Thursday, May 04, 2006

Mengenang Kisah Masa Lalu

Dua puluh enam tahun lalu ketika revolusi bunga pecah di daerah-daerah koloni Portugis dan terjadilah juncta militer di Portugal pada 5 April 1974 lalu, dan bersamaan dengan itu lahirlah lima partai di Macau dan selanjutnya di Timor Leste atas persetujuan pemerintah Portugal. Ketika itu pemerintah Portugal tidak sanggup lagi untuk berkuasa terus di seluruh wilayah jajahannya. Salah satunya adalah Timor Leste. Karena di Portugal juga terjadi krisis politik yang cukup parah. Namun persoalannya adalah Portugal selama 450 tahun di bumi Lorosae tidak pernah mempersiapkan sumber daya manusia di Timor Lorosae. Kepentingan mereka semata-mata untuk menjajah rakyat Timor secara ekonomi, budaya dan politik. Dan di atas segalanya adalah tidak pernah memberi peluang kepada masyarakat untuk menikmati dunia pendidikan.
Akibat krisis politik di Portugal, rakyat Maubere-lah yang menjadi sasaran. Yaitu memaksa rakyat untuk berpartai. Bisa dikatakan bahwa ketika itu pemerintah Portugal tidak memberi 'pendidikan politik' kepada masyarakat. Apa keuntungan dan kerugian berpolitik kepada masyarakat waktu itu. Target mereka adalah menghisap seluruh hasil bumi Timor Lorosa;e. Setelah puas kemudian pergi. Barangkali pengalaman 25 tahun silam tidak harus menjadi beban moral pada salah satu partai waktu itu.
Tetapi kalau mau realistis untuk melihat sejarah masa lalu Portugal-lah yang harus digodok duluan. Lalu kita mulai menggambarkan hari demi hari ketika Portugal angkat kaki dari sini. Dan seterusnya tragedi kemanusiaan berlanjut dari tanggal 7 Desember 1975 sampai dengan September 1999. Selama dua puluh empat tahun lamanya jelas kekejaman sadis yang dilakukan ketimbang 450 tahun silam. Maka kita harus realistis untuk melihat apakah tragedi kemanusiaan itu karena perselisihan antar partai misalnya 4 partai melawan satu partai atau karena ada pihak ketiga di balik pertikaian itu.
Peta politik dari masing-masing partai tersebut tidak jelas ke masyarakat. Begitu juga partai-partai tersebut belum melakukan sosialisasi ke masyarakat; tetapi partai-partai tersebut saling bertengkar. Tidak jelas apa yang mereka rebutkan ketika itu. Masyarakat hanya tahu kalau ada kudeta antara UDT dan Fretilin, APODETE dan lain-lain. Dan selanjutkan kekuasaan sementara jatuh ke partai lain, yaitu Fretilin. Dan Persis tanggal 28 November 1975, Fretilin secara unilateral memproklamirkan kemerdekaan Timor Leste yang saat ini dikenal dengan República Democrática Timor Leste (RDTL).
Sebagai Presiden pertama RDTL adalah Francisco Xavier do Amaral. Banyak orang kenal beliau saat itu. Meskipun pada pemilu presidensial ia gagal untuk merebut kursi era kemerdekaan total. Tentu partai lain yang kalah dalam kudeta itu juga punya strategi. Yaitu meminta perlindungan ke tetangga sebelah. Dan orang pertama Timor Leste yang mendatangi Indonesia untuk meminta bantuan adalah alm. Arnaldo dos Reis Araujo dari partai APODETI. Dan atas bantuan seorang intelijen yang masuk di sini sebagai pedagang pura-pura yaitu Sugianto. Orang inilah yang sangat berperan mempertemukan para lider politik Timor Leste dengan alm. Ali Murtopo waktu itu. Dari situlah proses rekayasa integrasi dimulai. Dan akhirnya RDTL baru berusia satu minggu, militer Indonesia secara ilegal masuk menyerbu bumi Lorosae pada 7 Desember 1975.
Ketika itu negara-negara besar menutup mata atas tragedi kemanusiaan tersebut dan malah memberi dukungan fasilitas berupa peralatan militer untuk menyiram masyarakat sipil yang tidak bersenjata. Proses invasi militer Indonesia sangat panjang. Mereka tidak habis berpikir ketika adanya perubahan politik. Bahkan adanya tanda-tanda untuk angkat kaki dari sini pun mereka tetap nekad untuk membunuh masyarakat sipil. Meskipun kemenangan sudah ada di tangan masyarakat Timor Leste lewat Refrendum 30 Agustus 1999, tetapi mereka tidak punya rasa kemanusiaan untuk tetap bertahan dan membunuh masyarakat secara membabi buta.

Leo

No comments: