Thursday, May 04, 2006

F A L I N T I L

Helio Freitas

Ketika para tentara Indonesia menerbu bumi Lorosae yang mengadakan perlawan terhadap TNI adalah partai Fretilin. Karena ketika itu hanya Fretilinlah mempunyai kekuatan bersenjata. Partai UDT dan Apodete mempunyai pasukan tapi cenderung lebih banyak membantu pasukan Indonesia. Dan strategi politiknya untuk memuluskan rakyat integrasi total ke Indonesia.

Perkembangan politik dan situasi selanjutnya memaksa para politikus Fretilin untuk memikirkan strategi pertahanan. Maka akhirnya dibentuklah Falintil. Perjalanan perjuangan Falintil selama 24 tahun eksis di masyarakat. Perlawanan melawan musuh Falintil bersama mitranya yaitu klanestin dan politik diplomatik luar negeri. Dengan strateginya bergerilya di hutan dan dikota. Baik di Timor Lorosae maupun di seluruh kota pulau Indonesia bahkan di luar negeri seperti Australia, Portugal dan lain-lain. Politik diplomat luar negeri selalu mengadakan kampanya dan loby ke setiap negara yang selama ini mendukung kebebasan Timor Lorosae.


serta kampanya besar-besaran di luar negeri. Dan hari-hari ini kelihatannya kasus Falintil kian memusak kepermukaan. Tentu saja memcabit mulut banyak orang untuk berkomentar terhadap keberadaan mereka selama ini. Suatu keprihatinan yang sangat mendalam.

Tulisan ini semata-mata ingin melihat dari sudut yang paling kecil tentang persoalan Falintil. Bahwa pengalaman perang atau keberadaan mereka selama ini semutpun mengakui tentang eksistensi mereka kata Komandate Falur Rate Laek baru-baru ini dengan radio Untaet. Kadangkala banyak orang mengatakan bahwa sekilas untuk makan minum waktu mereka masih bergerilya dihutan lebih baik dibandingkan dengan situasi sekarang. Tentu saja ini benar adanya. Karena ketika mereka masih bergerilya dihutan mungkin saja sumbangan dari masyarakat setiap saat selalu ada. Begitu juga untuk hasil alam ala makanan Maubere tentu sangat familiar dengan mereka untuk bertahan. Pertanyaan besar kenapa ketika masa bergerilya selesai dan mereka turun ke kota malah kekurangan makanan. Dan mereka menghadapi banyak sekali persoalan sosial lainnya. Salah siapa dan dosa siapa terhadap nasib mereka.

Satu segi yang bisa dipahami adalah misalnya tentang sumbangan masyarakat. Jelas masyarakat menghentikan sumbangan mereka karena masyarakat menggangap Falintil telah kembali ke rumah masing-masing dan bersama dengan keluarganya. Karena masa gerilya telah selesai. Masyarakat melihat posisi Falintil adalah tanggungjawab pemerintahan sekarang. Entah CNRT atau UNTAET. Dari situlah kita melihat bahwa pemerintahan sekarang lebih sibuk dengan persoalan lain ketimbang mereka memikirkan nasib Falintil. Mungkin saja pemerintah melihat bahwa selama bertahun-tahun para Falintil di hutan sudah hidup dengan tradisi mereka jadi tidak perlu butuh perhatian yang serius. Sehingga pemerintah sibuk dengan persoalan lain. Meskipun harus diakui bahwa secara khusus pemerintah Portugal memberi bantuan kepada Falintil tetapi menurut saya sangat terlambat ketimbang melihat subtansi persoalannya. Bantuan-bantuan itu baru berupa bahasa-bahasa diplomatis dan sebatas janji. Dan realisasinya nanti dulu.

Pemerintahan sekarang dari awal melihat posisi Falintil seperti 24 tahun lalu tentu saja pemerintah sangat tidak siap bagaimana mau menempatkannya. Di negara mana saja pengalaman membuktikan bahwa yang namanya pasukan atau memengang peranan keamanan harus di perlakukan pemerintahnya secara khusus. Paling tidak persoalan sosial seperti sandang dan pangan selalu terpenuhi. Kalau tidak suatu saat sentra-sentra ekonomi masyarakat akan mereka rebut secara paksa. Atau mereka akan mengunakan posisi mereka sebagai dwifungsi. Yaitu mentaati disiplin militer sebagai keamanan tetapi disisi lain mengunakan posisi mereka untuk bersaing dengan masyarakat. Misalnya masuk pada lahan bisnis atau sebagai broker-broker untuk kepentingan para bisnismen atau kaum kapitalis. Tentu saja suatu saat akan merusak citra mereka sendiri. Pengalaman seperti Indonesia. Misalnya para jenderal menguasai bisnis seperti kelompoknya Edi Sudrajat dengan Artagraha Group dan kelompok Prabowo dengan Plaza Cijantung dan lain-lain.

Maka dari itu persoalan Falintil saat ini adalah tanggungjawab pemerintahan sekarang. Mau tidak mau para leader Falintil atau CNRT harus melihat persoalan ini dari sisi yang paling dekat. UNTAET menurut saya mereka sama sekali tidak mengerti apa yang seharusnya dihadapi oleh Falintil dan rakyatnya sekarang ini. Apalagi kita mendengar bahwa banyak sekali Falintil kembali ke desa untuk bergabung dengan masyarakat. Kalau sebagai kesadarannya untuk kembali ke desa dan bersama dengan masyarakat tidak menjadi persaolan.Tetapi kembali ke desa karena persoalan sosial dan lainnya tentu saja ada buntutnya di kemudian hari.

Dili, 26 Juli 2000

No comments: