Tuesday, July 26, 2005

KEKERASAN POLITIK

(Di bawah Bayang-Bayang CPD-RDTL )

Entah setuju atau tidak, pengalaman politik telah mewariskan banyak kenangan. Entah itu menguntungkan, ataukah membawa mala-petaka yang penuh dengan cacat dan noda. Politik juga kadang tidak pernah menyelesaikan masalah. Politik juga bisa mengubah dunia. Politik juga bisa merusak tatanan dunia. Bagaikan virus. Lewat politik seseorang atau sekelompok orang bisa terangkat ke podium kekuasaan. Begitu juga politik bisa menjatuhkan seseorang atau sekelompok orang ke akhir jaman atau ke akhir kekuasaan. Politik juga memisahkan kita dari akar rumput. Politik juga bisa mempertemukan kita kembali lewat agenda rekonsiliasi.

Banyak implikasi politik tergantung bagaimana situasi dan konteks kehidupan sosial di masyarakat. Siapa yang kuat dan siapa lemah. Yang terpenting adalah bagaimana memainkan peran baik dalam lobby politik maupun dalam kekuatan ekonomi. Karena politik tidak sekedar mahir dalam kata-kata. Tetapi politik harus didukung dan didorong oleh instrumen ekonomi dan financial yang kuat. Politik juga bisa mendidik atau menjanjikan banyak hal kepada masyarakat. Ini barangkali episode demi episode yang kita lalui lewat praktek politik di negeri ini maupun di negara mana saja yang rentan konflik atau masalah.

Hannah Arendt (1977) menulis: menjadi warga politik, berarti hidup di dalam suatu polis, tempat segala sesuatu diselesaikan lewat kata dan persuasi, bukan lewat paksaan dan kekerasan. "Dalam tradisi Yunani, memaksa orang lewat ancaman, kebiasaan memaksa ketimbang membujuk, dinilai sebagai cara-cara pra-politik, dinisbatkan kepada karakteristik orang-orang yang hidup di luar polis. Adapun kehidupan polis sendiri dipandang sebagai kehidupan ideal yang diimpikan. Maka dari itu, bila kini politik menjadi kata yang berlumuran caci-maki, pasti ada sesuatu yang tak beres dalam pengelolaan wacana politik kita. Entah di tingkat lider politik atau institusi-institusi yang saat ini memaikan peran dalam wacana politik kita.

Kekerasan politik kita yang akhir-akhir menjadi satu ciri khas yang dimainkan oleh salah satu kelompok tertentu dan merupakan satu perisitawa yang perlu disesalkan. Misalnya lewat kasus gagalnya simposium sehari yang dimotori oleh kaum akademisi pada tanggal 7 Maret 2001 lalu. Tragedi yang sangat memalukan itu membuka banyak kedok berkaitan dengan organisasi politik tersebut. Misalnya lewat konfrensi pers yang diadakan 3 jam sesudah insiden tersebut oleh Presiden CNRT/CN Kay Rala Xanana Gusmão didampingi Brigjen. Taur Matan Ruak, Vice Presiden Ir. Mário Viegas Carrascalão dan Kepala Polisi Internasional Luis Sousa Costa. Pada konferensi itu Presiden CNRT/CN Xanana Gusmão menunjukkan dokumen politik dari ketiga tersangka yang ditangkap di GMT pada acara simposium tersebut. Xanana juga menunjukkan foto yang di dalamnya berpose salah satu dari tiga orang yang ditangkap sedang mengadakan rapat bersama Kopassus dan tokoh politik pro-Otonomi Mateus Maia di jaman Indonesia. Juga rekaman kaset yang isinya tentang rencana untuk membunuh Presiden CNRT/CN Xanana Gusmão, Brigjend. Taur Matan Ruak dan Menlu UNTAET José Ramos Horta. Keterangan dari Polisi Sousa Costa juga mengatakan bahwa mereka yang ditangkap itu sebenarnya sudah menjadi target kami sejak awal. Dan ketika itu kalau tidak ada kasus seperti ini, mereka tetap kami tangkap. Karena mereka selama ini menjadi buronan Polisi Internasional. Juga ada kaitan kuat dengan beberapa kasus misalnya kasus 1 Februari 2001 di depan Kampus UNTIL dan kasus di Delta Comoro yang membakar mobil UNTAET pada bulan Januari 2001 lalu.
Dengan bukti itu patut kita pertanyakan political-will mereka(CPD-RDTL). Apakah benar sekedar mempertahankan nilai historis bendera RDTL ataukah ada kepentingan lain di balik bendera RDTL? Ini menjadi satu pertanyaan yang dilontarkan kepada CPD-RDTL sekarang. Paling tidak mereka harus menjelaskan posisi mereka. Apakah mereka itu partai atau Organisasi Politik. Kalau partai berarti Fretilin, tetapi kenyataannya ada iklim yang tidak sehat antara RDTL dan Fretilin. Partai lain juga mengaku tidak. Lalu apa tujuan politik RDTL selama ini. Dikaitkan dengan Partai Nasionalis Timor (PNT) juga dikatakan “tidak.” Presiden CNRT/CN Xanana Gusmão mengatakan bahwa mereka tidak mengaku-diri sebagai partai politik tetapi muka-muka mereka adalah PNT (Partai Nasional Timor) pimpinan Abílio Araújo yang sekaligus sebagai tokoh politik Fretilin dan ketika jaman Indonesia menerima proyek besar dari Siti Hardiyanti Rukmana(mbak Tutut) lewat program PPI (Persahabatan Potugal Indonesia). Masyarakat pada umumnya bingung atas target politik CPD–RDTL selama ini. Kalau tidak mau kembali atau bergabung dengan Fretilin, apa yang mereka targetkan? Bukankah itu RDTL lahir dari Fretilin?
Kalau ternyata bendera RDTL hanya dipakai sebagai tameng maka lebih baik kepentingan itu harus dipisahkan. Meskipun belum secara resmi bendera UNTAET diturunkan di Timor Lorosa’e, namun pada dasarnya bendera RDTL selalu punya ruang dan tempat. Tetapi seandainya benar bahwa bendera RDTL hanya dijadikan sebagai layar maka pada prinsipnya mereka telah mengkhianati perjuangan mereka selama ini. Menurut saya, bukan hanya kepentingan mereka yang dikhianati tetapi pada dasarnya menyangkut perjuangan masyarakat Timor Lorosa’e selama ini. Karena sejarah telah mencatat banyak hal dan tragedi demi tragedi hanya karena satu tujuan. Yaitu tujuan menuju kemerdekaan total. Bukti nyata dari tragedi demi tragedi itu pada hari-hari ini adalah bahwa kita telah masuk pada masa persiapan di bawah Pemerintahan Transisi UNTAET menuju kemerdekaan total. Cepat atau lambat ticket kemerdekaan total itu sudah ada di tangan kita. Cuma pesawatnya yang belum landing karena masih mencari landasan. Mungkin ada hambatan cuaca (politik). Kalau kemerdekaan kita dianalogikan seperti itu, maka kita agaknya sedang antri menanti pesawat di bandara.
Sambil menunggu badai cuaca yang pasti akan berlalu. selanjutnya apakah dalam proses ini kita memikirkan hal yang terbaik untuk membangun negeri ini ke depan. Kenapa kita harus melakukan tindakan anarkis dan mengacaukan apa yang seharusnya tidak terjadi dan tidak diinginkan oleh masyarakat. Cobalah anda bertanya kepada masyarakat, setuju dengan kekacauan. Saya pikir tidak. Masyarakat akan mengatakan untuk apa lagi kita berjuang sekian tahun dan mengorbankan sekian ribu orang-orang pilihan kita untuk merebut kemerdekan ini. Yang ada di benak masyarakat adalah cepat atau lambat proses pengalihan kekuasaan dari UNTAET ke Pemerintahan Timor Lorosa’e yang sah akan segera dilakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tapi dengan catatan,
Pemerintahan UNTAET harus mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan seluruh jantung kehidupan masyarakat Timor Lorosa’e. Alternatifnya adalah di saat persiapan itu, mintalah kepada UNTAET supaya melibatkan orang Timor Lorosa’e lebih banyak demi mewujudkan program Timorisasi. Tuntut dan berpolitiklah yang positif. Dan berpolitik dan mewakili apa yang menjadi titik central masyarakat. Tidak boleh melawan secara kontraproduktif dan melawan arus. Dan juga tidak boleh menjadi jurubicara kepentingan orang lain. Apalagi kepentingan untuk kembali ke Indonesia, maka basis politiknya bukan di negeri ini. Dan tentu saja akan berhadapan dengan arus yang sangat kuat. Entah dengan civil society atau dengan kekuatan-kekuatan organisasi politik yang ada di Timor Lorosa’e.

Hélio Freitas
Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Lian Maubere, Edisi 24 Maret 2001

No comments: