Thursday, May 04, 2006

Lucia

Ada kegelisahan manusia. Kegelisahan karena tidak tahu menahu riwayat sejarah hidupnya. Ia bagaikan ditopang oleh sebuah bayangan yang menghantuinya. Menjadi besar dan sudah beranak cucu tapi tak tahu riwayat asal-usulnya. Inilah sebuah kegelisahan. Kini anak-anak dan cucunya menguggat. Hingga kini ia tak bisa menjelaskannya. Ia selalu gelisah. Dan lebih banyak diam ketimbang memberi jawaban kepada setiap pertanyaan.

Namun selintas dalam gambarannya bahwa ibunya (Lucia red.) adalah berasal dari sebuah sub distrik di Timor Lorosae. Sekitar 70 tahunan lalu Lucia pergi dengan permaisuri menuju sebuah kerajaan pada sebuah desa terpencil. Lucia memang diijinkan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi hamba bagi permaisuri tersebut. Kalah itu Lucia sekitar berumur belasan tahunan.

Ketika sampai pada tujuannya permaisuri yang didampingi oleh Lucia beranak cucu. Sementara Lucia sendiri juga melahirkan seorang bayi perempuan. Tak jelas suaminya. Siapa sebenarnya bertanggungjawab atas nasib Lucia. Terutama bagi bayinya. Terpaksa bayi tersebut dibesarkan dalam lingkungan dimana permaisuri itu tinggal.

Lucia melahirkan seorang bayi perempuan tidak pernah diberi kesempatan untuk melihat orang tua Lucia di daerah asalnya. Keluarga Lucia tak tahu menahu selama keberadaan Lucia ketika ia pergi bersama permaisuri tersebut. Orang tuanya Lucia juga tak tahu kalau Lucia punya seorang bayi perempuan. Orang tuanya juga tak pernah tahu apa yang selama ini dikerjakan oleh Lucia. Barangkali keluarga Lucia yang ditinggalkan juga tidak tahu kalau Lucia sendiri punya keturunan.

Ketika Lucia meninggal dunia bayi perempuannya masih belia. Ia belum bisa mengenal apa-apa. Ketika gadis tersebut menginjak masa remaja ia juga tidak tahu siapa sebenarnya ibu dan bapaknya. Orang tua dan sanak saudara Lucia sendiri juga tidak tahu dimana nisan Lucia.

Sampai gadis itu menikah ia tak pernah mendapat informasi yang jelas dari mana asal-usulnya. Apalagi ia diinjinkan untuk mengetahui dari mana asal-usul ibunya (Lucia red.). Terutama siapa kedua kakek dan neneknya. Juga ayahnya.

Salah satu cucu Lucia ketika tanya sama ibunya ma, siapakah nenek saya? Ibunya tak bisa menjawab. Bahkan ia hanya menahan air matanya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan yang mencoba menghindari setiap pertanyaan yang ada hubungan dengan asal-usulnya ibunya.

Pertanyaan ini memang berat bagi anaknya Lucia. Kalau mau ditelesuri secara mendalam rupanya biang keroknya adalah permaisuri. Kenapa ia tidak mau menjelaskan kepada keluarganya Lucia dan anak perempuannya. Dan siapa sebenarnya yang bisa menjelaskan setiap pertanyaan dari anak-cucunya Lucia. Karena perang gejolak membuat orang lupa pada asal-usulnya.

Hal yang paling fundamental terkait dengan masalah Lucia diatas adalah unsur kesengajaan yang dilakukan oleh permaisuri terhadap riwayat perjalanan Lucia. Lucia merupakan perempuan tak tahu pada sejarahnya. Sehingga darahnya Lucia sendiri saat ini menggugat. Tapi apa boleh buat Lucia telah pergi. Dan tidak meninggalkan pesan kepada anak perempuannya yang kini telah beranak cucu. Lucia kau memang diciptakan untuk korban para penguasa saat itu. Tapi kamu jangan merasa cemas bahwa riwayatmu tetap abadi. Meskipun kau tidak bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Leo

No comments: