Thursday, May 04, 2006

Demokrasi dan Kebebasan

Sesungguhnya demokrasi adalah dari, oleh dan untuk rakyat. Asal kata ´demokrasi´ ádalah dari bahasa Yunani yaitu ´demos´ dan ´cratos´. Demos´ artinya rakyat, sedangkan ´cratos kekuasaan. Jadi kekuasaan di tangan rakyat. Atau rakyat yang berkuasa. Sebuah ucapan seperti yang kerap kita dengar dalam pidato-pidato atau seminar-seminar. Sebenarnya konsep ini bisa kita temui juga dalam pemikiran tradisional Timor.

Partai politik dalam kampanyenya berpidato kepada rakyat. Adalah hak mereka untuk menentukan isi kampanyenya. Kalau melihat kondisi kita sekarang tidak ada tekanan yang perlu mereka risaukan. Pertanyaannya adalah apakah parpol-parpol itu akan bisa mempertanggungjawabkan kebebasan dan hak yang mereka nikmati selama ini di kemudian hari. Pertanggungjawabannya bukan kepada partainya tetapi kepada rakyat. Karena janji mereka langsung ke rakyat. Adapun rakyat, mereka sungguh-sungguh mengikuti apa yang diucapkan oleh para juru kampanye (jurkam).

Namun, dengan pikiran tradisionalnya masyarakat pun punya cara sendiri untuk menilai setiap partai politik. Karena itu kita tak perlu heran kalau harapan partai-partai kemudian tidak kesampaian. Itu bukan berarti masyarakat tidak simpati terhadap mereka. Penyebabnya adalah miskomunikasi.

Janji terlanjur kelewat banyak dijual partai kepada masyarakat. Semuanya menjadi mungkin karena alam kebebasan dan demokratisasi sekarang. Masalahnya adalah masyarakat kita belum akrab dengan semua itu. Sekalipun dalam kehidupan kesehariannya mereka bisa lebih demokratis dibanding para ahli pidato di kampanye.

Mereka tahu bahwa janji adalah utang. Oleh karena itu partai yang selama ini obral janji kepada masyarakat, bersiaplah menuai tuntutan. Kalau dari segí pengenalannya terhadap partai masyarakat bisa kita golongkan menjadi dua. Pertama, yang tak bisa membedakan partai. Bila ada satu partai yang menjanjikan hal yang serba gratis, misalnya maka masyarakat akan main pukul rata. Mereka tak mau tahu partai A atau B yang berjanji. Pokoknya, menurut mereka, itu kewajiban setiap partai. Maka, setelah pemilu, mereka akan menagih janji kepada pemerintah baru yang menurut mereka merupakan representasi partai. Apabila tuntutannya tidak dipenuhi mereka akan ngambek. Enggan berpartisipasi pada pemilu berikutnya. Kedua, yang bisa membedakan masing-masing partai. Yang dengan demikian bisa membandingkan program setiap partai politik serta mengantisipasi kejadian pasca pemilu. Paling tidak dibenak mereka ini sudah tergambar apa yang bakal terjadi. Masyarakat seperti ini bisa kita golongkan sebagai kalangan yang mengerti pendidikan politik atau pendidikan warga negara. Mereka bisa diajak kompromi dan menerima tugas kewarganegaraannya.

Wilhelm von Humboldt (1792) mengatakan: “Di samping kebebasan, perkembangan kekuatan-kekuatan manusia masih memerlukan sesuatu yang lain, yang masih berkaitan erat dengan kebebasan. Keanekaragaman situasi-situasi. Orang yang paling bebas dan paling merdeka sekalipun, kalau berada dalam situasi yang membosankan, akan kurang mengembangkan diri”. Segaris dengan perkataan Humboldt ini, dalam konteks masyarakat tradisional kita pun, kalau dibiarkan kebebasan itu bisa menjadi sumber kreativitas. Karena itu menjadi tugas pemerintah baru nanti untuk menopangnya terus-menerus. Sebab kreativitas masyarakat kita masih sangat kurang, termasuk dalam mengunakan kebebasan. Kadangkala masih lebih banyak menunggu ketimbang menciptakan sesuatu.

Wilhelm von Humboldt mengingatkan kita bahwa kebebasan merupakan hal yang fundamental. Humboldt juga mengarisbawahi perlunya penciptaan situasi. Paling tidak citakanlah sebuah situasi yang memberi ruang dan gerak kepada masyarakat untuk berkreasi. Dan mengembangkan kepribadiannya untuk membuktikan diri.

Masyarakat tidak perlu harus menunggu realisasi janji dari partai politik. Pemerintah kita nanti harus selalu peka melihat berbagai macam persoalan sosial di masyarakat. Apa yang selama ini menjadi impian masyarakat seyogyanya direalisasikan. Lebih dari itu, pemerintah harus menciptakan iklim politk yang kondusif bagi masyarakat. Tapi kita harus berjalan sesuai kemampuan kita dan tidak boleh memaksakan diri.


Helio Freitas

No comments: