Thursday, May 04, 2006

Menang atau Kalah

Dalam pertandingan sepak bola kita ditantang untuk menang. Sekaligus juga ditantang untuk siap menerima kekalahan. Lihatlah pertandingan kualifikasi Piala Dunia Minggu, 2 September 2001 antara Jerman dan Inggris. Skornya 5-1 untuk Inggris. Jerman bisa menerima realitas, kendati begitu pahit. Contoh lagi: pertandingan paling bergengsi, final Piala Dunia di Prancis, 1998. Banyak yang mejagokan Brazil waktu itu. Ternyata Brazil kalah 0-3 melawan tuan rumah. Zidane dan kawan-kawan begitu perkasa di depan publiknya sendiri. Brazil pun mengelus dada.

Menang atau kalah menjadi hal yang sangat biasa dalam pertandingan. Entah itu tinju, catur, balap mobil atau yang lainnya. Namanya juga pertandingan: pasti salah satu harus keluar sebagai pemenangnya.

Dunia politik pun arena pertarungan juga. Pertarungan dalam dunia politik adalah bagaimana kita bisa merebut kepercayaan publik lewat program atau pidato kita. Yang menjadi pemenang dalam pertarungan politik ditentukan oleh masyarakat. Wadah utamanya adalah pemilihan umum.

Demikianlah, kita di Timor Lorosaé baru saja menyaksikan pertarungan politik terakbar. Yaitu pemilu untuk menentukan Dewan Konstituante. Kita sedang menunggu hasil perhitungan suara oleh Komisi Pemilu Indepeden (KPI). Merekalah wasit sekaligus penyelenggaran pemilu. Kita tunggu saja siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam kontes 16 partai politik.

Dadu bermata 16 ditambah 5 mata lagi angka (calon nasional independen) telah diputar. Dadu tersebut akan berhenti pada salah satu angka. Apakah akan berhenti pada nomor PNT atau Fretilin atau PD, atau PSD, kita lihat saja.

Kita telah mendengar rupa-rupa pidato selama putaran kampanye. Kemudian, ragam perkiraan kita dengar atau baca sehubungan dengan hasil pemungutan suara. Spekulasi pun merebak di tengah masyarakat. Ada yang bilang partai B yang akan menang. Yang lain mengatakan partai Z-lah yang akan berjaya. Puspa warna perkiraan itu, di sisi lain, hanya akan semakin menambah kekhawatiran masyarakat. Ada anggota masyarakat misalnya yang mempertanyakan bagaimana nasib mereka nanti kalau sampai benar bahwa sebuah partai tertentu meraih seluruh kursi. Persoalannya adalah partai yang menang itu akan mendominasi kabinet. Selanjutnya, menguasai penyusunan konstitusi negara. Sebuah kekhawatiran yang tak beralasan, tentunya. Karena tak akan mungkin sebuah partai merenggut seluruh kursi sekaligus.

Kalau ada kalangan di masyarakat yang berharap bahwa pemilu 2001 tidak didominasi oleh satu partai politik tertentu, itu wajar. Sama wajarnya dengan keinginan agar kabinet yang akan datang melibatkan partai-partai lain, baik partai tahun ´75 maupun yang lahir di masa transisi. Keberadaan sebagian partai-partai baru kelihatannya tak terlalu menjadi masalah. Kebanyakan masyarakat tidak meragukan integritas pimpinan tertentu dari partai pendatang baru itu. Masyarakat merasa benar-benar mengenal mereka sebagai kaum yang juga punya peran dalam proses pembebasan tanah Lorosaé dari regim Indonesia. Yang dimasalahkan adalah partai produk tahun ´75 yang sebagian didominasi orang-orang lama yang selama ini berdiam di luar negeri. Masyarakat meragukan komitmen mereka. Dikhawatirkan bahwa siapa tahu suatu saat nanti mereka akan kabur lagi dari Tanah Lorosaé.

Siapa pun boleh saja meragukan komitmen orang lain. Asalkan ada dasarnya. Yang penting, semuanya perlu lapang dada menerima hasil pengumuman akhir pemilu 2001. Kalah atau pun menang tetap menjalin kerja sama untuk membangun Timor Lorosaé ke depan.

Helio Freitas

No comments: