Thursday, May 04, 2006

OE-CUSSI

Sewaktu masih kecil entah umurku berapa tak ingat. Aku sering ikut orang tua atau sanak saudara lainya menghadiri berbagai acara tradisional. Misalnya seperti musim saatnya untuk makan jagung muda atau panen padi. Biasanya setiap suku selalu merayakan upacara perayaan menyambut musim itu. Hal ini ditanda dengan potong berbagai macam hewan piaraan. Kadang-kadang jenis warnanya harus sama. Yaitu merah atau hitam dan lain sebagainya. Tergantung kebijakan adat masing-masing. Selain itu diadakan tarian dan tebe-tebe. Selain itu ada juga aduh kekuatan antar manusia. Atau aduh ayam.

Aduh kekuatan manusia memang tak ada hadiah tapi mendapat julukan sebagai jagoan. Dan punya nama besar dikampung yang bersangkutan. Saya memang tidak lihat secara langsung tapi dari cerita orang tua setidaknya saya bisa memahinya dan percaya.

Entah berapa kali saya menghadiri acara-acara seperti ini, tapi yang sangat tajam dalam memoriku adalah ketika aku menghadiri upacara adat di sebuah kampung terpencil di kaki Gunung Watulawa sub distrik Ossu. Aku hanya ingat pada empat hal.

Pertama ucapara pembatisan. Yaitu memberi tanda hitam di dahi pada setiap orang yang hadir. Seperti ketika kita menghadiri upacara Rabu Abu. Sebagai tanda membuka puasa selama 40 hari bagi agama Katolik.

Kedua, ketika itu musim hujan. Aku masih ingat lokasi perayaan upacara adat itu. Keempat cara berpakaian. Karena aku masih kecil cara berpakaian pun ditentukan oleh orang tua. Kala itu aku memakai sebuah celana pendek elastis, dan sebuah kemeja. Kemudian sebuah selendang tradisional. Sebagaimana layaknya pakaian adat yang sering kali dipakai oleh anak-anak atau orang dewasa pada acara-acara resmi.

Ketika perang berkecamuk. Semua orang sibuk untuk menyelamatkan diri masing-masing. Termasuk barang-barang yang paling berharga untuk disembunyikan. Yaitu dengan membuat kuburan di halaman rumah atau mencari goa di gunung-gunung untuk memyembunyikannya. Orang tuaku juga sibuk mengurus barang-barang berharga untuk disembunyiknya. Termasuk sebuah selendang tradional yang aku pakai pada acara tradional itu.

Kekuatan militer semakin gencar mengungsilah setiap penduduk untuk mencari tempat yang lebih aman. Artinya lari ke hutan sejauh mungkin. Dan tidak semua barang-barang disembunyikan itu dibawah juga. Dan hanya ditinggalkan begitu saja. Percaya saja bahwa pasti aman.

Di tengah pengungsian yang semakin jauh menghadapi berbagai macam tantangan. Terutama dalam masalah makanan. Karena ketika mengungsi hanya membawa bekal makanan untuk bertahan satu atau dua minggu saja. Maka orang tua dan penduduk lainnya kembali ke tempat asal terutama tempat penyimpanan dan persembunyian barang-barang tadi untuk mengambil makanan dan keperluan lainnya. Setiap kali perjalanan membutuhkan waktu 3-4 hari untuk kembali ke kamp pengungsian. Itu pun hanya membawa bekal seandainya.

Dari situlah diketahui bahwa tempat persembunyian barang-barang telah digeledah orang. Dan jejak pun tak nampak. Entah siapa pelakunya. Tapi kecuriaannya bukan terhadap musuh tetapi justru sesama penduduk yang sama-sama tinggal dalam sekampung dan kini sama-sama lari ke hutan. Tentu saja banyak barang-barang berharga lainnya hilang. Aku tak tahu karena aku tidak pernah melihat harta benda orang tua seperti apa yang disembunyikan. Karena proses menyembunyikan barang-barang ke goa aku tak pernah ikut.

Perjalanan panjang mengungsi terus berlanjut. Kalau dihitung-hitung tinggal pada satu lokasi paling lama hanya tiga atau empat bulan setelah itu pindah lagi. Dan seterusnya sampai di gunung Matebian.

Ada sebuah acara yang cukup menarik di daerah Sana dub distrito Watulari. Sekitar tujuh hari mengadakan pesta. Saya kurang tahu apa tujuan pesta itu. Tapi sekilas dalam bayangan ku sampai sekarang yang masih kuingat adalah acara tebe-tebe dan tarian. Dari acara tujuh hari itu ibuku berbisik kepadaku. Selandang kamu di pakai oleh seorang ibu. Coba kau lihat disana. Ketika aku dekati ternyata benar. Bahwa selandang itu hilang bersama barang-barang berharga lainya ditempat persembunyian. Ketika acara pesta tujuh hari itu selesai ibuku memperkara masalah ini ke leader suku. Karena barang-barang yang hilang telah didapat sebagian di acara ini. Terutama lewat selendang. Perkara itu sempat dibicarakan entah beberapa kali. Dan belum tuntas hingga kini. Karena kepepet dengan militer Indonesia semakin mendekat.

Ibuku butu huruf. Ketika para leader politik tanya kepada ibu ku apakah benar bahwa selandang itu milik ibu. Ibu ku jawab, benar. Coba ibu ceritakan apa ciri-ciri yang terdapat dari selandang itu. Ibu ku mengatakan bahwa selandang itu adalah hadiah dari seorang kerabat kepada anak saya. Pada selandang itu tertulis OE-CUSSI. Ketika selandang itu dipertontokan dan dilihat oleh leader politik dan semua orang ternyata benar bahwa disitu terdapat tulisan OE-CUSSI. Dan selendang tersebut adalah produksi dari OE-CUSSI.


Helio Freitas

No comments: