Wednesday, August 03, 2005

MEMPERTIMBANGKAN

Orientasi Pembangunan

BERBAGAI perdebatan di Timor Lorosa’e membicarakan bagaimana memulai dan membangun Timor Lorosa’e ini dari puing-puing kehancuran. Kita ketahui bersama pembebasan Timor Lorosa’e dari genggaman kaum kolonialis bisa dikatakan setengah selesai. Hal ini ditandai dengan protes massa dan berbagai kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Apa yang menjadi latar belakang dari semua kerusuhan dan protes massa tersebut. Barangkali membebaskan masyarakat dari persoalan-persoalan sosial dalam kerangka pembangunan belum ada tanda-tanda yang jelas. Sehingga para birokrat sekarang sedang panas kuping untuk melacak apa yang menjadi faktor utama dari kerusahan sosial akhir-akhir ini. Apakah sekedar persoalan perut atau adanya bentuk-bentuk persoalan lain yang sengaja dibiarkan.

Menurut saya tidaklah mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan logika moralitas. Misalnya dalam bahasa para pejabat selalu mengatakan bahwa masyarakat belum sadar atau yang lebih vulgar lagi adalah kecemburuan sosial. Dan lain sebagainya. Barangkali dilihat dari aspek moralitas dan teori ekonomi bisa mendekati ke arah nasehat-nasehat itu. Tapi pertanyaan selanjutnya, apa solusi penyelesaiannya? Konkritnya seperti apa?. Sudah cukupkah dengan jawaban-jawaban itu, atau mencari format lain untuk menyingkapinya.

Barangkali tulisan ini juga sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat atas protes massal dan kerusuhan-kerusuhan itu. Tentu saja bukanlah menawarkan suatu alternatif yang baik. Tetapi menjadi satu keprihatinan kita bersama sehingga yang muncul di benak saya adalah pertanyaan-pertanyaan juga. Pertanyaannya adalah apa Orientasi Pembangunan kita sekarang ini untuk masyarakat ? Rekonstruksi Nasional yang saat ini diagungkan hampir di setiap distrik atau sub-distrik barangkali hanya merupakan label saja. (baca tulisan Adérito de Araújo dalam Lian Maubere edisi XV 10-01-2001) tentang Rekonstruksi Nasional. Di situ dikatakan lebih baik kata rekonstruksi nasional diganti saja menjadi rehabilitasi. De facto ini benar, karena rehabilitasi saja belum selesai, ngapain bicara besar-besaran tentang Konstruksi Nasional. Karena sampai saat ini rumah masyarakat yang hancur juga 75% belum direhab. Yang direhab pun sebagian besar dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah yang merasa bertanggungjawab.

Pertanyaan lain adalah siapa yang diuntungkan dalam Orientasi Pembangunan kita? Atau Reconstruksi Nasional pada masa Transisi sekarang ini. Banyak suara mengatakan seperti ini ‘mereka yang dulu jaman Portugis kerja di pemerintahan, jaman Indonesia punya kedudukan dan kerja kantoran, sekarang jaman Transisipun mereka-mereka itulah yang masih bernasib baik dan punya kedudukan. Kita-kita yang dari jaman ke jaman ya, nasib seperti ini’. Dan tidak pernah diberi kesempatan untuk bekerja pada pemerintahan. Tidak perlu contoh yang canggih untuk menjelaskan suara-suara ini. Tapi ini fakta karena masyarakat melihat itu dengan mata-kepala sendiri. Masyarakat mencatatat seluruh bingkai persoalan itu dari hari ke hari. Karena dari regim ke regim dalam konsktruksi sosial seperti itu telah membesarkan jiwa mereka. Sehingga pengalaman masyarakat dalam membaca setiap jaman dan setiap tragedi adalah guru mereka. Maka saat sekarang masyarakat adalah guru kalian yang duduk di singa kekuasaan.

Contoh sederhana untuk mewakili suara-suara itu adalah pegawai Porto setiap bulan menerima gaji di BNU dan sebentar lagi pegawai pada jaman Indonesia juga akan menerima gaji pensiunan sebagaimana dinyatakan Konsulat Republik Indonesia di Timor Lorosa’e baru-baru ini. Bagaimana dengan masyarakat Timor Lorosa’e yang pada dua periode jaman itu tidak pernah bekerja di pemerintahan? Baik di pemerintahan Indonesia maupun pemerintahan kolonial Portugis dulu. Sekarang jaman Transisi pun juga tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah dan elit politik yang memengang kekuasaan. Apakah pernah ada di benak para elit-politik untuk membicarakan hal ini. Seandainya ada hasil pembicaraan itu, solusinya seperti apa? Dan bagaimana menyikapi protes massal dan kerusuhan-kerusuhan yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat? Dan bagaimana juga sesudah Pasca Transisi masyarakat yang tidak pernah diberi peluang selama tiga periode itu agenda apa yang telah disiapkan oleh para lider kita saat ini. Apakah pemerintahan yang baru nanti melihat massa mengambang sebagai hantu ketakutan atau adanya rencana-rencana untuk melibatkan mereka. Paling tidak pertanyaan-pertanyaan itu belum terlambat dan kita masih punya kecepatan yang luas. Hanya saja konktrinya harus jelas dan transparan kepada publik.

Ernest Mandel dalam Materialis Historis melukiskan seperti ini. Sejarah masyarakat manusia bisa dijelaskan. Gerak sejarahnya tidak terjadi secara acak atau serba kebetulan. Tetapi tesis tentang doktrin fundamental menegaskan bahwa keberadaan sosiallah yang menentukan kesadaran sosial. Terbentangnya sejarah masyarakat manusia tidak tergantung pada kehendak gerak-genetik yang dapat diramalkan sebelumnya atau pada kehendak ‘manusia mulia’ di tengah kaum awam yang tercerai-berai. Dalam mengulasnya akhirnya sejarah masyarakat manusia dijelaskan oleh struktur fundamental masyarakat di masing-masing jaman dan kontradiksi mendasar dari struktur tersebut. Sebab, sepanjang masyarakat dibagi dalam kelas-kelas, maka sejarah masyarakat dijelaskan oleh perjuangan kelas.

Seharusnya pada era globalisasi tidak perlu lagi adanya perjuangan kelas. Apalagi Timor Lorosa’e lahir pada era milineum ketiga atau era globalisasi. Tetapi kenyataan masih sangat kental prakteknya di tengah-tengah masyarakat. Yang menjadi kekuatiran saya pada pernyataan Ernest Mandel di atas bisa dikategorikan dalam kerusuhan sosial. Dan ini akan bermuara pada revolusi sosial di tengah masyarakat. Kalau pemerintahan kita tidak mengambil langkah antisipatif untuk merespon kejadian-kejadian itu secara dini, maka konsep dan orientasi pembangunan yang tengah berjalan akan lebih banyak berwajah kapitalistik. Inilah yang justru dilawan oleh kaum sosialis sambil berpegang pada konsep masyarakat tanpa kelas (sosialisme) yang dinilai bisa menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang lebih demokratis, beradab dan secara ideologis sungguh anti-Komunisme dan Marxisme.

Dili, 4 February 2001

No comments: