Wednesday, August 03, 2005

Xanana Gusmão, CNRT Bubar, Rohnya Abadi

Seorang jenderal Joshua L. Chamberlian dari Maine 20 Union Force dalam perang Gettysburg menulis demikian. Kita tidak mengetahui masa depan, dan tak banyak dapat merencanakannya. Tetapi, kita dapat mempertahankan agar jiwa dan badan tetap murni dan prima; kita dapat menghargai macam-macam gagasan dan gambaran ideal, dan memimpikan impian mengenai tujuan yang begitu mulia, sehingga kita dapat menentukan dan mengetahui orang macam apakah kita ini kalau kita berhadapan saat dan situasi yang menuntut tindakan luhur …. Tak seorang pun dapat secara tiba-tiba menjadi lain dari kebiasaan-kebiasaan serta pikiran-pikiran yang amat ia junjung tinggi.

Kutipan Jenderal Joshua L. Chamberlian merupakan sebuah bingkai yang sarat-makna. Karena dalam situasi perang tidak seorangpun berani menjanjikan apa-apa kepada seseorang. Apa yang diungkapkan oleh Dr. Jose Ramos Horta pada saat pembubaran CNRT di lapangan Municipal Dili tanggal 9 Juni 2001 yang lalu memang relevan. Bahwa dalam situasi perang selama 24 tahun tidak ada satu lider pun mengatakan kepada seseorang bahwa besok atau besok lusa kita akan merdeka. Kutipan Jend. Joshua pun demikian. Dia tidak berani menuntut masa depan dan tujuan akhir yang sangat mulia. Karena dalam badai perang kita dipaksa oleh sebuah arus. Kita semua tidak tahu di mana dan ke mana tujuan kita diakhir perjuangan.

Dalam proses dinamika politik Timor Lorosa’e terutama tentang pembubaran CNRT bisa dibilang dalam sebuah proses ke arah tujuan akhir. Namun sedikit meragukan bagi banyak kalangan karena pembubaran CNRT tidak diketahui semua orang. Meskipun itu adalah keputusan Kongres. Di tingkat elit politik bisa dipahami dinamika proses itu. Tetapi bagaimana dengan masyarakat kecil pada umumnya. Mereka tidak mengerti. Politik macam apa yang telah diputuskan oleh elit politik kita. Dalam syair sebuah lagu yang didaraskan oleh kawan-kawan muda dari kelompok musik Zona Cristo Rei dituturkan demikian. CNRT ho mai husi nebe ami lahatene. Tamba O ami hakilar. Fo aten-brani mai ami. Dalam syair lagu itu bisa dibilang CNRT merupakan zat hidup atau dalam bahasa religiusnya adalah roh kudusnya Timor Lorosa’e. Karena dia bisa merangkul semua kekuatan-kekuatan organisasi perlawanan di Timor Lorosa’e. Mulai dari rede klandestin, organisasi perempuan, partai politik, gereja, menjalin solidaritas internasional, gerakan pro kemerdekaan Indonesia seperti Fortilos dan Solidamor. Selain itu bisa merangkul semua individu-induvidu yang punya potensi dalam persoalan Timor Lorosa’e. Banyak orang tidak tahu kapan CNRM dibentuk dan diubah ke CNRT juga banyak yang tidak tahu. Kini CNRT dibubarkan juga banyak yang tidak tahu. Syair lagu tadi bisa mewakili dunia kebisuan tentang CNRT. Bahwa dari mana CNRT dan ke mana berakhirnya CNRT hanya bisa dilihat dan dibaca lewat dokumen-dokumen. Setidak-tidaknya sejarah menulis dalam berbagai dokumen dan berbagai bahasa di dunia.

Kalau kita menarik CNRT dalam sebuah bingkai historis, maka di dunia ini hanya CNRT yang bisa menciptakan itu. Karena pengalaman di mana-mana organisasi perlawanannya yang menang dalam perang tentu membawa semua perangkatnya untuk menuju ke podium kekuasaan. Pasti akan memberi peluang sedikit kepada organ lain untuk dilibatkan dalam proses kekuasaan negara. Hanya saja di Timor Lorosa’e ini beda. Di mana CNRT sebagai wadah atau alat pemersatu langsung menuju ke pintu kekuasaan. Tetapi nasib berbalik lain. CNRT punya pilihan lain. Selama ini Xanana sendiri mengatakan bahwa dia hanya sebatas mengantar negeri ini ke tahapan proses Transisi. Untuk selanjutnya diserahkan kepada partai politik atau kepada pihak-pihak yang lebih berkompeten.

Ketika Timor Lorosa’e masih dalam genggaman Indonesia, ada tokoh pro-Otonomi mengatakan begini: Xanana levelnya tidak setaraf dengan Nelson Mandela dari Afrika. Memang Xanana bukan Nelson Mandela. Xanana adalah Xanana. Ramos Horta pada kesempatan pembubaran CNRT mengatakan demikian. Ketika rakyat atau massa sedang mengambang maka harus tampil seorang tokoh untuk menunjukkan jalan kepada rakyat. Seperti di Afrika Selatan Nelson Mandela di India Mahammad Gandhi dan di Timor Lorosa’e adalah Xanana Gusmão. Hanya saja ketiga-ketiganya punya cara sendiri-sendiri. Mereka sebatas memberi jalan kepada rakyatnya. Bahwa perjuangan selama di Timor Lorosa’e bukan hanya di pundak Xanana tetapi pada prinsipnya ada di pundak semua rakyat. Dan Xanana pun menyadari hal itu.

Informasi tentang pembubaran CNRT banyak yang tidak tahu. Kembali pada sejarah. Tanggal 30 Agustus 1999 adalah fakta sejarah. Karena dengan CNRT-lah rakyat memilih atau nyoblos untuk menolak konsep otonomi ala Indonesia. Maka ketika partai politik mulai bermunculan, masyarakat mulai apatis dengan partai politik. Karena di benak masyarakat mereka hanya tahu CNRT. Mereka tidak mengenal partai politik. Kini sejarah telah berubah. Masyarakat tetap tidak mengerti. Baru-baru ini. Lian Maubere bertemu dengan seseorang di Mercado Comoro mengatakan demikian. Kami bisa memahami pembubaran CNRT tetapi bagaimana kalau ada masalah di masyarakat siapa yang menyelesaikannya. Karena zona atau aldeia selama ini ada di bawah struktur CNRT. Sekarang ini ke struktur yang mana. Ke ETTA atau ke UNTAET. Jelas ke ETTA tetapi persoalannya adalah struktur ETTA/UNTAET di level yang paling bawah tidak ada. Mereka harus ke mana? Apakah ke partai politik yang akses di masyarakat atau diharuskan ke institusi ETTA/UNTAET.

Barangkali persoalannya tidak cukup sampai di situ. Sejarah CNRT telah berlalu. Tetapi harapan masyarakat setidak-tidaknya rohnya juga tidak boleh dikubur. Bagaimana pun masyarakat tetap mengharapkannya. Karena kegelisahan masyarakat ke depan belum menemukan sebuah pola untuk menjelaskan tentang kegelisahan mereka. Kita semua berharap rohnya CNRT jangan bubar tetapi tanamkan di setiap lider politik dan setiap partai politik. David J. Schwartz menulis buku demikian: Berpikir dan Berjiwa Besar (The Magic of Thinking Big). Xanana Gusmão punya cita-cita seperti itu hingga sekarang. Dalam kondisi Timor Lorosa’e sedang diambang morat-marit, harapan ini menjadi satu acuan yang kuat bagi setiap patriot Timor Lorosa’e untuk mengikuti teladan Xanana Gusmão dalam The Magic of Thinking Big.

Bahwa CNRT sudah dikubur, bisa dipahami sebagai proses dan dinamika politik di antara lider politik di tingkat atas. Yang terpenting dari peristiwa hilangnya sebuah institusi yang namanya CNRT harus menjadi sebuah zat yang dikembangkan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat merasa bahwa CNRT bubar tetapi spiritnya tidak dikubur. Sehingga bisa mengobati kecemasan masyarakat. Biarkan sejarah selalu menjelaskan dan mengembangkan apa yang pantas tentang perjuangan CNRT. Kepergian CNRT pantas ditangisi. Tapi menjadi sebuah peneguhan yang terus memperkuat daya-juang dari generasi ke generasi di negeri ini. Maka kepada para sejarawan dan politisi, kembangkan sejarah ini dalam sebuah dokumen emas untuk anak dan cucu kita di kemudian hari. Karena bangsa-bangsa di dunia yang punya latar belakang yang sama dengan Timor Lorosa’e sedang antri untuk belajar dari kita. Maka sejarah kita harus menjadi sebuah referensi yang baik untuk dunia. Paling tidak, kita juga termasuk bagian dari dunia yang punya keunikan dan membuat sejarah lain dari yang lain. Meskipun kadang-kadang pemimpin besar CNRT selalu menyembunyikan hal itu. Tetapi berbagai macam orang punya caranya sendiri untuk mengatakan kepada dunia bahwa kita memang unik dan beda dengan bangsa lain. Seperti diungkapkan oleh José Ramos Horta bahwa seandainya di Timor Lorosa’e ini tidak ada orang yang namanya Xanana Gusmão kita juga belum menentukan dengan pasti Timor Lorosa’e ini seperti apa. Tidak ada yang tahu. Maka kita punya cara sendiri untuk berterima kasih kepada Xanana Gusmão.

Adeus CNRT. Good by CNRT. Banyak orang menahan air mata ketika bendera CNRT di turunkan. Seperti Elton Jhon menahan air matanya, ketika menyanyikan lagu Good By Diana untuk Lady Diana, Agustus 1998 di London sebelum jenazahnya dibawah ke rumah peristirahatan yang paling abadi. Dan coretan ini juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Xanana Gosmao yang jatuh pada tanggal 20 Juni. Semoga panjang umur dan selamat berbahagia.


Helio Freitas

No comments: