Wednesday, July 27, 2005

Upaya Menumbuhkan Gereja dari Bawah

Sebuah buku yang layak diperbincangkan

Antara teori dan praktek dua hal yang saling tidak sesuai. Kenyataan ini berlaku di mana saja. Baik menyangkut seseorang entah itu di tingkat institusi pemerintah maupun di dalam hirarki Gereja. Pengalaman pergulatan seorang perempuan yang sekian tahun berkarya di ladang Ilahi menghadapi berbagai macam tantangan, baik itu tantangan integral di dalam hirarki Gereja sendiri maupun tantangan di mana pergulatan dengan masyarakat selama ini dilayaninya. Itulah yang selama ini dihadapi Maria de Lourdes Martins.Pengalaman itu dibedah dalam diskusi karya tulisnya dengan judul Kelompok Gerejani Basis Upaya Menumbuhkan Gereja dari Bawah, di Aula Gereja Becora pada 17 Mei 2001.
Buku itu merupakan skripsi sarjana Maria de Lourdes Martins yang biasa disapa dengan Mana Lou, di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya, Yogyakarta. Diterbitkan oleh Yayasan Hak & Sahe Institut for Liberation (2001). Pembicara diskusi buku itu, selain Mana Lou, tampil Abel dos Santos dari Sahe Institut for Liberation dan Romo Dr. Tom Jacobs, SJ. Romo Tom Jacobs adalah adalah pembimbing skripsi Mana Lou, yang dibukukan itu.
Pada kesempatan itu Romo Tom Jacobs mengungkapkan banyak yang dirasakan Mana Lou dalam menulis skripsinya. Pertama Mana Lou menulis dalam krisipnya tentang teologi dan refleksi pengalaman selama keterlibatannya dalam karya pastoral di Liquisa. Kedua, Pastor Leonard Boff OFM dari Brazil sebagai inspirator Mana Lou untuk menyusun skripsinya. Brazil merupakan salah satu negeri yang memiliki model Gereja Komunitas Basis. Selain itu masyarakat mayoritas di Brazil dalam banyak hal hampir mirip dengan masyarakat di Timor Lorosae.
Dalam gagasan teologinya, Leonard Boff mengatakan bahwa gereja Katolik hendaknya kembali ke Gereja Perdana. Bersandar pada Gereja Perdana semua orang bisa mengambil bagian dan berpartisipasi membangun Komunitas Gereja Basis. Di komunitas ini, setiap orang bisa melakukan apa saja menurut kemampuannya untuk melayani sesama manusia. Entah itu di bidang organisasi, sosial, politik dan pembangunan. Karya untuk Tuhan bukan saja harus bekerja secara terus menerus tanpa henti. Tidak perlu makan dan minum. Ini bukan hal yang benar. Makan dan minum juga merupakan kehidupan umat Kristiani. Ini merupakan kehidupan komunitas basis.
Pastor Boff menulis buku Igreja: Carisma e Poder. Ensaios de Eclesiologia Militante (1982). Buku ini memperoleh reaksi dari Roma. Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman meminta Pastor Boff memberikan jawaban resmi atas keberatan-keberatan teologis yang diajukan terhadaap bukunya. Jawaban Padre Leonard Boff tidak memuaskan Roma yang menghukum Boff agar tidak memberi kuliah, menulis dan tidak boleh mengelolah majalah Teologi Revista Ecclesiastika Brasileria. Boff dituduh telah menyebarkan “ajaran yang membahayakan ajaran iman yang sehat”.
Anggota Komunitas Gereja Basis juga tidak harus membicarakan hal-hal yang sakral berkaitan Sabda Allah tetapi pada prinsipnya juga dipacu untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut kehidupan manusia secara keseluruhan. Yang penting apa yang dilakukan Komunitas Gereja Basis berdasarkan nurani penghayatan dan penuh kepercayaan. Ini merupakan prinsip kehidupan komunitas basis. Tidak ada dunia sakral dan tidak ada dunia propan. Yang ada adalah satu dunia di mana kepercayaaan kepada Allah menjadi hal penting dalam komunitas basis. Yaitu dalam dunia sakral atau dalam dunia propan. Tidak boleh memisahkan antara dunia sakral dan dunia propan. Karena seluruh hidup kita adalah sakral atau seluruh hidup kita adalah propan. Buku Mana Lou mengingatkan kita untuk hidup bersama. Seperti ketika kita diundang dalam sakramen ekaristi.
Romo Tom mengingatkan, teologi merupakan satu prinsip yang sangat penting dalam Gereja Komunitas Basis. Maka sharing untuk membagi pengalaman hidup kepada sesama adalah hal yang penting. Kebersamaan adalah hal yang utama. Secuil rotipun harus dimakan bersama-sama. Apa yang kita miliki dan dimiliki orang lain, adalah milik kita semua. Inilah prinsip teologi hidup dalam Komunitas Gereja Basis. Yang ada di dalamnya adalah bersandar pada solidaritas ‘Maun Alin’ yang digagas oleh Mana Lou dalam bukunya.

Pembicara dari Sahe Institut for Liberation Abel dos Santos tidak ingin membahas buku Mana Lou dari segi teologis. Dia mengakui terlalu hijau membicarakan Teologi Pembebasan, teologi yang berkembang di Amerika Latin yang kesohor itu. Dia memulai dengan doa yang pernah diucapkan Yesus Kristus ketika dipaku di kayu salib. “Ampunilah mereka karena tidak tahu apa mereka berbuat”. Arah pembicaraan Abel kalau ada kesalahan tolong dimaafkan. Nats Kitab Suci ini juga ia tujukan kepada Hirarki Gereja Katolik, bila Gereja melakukan kesalahan kepada umatNya tolong ampunilah Gereja. Sebab mereka tidak tahu apa yang Gereja lakukan kepada umatNya.
Namun secara garis besar Abel setuju dengan Teologi Leonard Boff dari Brazil. Ada dua yang disampaikan yakni, pertama selama pergulatan di ladang Tuhan, ada benturan-benturan yang diselesaikan lewat altar dengan cara religius atau pertobatan. Kedua, jika secara religius memang tidak bisa diselesaikan, maka harus mengunakan tradisi, yaitu lewat budaya. Nahe biti ode tesi ita nia lian.
Lewat cerita seorang suster dari Brazil dia mengakui bahwa apa yang dilakukan Mana Lou di Timor Lorosae mirip seperti apa yang dilakukan di Kelompok Gereja Komunitas Basis di Brazil. Ada dua teologi yang dipakai di Brazil waktu itu, yaitu hirarki Gereja yang bekerja sama dengan kekuasaan, dengan pemerintah. Teologi ini cenderung menindas masyarakat kecil, yang kemudian disebut teologi impresao atau teologi penindasan Dari akumulasi penindasan inilah Gerakan Komunitas Gereja Basis muncul sebagai salah satu alternatif untuk melawan Teologi Impresao. Maka muncullah Teologi Paternidade atau Teologi Persaudaraan.
Bersandar pada Teologi Persaudaraan inilah kaum tertindas merasa punya kekuatan untuk bersatu. Karena Teologi Penindasan selama ini selalu memaksakan masyarakat untuk membangun Kerajaan Allah lewat Gereja yang mewah. Kerajaan Allah lewat Gereja seolah-olah sesuatu sakral dan suci. Hal ini membuat masyakarat ketakutan untuk mendekatinya. Terutama bagi masyarakat pendosa. Dalam arti masyarakat yang dianggap bodoh, miskin dan kaum papa yang terhina.
Dalam konteks Timor Lorosae misalnya ada sebutan Amo Lulik untuk pastor. Menurut Abel Amo terjemahan dalam kasarnya bahasa Indonesia adalah “Raja yang Sakral”. Orang akan cenderung takut pada raja yang sakral atau Amo Lulik ini. Jadi sebutan Amo Lulik untuk para pastor sebenarnya tidak terlalu tepat. Ini, bagaimanapun, merupakan persoalan yang perlu memperoleh perhatian.
Maka apa yang dikatakan oleh Mana Lou dalam bukunya bahwa Gereja Timor Lorosae cenderung mengikuti model gereja piramidal atau gereja sakramental pada masa lampau, benar adanya. Sehingga mengarahkan semua masyarakat untuk mengikuti dinamika gerak gereja itu dalam arti yang lebih luas. Tetapi tidak pernah memberi ruang lain kepada masyarakat sebagai ‘Amo Lulik’ alternatif dalam hal pemberdayaan di tengah-tengah masyarakat, terutama kepada generasi muda atau juventude. Tetapi gereja kita selalu menuntut para juventude, misalnya juventude tidak mau mendekati altar.
Akar permasalahannya tidak pernah dicari, terutama apa yang menjadi hambatan utama bila juventude tidak mau mendekati altar. Ini menjadi salah satu lontaran yang saat ini dialamatkan kepada joventude kita. Ketika jaman Yesus, Dia tidak sekedar mewartakan Injil tetapi apa yang Yesus lakukan lewat tindakan di tengah masyarakat di mana Yesus bertemu dengan umatnya yang membutuhkan belas kasih Yesus.
Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB yang hadir dalam diskusi itu mengatakan bahwa apa yang ditulis Mana Lou baru sebagian dari cita-citanya. Sampai hari ini Gereja mengharapkan Mana Lou menulis persoalan ini lebih lengkap. Karena apa yang ditulis dalam bukunya merupakan program kerja pastoral dan pengalaman karyanya sebagai guru agama di Paroki Liquisa. Dalam kesempatan itu Mgr. Belo juga bertanya apakah sampai hari ini Gereja basis sudah berubah atau belum. Meskipun begitu Mgr Belo mengajak seluruh umat sebagai tenaga inti Gereja untuk bergerak di Komunitas Gereja Basis sampai sekarang pintu masih terbuka lebar.
Menanggapi karya Mana Lou salah satu peserta mengambil refreksi Ernesto “Che” Guevara, menuturkan berikut ini. “Saya seorang Katolik dan saat ini tidak pernah datang ke gereja dan tidak mengikuti misa, menyambut komuni karena Gereja telah meninggalkan ajaran Yesus. Yesus seorang revolusioner, yang sebagai putra pertama melawan penindasan di dunia, tetapi Gereja merusak ajaranNya. Barangkali praktek ini juga dipakai di Timor Lorosae. Terlepas dari pergulatan sharing yang disampaikan lewat Kelompok Gereja Basis, ini tidak berarti akan menghakimi siapa yang benar siap yang salah. Karena di mata Allah semua orang mewakili dirinya sendiri. Tidak ada lembaga perwakilan untuk memberi jaminan. Maka sebelum menemui Allah sebagai pilihan terakhir terlebih dahulu kita dituntut sebagai tenaga inti yang dikatakan oleh Mgr Belo untuk bergandengan tangan bekerja di ladang Ilahi. Hingga hari ini ke depan pintu selalu terbuka untuk itu.“


*Artikel ini pernah di muat pada Majalah Lian Maubere, 11 Juni 2001

No comments: