Thursday, May 04, 2006

BADAI PASTI BERLALU

Badai pasti berlalu, begitulah bunyi kalimat yang pernah diiklankan oleh sebuah perusahaan rokok Indonesia di akhir-akhir kekuasaan Soeharto. Kalimat itu akhirnya menjadi suatu kenyataan dan pasti disambut gembira oleh semua kalangan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Timor Lorosa’e, karena tumbangnya rejim fasis tersebut akan berpengaruh besar terhadap apa yang diperjuangan rakyat Timor Lorosa’e yakni suatu kemerdekaan total bagi negeri yang hanya berpenduduk sekitar 600.000 hingga 700.000 jiwa ini. Namun perjuangan belumlah selesai. Kita masih harus memberi dukungan penuh kepada Dewan Konstituante sekarang agar mereka bisa merumuskan suatu Undang-Undang yang benar-benar mencerminkan kebiasaan atau budaya masyarakat Timor Lorosa’e. Oleh karena itu, pengalaman masa lalu akan tetap menjadi pedoman bagi kita untuk melangkah menuju masa depan yang baik dan sejahtera. Kita semua sadar bahwa kita sedang dilanda gelombang badai, namun kita juga percaya bahwa badai tersebut pun suatu ketika pasti berlalu, dan kita akan menatap hari esok yang lebih baik di negeri ini.

Presiden Assemblea Konstituante Francisco Guterres alias Lu’Olo pada hari Selasa, 16 Oktober 2001 mengatakan bahwa apa yang telah diputuskan oleh komisi-komisi di dalam Assemblea Konstituante akan mempunyai dampak negatif di kemudian hari. Karena apa yang dibahasnya selalu tidak menghasilkan suatu rumusan yang baik. Karena apa yang dirumuskannya selalu berakhir dengan voting, apabila semua ide sudah tidak ada jalan keluarnya untuk diputuskan. Apakah paham atau tidak yang penting bisa memutuskan sesuatu. Hal tersebut akan berdampak besar di kemudian hari. Paling tidak pernyataan Lu’olo tersebut menjadi salah satu catatan yang perlu diteliti secara serius oleh anggota dewan konstituante sekarang.

Banyak hal yang menjadi tantangan bagi pemerintah saat ini untuk diselesaikan, salah satunya adalah masalah pendidikan. Pada tanggal 18 Oktober 2001 sejumlah pemuda mengadakan demonstrasi di depan kantor UNTAET. Mereka adalah sebagian dari kelompok kecil yang mewakili rekan-rekannya yang saat ini tidak mendapat kesempatan untuk duduk di bangku Perguruan Tinggi. Mereka memang tidak lulus seleksi seperti yang diselenggarakan oleh Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNATIL). Tuntutan mereka juga bukan harus kuliah di UNATIL tetapi ingin menagih janji yang pernah diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Timor Lorosa’e namun akhirnya beliau menghindari persoalan tersebut. Ketika mereka sedang mengadakan demonstrasi di depan kantor UNTAET.

Masalah pendidikan memang merupakan suatu masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikan, karena pendidikan sangat penting bagi terciptanya sumber daya manusia yang handal. Untuk membangun SDM yang handal perlu adanya pendidikan yang memadai dan ditunjang oleh segala bentuk fasilitasnya baik itu laboratorium, perpustakaan dan lain-lain. SDM yang handal akan dapat menciptakan suatu masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera serta menghormati nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia.

Selain masalah pendidikan, masalah penerangan listrik yang juga ikut membuat kompleksnya masalah yang dihadapi oleh pemerintah. Sejak Pemerintah Transisi pertama hingga Pemerintah Transisi kedua juga belum adanya tanda-tanda akan mengatasi persoalan ini. Salah satu kasus yang sedikit menurunkan harga diri pemerintah di mata masyarakat khususnya masyarakat kota Dili yakni terjadinya pemadaman listrik pada tanggal 13 Oktober 2001 sore hari, disaat berlangsungnya Prosesi Bunda Maria yang dilanjutkan dengan Ekaristi Kudus yang dipimpin langsung oleh Mgr Belo. Ketika itu secara tiba-tiba listrik mati, perayaan Ekaristi pun berhenti sejenak. Pada hal panitia telah mengajukan surat permohonan kepada pihak PLN dua minggu sebelumnya. Karena kejadian tersebut Amo Belo sempat mengeluarkan pernyataan keras dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak menghargai perayaan besar Umat Katholik di Timor Lorosa’e, pada hal pemerintah bekerja keras dan berusaha untuk melayani rakyat. Beliau bertanya siapakah rakyat itu? Bukankah rakyat itu adalah umat yang sedang melaksanakan kegiatan ibadahnya seperti saat ini? Sehingga Amo Belo menghimbau kepada pemerintah khususnya pihak PLN agar tidak mengulangi kejadian yang serupa di kemudian hari.

Selain kedua masalah seperti pendidikan maupun masalah listrik juga masalah-masalah lain seperti pertanian, lingkungan, system hukum dan peradilan, ekonomi dan mata uang, lapangan kerja dan lain sebagainya, adalah masalah-masalah serius dan merupakan suatu ujian berat bagi kebinet Transisi kedua saat ini untuk diselesaikan.

Dewan Konstituante baru-baru ini telah sepakat dengan pemerintah UNTAET menyangkut tanggal 20 Mei 2002 sebagai hari pengalihan kekuasaan dari UNTAET ke pemerintah Timor Lorosa’e. Banyak fraksi di dewan konstituante telah sepakat mengenai tanggal tersebut. Lider Nacional Xanana Gusmao tidak setuju tentang tanggal pengalihan kekuasaan tersebut, menurut beliau lahirnya tanggal 30 Agustus 1999 dari penandatanganan deklarasi antara Pemerintah Portugal dan Pemerintah Indonesia dibawah naungan Sekjend PBB tanggal 5 Mei 1999 di New York untuk mengadakan Referendum di Timor Lorosa’e. Karena hari tersebut merupakan hari bersejarah, maka tanggal pengalihan kekuasaan pun dilaksanakan pada hari itu. Presiden Asembleia Konstituante Francisco Guterres telah menanggapinya dengan menyatakan bahwa semua fraksi di Dewan telah menyepakati untuk menyetujui tanggal tersebut sebagai tanggal pengalihan kekuasaan dari UNTAET ke Pemerintah Timor Lorosa’e yang sah. Yang jelas data tersebut bukan merupakan hari proklamasi kemerdekaan Timor Lorosa’e. Timor Lorosa’e telah merdeka sejak tahun tahun 1975 yaitu pada tanggal 28 Nopember. Sehingga nanti ke depan kita akan mengadakan re-proklamasi kemerdekaan Timor Lorosa’e. Hal itu sesuai dengan program Fretilin, PST, ASDT, dan juga organisasi CPD-RDTL yang selama ini mempertahankan 28 Nopember sebagai hari kemerdekaan Timor Lorosa’e.

Rakyat akan senangtiasa menerima apapun keputusan yang akan diambil oleh lider politik kita. Namun harapan yang paling fundamental yang diinginkan oleh rakyat adalah apapun keputusan yang diambil oleh lider politik jangan mencitapkan polemik. Pertarungan data tentang kemerdekaan Timor Lorosa’e tidak harus mengorbankan rakyat. Rakyat sudah cukup menderita selama ini. Sehingga yang ditunggu rakyat sekarang adalah ingin melewati badai yang saat ini masih menghantui keinginan rakyat. Biarkan badai itu berlalu. Supaya kita bisa menikmati kebebasan menuju kemerdekaan total yang selama ini kita perjuangkan. Karena masa-masa sulit telah kita lalui dengan penuh pengorbanan. Pahit dan manis telah kita rasakan selama ratusan tahun. Sehingga kita harus realistis untuk melihat ke depan tujuan akhir kita yang paling mulia.


Helio Freitas

No comments: