Thursday, May 04, 2006

Genoside

Genoside adalah pembunuhan besar-besaran secara berencana dan sistimatis terhadap suatu suku bangsa atau ras tertentu. Indonesia selama 24 tahun di Timor Lorosa’e punya rencana untuk membasmi orang Timor Lorosa’e yang berjiwa revolusioner. Yang ingin membebaskan tanah airnya sendiri dari belungu penjajah. Sejarah Indonesia juga mencatat banyak hal tentang G30 S PKI 1965. Gerakan 30 September 1965. Tahun 80-an di Timor Lorosa’e kita menyaksikan film yang diputar setiap tanggal 30 September malam. Banyak orang tahu tentang isi film itu. Kala itu Soeharto benar-benar menjadi heroik. Kalau diamati secara cermat Soeharto memang ingin merebut kekuasaan. Tragedi 30 September 1965 itulah mengantar Soeharto berkuasa selama 34 tahun. Selama kekuasaan Soeharto orang kenal dengan regim orde baru. Juga dengan simbol Soeharto Bapak Pembangunan. Aktivis Pijar Nuku Sulaiman memberinya SDSB. (Soeharto dalan segala Bencana). Gelar SDSB ke Soeharto itulah Nuku Sulaiman harus masuk hotel prodea selama 5 tahun di Cipinang. Bekas penjara Kay Rala Xanana Gusmao di Jakarta.

Setiap tanggal 30 September menjadi hari yang sangat hitam bagi keluarga korban yang di tuduh sebagai orang-orang komunis atau PKI. (Partai Komunis Indonesia). Akibatnya banyak jenderal atau pejabat lainnya yang diduga terlibat dalam gerakan PKI di penjara. Salah satunya seperti Soebandri menteri keuangan ketika jaman Soekarno. Juga banyak jenderal yang dipindahkan ke luar negeri untuk studi atau sengaja diasingkan. Banyak cerita dari rakyat Indonesia tentang peristiwa itu. Seorang ibu kebetulan tetangga sebelah dengan kostku di Bandung menceritakan hal itu kepada saya. Ibu itu mengatakan begini anak saya sudah puluha tahun di tugaskan di Belanda tetapi sampai sekarang belum kembali. Saya tanya masalahnya apa. Dengan nada sedih itu mengatakan bahwa anak saya dituduh terlibat dalam gerakan PKI. Sehingga di asingkan ke luar negeri. Sambil menahan tangisannya. Ibu itu sudah usianya hampir 70-an. Dia tinggal dengan seorang anak perempuannya. Tetapi anak perempuan tersebut juga usia menjelang tua belum berkeluarga. Keluarga ini benar-benar trauma kalau mengingatkan kembali gerakan 30 September 1965 lalu.

Tragedi yang menimpa seorang ibu dengan anaknya di Bandung tidak jauh berbeda dengan penderitaan ibu-ibu di Timor Lorosae yang kehilangan sanak saudara dan putra-putri pilihan mereka. Lihatlah pada setiap tanggal 12 November kita merayakan masacra Santa Cruz. Banyak ibu-ibu selalu bertanya dengan nada keras dan penuh kesedihan meminta kepada pemerintah Indonesia untuk menunjukkan di mana letak mayat anak-anaknya. Juga tragedi di gunung Matebian tahun 1978-79. Pesawat tempur Indonesia bantuan Inggris menghancurkan kamp-kamp pengungsian masyarakat. Banyak korban yang tidak bisa dihitung. Hingga hari ini pun belum jelas berapa orang yang meninggal di Gunung Matebian itu.

Selaian kasus Santa Cruz, Gunung Matebian, Cararas - Viqeuqeu dan lainnya. Kasus yang paling mutahir adalah September 1999. Untung saja Interfet segera mendarat pada tanggal 20 September 1999 di Timor Lorosa’e. Seandainya tidak, kita juga tidak bisa memprediksi berapa rakyat yang akan korban kala itu. Seperti pengungsian masyarakat yang lari ke atas (hutan). Simaklah beberapa bukti ke belakang sebelum invasi militer 7 Desember 1975. Dalam bukunya L.B. Moedani membeberkan banyak bukti berkaitan dengan invasi militer di Timor Lorosa’e. Ia mengatakan bahwa sebelum invasi militer ke Timor Lorosa’e intelejen-intelejen militer telah masuk ke seluruh pesolok Timor Lorosa’e. Mereka masuk sebagai pedagang. Yaitu menjual batik Solo dan sejenis lainnya. Ketika saya opnam di rumah sakit St. Carolus Jakarta seorang perawat mengatakan begini. Suami saya bekerja di Timor Lorosae. Saya tanya apa pekerjaan suami ibu di Timor Lorosa’e. Kopasus. Namun pekerjaan pokoknya adalah pedagang keliling.

Dari bingkai cerita diatas mengambarkan kepada kita bahwa perang di Timor Lorosae merupakan agenda terencana oleh pemerintah Indonesia. Dan didukung oleh peralatan perang yang canggih dari negara-negara besar. Seperti pesawat jet, tank-tank dan beberapa jenis senjata otomatis lainnya. Dan punya pasukan tempur yang terdidik dengan pendidikan militer di luar negeri. Seperti sekolah militer di Amerika, Jerman, Inggris dan Australia. Dan punya pengalaman bertempur di luar negeri seperti masuk dalam misi PBB yang biasa disebut dengan pasukan Garuda satu dan seterusnya. Timor Lorosa’e punya ape!!!!!!!!!. Rakitan pun tidak. Kecuali dididik oleh militer Indonesia kepada milisi ketika gencarnya kampanya otonomi di Timor Lorosae.

Perang di negeri ini berjalan selama 24 tahun. Setiap tragedi dan kejadian selalu punya cerita sendiri. Tidak cukup menghitung tragedi di Timor Lorosa’e dalam satu hari atau info sekilas. Inti dari perang di Timor Lorosa’e maupun Gerakan 30 S tahun 1965 di Indonesia merupakan Genoside. Pembunuhan yang direncanakan untuk membasmi orang-orang atau gerakan-gerakan yang melawan regim Soerharto secara sistimatis. Perang yang dibungkus secara rapi seperti yang tulis oleh G. Taylor dalam bukunya perang tersembunyi di Timor Lorosae.

.
Helio Freitas

No comments: