, banyak orang mengatakan bahwa refrendum 30 Agustus 1999 adalah kemenangan salah satu partai politik yaitu Fretilin, dan tanggal 30 Agustus 2001 kembali terulang Fretilin yang keluar sebagai pemenang pemilu di antara 15 partai politik. Di kaitkan dengan pidato-pidato lewat kampanya partai politik bisa memperkuat polemik itu. Misalnya dalam setiap pidato partai politik selalu mengatakan bahwa selama ini yang berjuang adalah Fretilin dan hanya Fretilinlah yang bisa membebaskan rakyat dari regim penindasan.

Kalau dikaitkan dalam kekuasaan birokrasi bisa ditafsirkan lain. Kalau pernyataan ini benar maka selama 24 tahun itu Fretilin telah berkuasa di Timor Lorosaé. Catatan kecil ini bukan berarti menutupi perjuangan Fretilin tetapi ada hal lain yang perlu dilihat secara jernih. Dalam konteks kekuasaan birokrasi harus menjadi satu perhatian yang serius. Supaya pengalaman orde baru di Indonesia selama 34 tahun tidak terjadi kepada rakyat Timor Lorosaé. Untuk menata negeri yang sangat baru ini tidak harus dikuasai oleh satu warna atau satu ideologi tertentu. Tetapi harus ada ruang lain bagi partai lain untuk ikut berpartisipasi dalam menata negeri ini. Pernyataan Ir. Mario Viegas Carascalao bersama partainya harus dilihat secara positif. Kenapa Partai Sosial Demokrat tidak masuk dalam kabinet transisi kedua. Apakah sekedar menolak untuk masuk dalam kabinet atau ada persoalan lain.

Dari perbedaan ide antara partai pemenang pemilu dan partai-partai yang ikut dalam assemblea konstituate, paling tidak menjadi catatan khusus bagi kita semua bahwa perbedaan menuju perubahan adalah suatu hal yang harus diterima secara ideal. Karena membangun sebuah negara yang sangat baru tidak harus didominasi oleh sebuah ideologi tertentu tetapi alangkah baiknya kalau bisa menerima semua partai politik atau organ lainnya yang punya keprihatinan yang sama demi kebebasan nasional secara keseluruhan. Perbedaan menuju perubahan seperti ciri khas dalam makanan tradisional Timor Lorosaé. Marotok. Sepiring nasi dicampur dengan banyak daun entah daun pepaya atau lainnya namun pada dasarnya tetap enak untuk dimakan. Dan tradisi makanan marotok hingga kini tetap dipertahankan.

No comments: