Thursday, May 04, 2006

Dua tipe anak

Manusia dilahirkan, laki-laki dan perempuan. Dari abad ke abad manusia tidak bisa menentukan apakah anak yang akan lahir itu perempuan atau laki-laki. Sekitar tahun 1990-an, tehnologi kedokteran bisa menentukan jenis kelamin janin, menurut kemauan orang tuanya. Bukan menurut kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, penggunaan tehnologi ini bisa dihitung dengan jari.

Menurut Dr. James Dobson, ada dua jenis anak. Yaitu anak perempuan dan anak lelaki. Namun, menurutnya kita bisa membagi anak-anak dalam dua kategori, yakni sesuai dengan temperamen dasar anak-anak itu sendiri. Hal yang paling prinsipil adalah ketika anak-anak masih di dalam rahim ibunya dan sesudah lahir.

Pertama terdiri dari “anak-anak yang selalu patuh”, yaitu tipe anak-anak yang tidur sepanjang malam sejak minggu kedua dalam hidupnya. Kelompok anak ini dikategorikan sebagai anak-anak yang lucu, berceloteh kepada kakek, dan nenek mereka. Tipe anak ini sering tersenyum ketika popok mereka sedang diganti orang tuanya. Seolah-olah anak-anak dilihat sebagai permata di mata orang tua atau kakek-neneknya. Ketika mulai masuk pada masa kanak-kanak atau beranjak dewasa pembawaannya selalu lain. Misalnya mereka pergi ke tempat umum seperti ke tempat ibadah, atau toko selalu punya sikap tersendiri. Di tengah perjalanan atau ditempat-tempat itu anak-anak tersebut tidak pernah meludah di sembarangan tempat. Kelompok anak ini merasa bahwa itu tidak boleh dilakukan karena takut terhadap orang tuanya. Mereka juga mencintai hal-hal yang bersih. Maka mereka selalu menjaga kamar agar tetap bersih. Mereka melakukan pekerjaan di rumah tanpa disuruh orang. Ketika menginjak desawa mereka berusaha menciptakan hal-hal unik. Dan hal yang paling tidak disukai adalah diperintah orang tua, atau orang dewasa.

Kelompok kedua terdiri dari anak-anak yang “berkemauan keras”. Tipe anak-anak ini sangat menarik perhatian terutama menarik perhatian ibunya. Terutama anak-anak tipe ini masih di dalam rahim sang ibu. Banyak aktivitasnya. Mereka suka “membubuhkan” tanda tangan di dinding perut dan juga berkali-kali menendang-nendang seperti orang pemberani. Ketika dilahirkan mereka kelihatan seperti seorang jagoan. Dan berteriak kepada para pengasuhnya. Ketika usia menginjak balita dan seterusnya mereka sepertinya mau mengatur diri sendiri. Juga mengatur orang lain untuk mengikuti kemauannya. Hal yang paling ia sukai adalah kata ‘tidak’. Ia tidak gampang dan mudah mengikuti kehendak orang lain, selalu jalan dengan prinsipnya sendiri.

Dari dua kategori ini paling tidak ada hikmahnya tersendiri, terutama bagi orang tua atau orang dewasa untuk belajar dari anak-anak. Karena dari bayi sampai dewasa mereka ada karena kemauan orang tua atau orang dewasa. Atas perbuatannya maka anak-anak itu dilahirkan. Entah dalam kategori pertama atau kategori kedua mereka lahir di dunia karena kehendak orang tua. Maka tidak bisa tidak untuk menerima mereka seutuhnya. Berdasarkan jenis kelamin atau dalam dua kategori di atas.

Dr. James Dobson mengajar sesuatu yang indah buat kita. Setidak-setikdanya kita dibawa pada kesadaran tentang dunia anak-anak. Menurutnya anak yang selalu patuh tentu mudah dibesarkan. Tetapi menurutnya anak yang lebih keras dapat juga menjadi lebih baik dikemudian hari. Caranya dengan membentuk kemauan keras anak di masa-masa awal, tanpa harus menghancurkan semangatnya. Yang bisa dilakukan adalah memberi batasan-batasan yang jelas, semacam pembagian wilayah yang jelas kepada mereka. Apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang. Tetapi hal yang paling kuat sebagai basis mendidik mereka adalah cinta kasih yang besar dari orang tua. Hanya dengan cinta kasih, mereka dibesarkan secara sempurna. Tugas itu adalah tanggungjawab moral dan tantangan terpenting sebagai orang tua. Bila semua itu dilaksanakan dengan benar, anak yang paling bebas pun dapat belajar bertanggungjawab dan disiplin diri.

Bingkai cerita di atas adalah hal yang paling prinsipil sepanjang proses kehidupan seseorang dari bayi hingga dewasa. Dr. James Dobson memberi kerangka yang jelas kepada kita sebagai orang tua atau orang dewasa yang kelak akan mempunyai anak. Setidak-tidaknya seluruh kehidupan anak-anak ditopang orang tua atau orang dewasa. Tetapi pada prinsipnya orang tua harus semaksimal mungkin belajar dari anak-anak apa yang menjadi kemauan anak-anak. Setidak-tidaknya hak mereka sebagai anak harus dilindungi secara jelas.

Meskipun UUD RDTL memberi ruang bagi anak-anak kita. Tapi banyak anak-anak kita yang diterlantarkan, secara ekonomi, kasih sayang dan hak-hak mereka tidak terlindungi. Hal mendasar di negeri ini tentang anak-anak kita adalah kenangan dari tragedi kemanusiaan. Kadang-kadang kita tidak cukup punya waktu belajar bersama mereka. Hal yang menyakitkan adalah keadaan ekonomi. Kita bisa memahami dan semakin banyak belajar dari anak-anak. Dari mana asal-usul dan apa yang menjadi penyebabnya, sehingga mereka menghabiskan waktunya di jalanan. Seorang eksekutif yang dikenal dunia seperti Ir. Mario Viegas Carascalao misalnya. Ya juga mengakui bahwa tidak cukup banyak waktu untuk membesarkan anak-anak. Akibatnya anak-anaknya tidak ada yang bisa menyelesaikan kuliah mendapat gelar S1. Hal itu diungkapkan pada seminar sehari tentang tragedi 12 November 1991 di Ex. Aula CNRT pada tanggal 10 November 2001 yang lalu. Seorang Ir. Mario Viegas Carascalo secara ekonomi mampu dari segala-galanya. Tetapi dia gagalkan mendampingi anak-anaknya. Hal ini karena karier politiknya.

Orang seperti Ir. Mario Viegas sudah gagal mendidik anak-anaknya. Apalagi rakyat kecil. Lebih-lebih masyarakat petani kita yang tinggal diseluruh pelosok wilayah RDTL. Kita bisa menyaksikan sendiri. Hal yang paling mendasar adalah tragedi kemanusiaan memang meninggalkan banyak kenangan. Terutama pada luka batin kita yang paling dalam. Prioritas ke depan adalah apa agenda politik terutama pemerintah atau lider politik saat ini untuk anak-anak kita. Jawabannya tidak cukup lewat sebuah diskursus yang panjang. Yang kita prioritaskan bagaimana masa depan mereka setelah pasca kemerdekaan negeri ini. Tuntutannya bukan kepada partai pemenang pemilu tetapi pada intinya adalah bentuk pelayanan dari pemerintah RDTL sekarang. Sebagai sebuah impian ke depan anak-anak kita pasti akan lebih baik. Seperti yang ditawarkan hampir semua pidato partai politik untuk memberi prioritas (gratis) untuk dunia pendidikan. Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Seperti yang dikampanyakan Partai KOTA, Partai Sosial Demokrat (PSD) dan partai lainnya. Kita tunggu saja apakah janji mereka akan menjadi kenyataan atau sebaliknya. Meskipun mereka ada diluar struktur pemerintahan RDTL sekarang.

Hal yang paling mencoreng muka lider politik kita saat ini adalah masalah pendidikan dan ekonomi. Meskipun saat ini mulai muncul berbagai macam universitas untuk menampung lulusan SMA. Tapi satu hal yang perlu diperhatikan secara serius adalah bagaimana dengan mutu pendidikan itu sendiri. Selain itu kerawanan sosial di negeri inipun semakin mencolok.Terpaut dengan persoalan anak-anak diatas kita tetap berpegang pada Dr. James Dodson tentang tipe dunia anak. Bagaimanapun mereka, kita harus tetap menghargai dan menopang keinginan mereka tanpa harus mengorbankan kemauannya. Apalagi membatasi kreativitas mereka.

Helio Freitas

No comments: