Tuesday, July 26, 2005

JATIDIRI

Hélio Freitas

Erik H. Erikson, ilmuwan tentang perilaku manusia yang sangat terkenal dan tidak pernah duduk dibangku kuliah, menciptakan sebuah frase dalam Perang Dunia ke dua untuk melukiskan keadaan kebingungan para serdadu yang tergoncang jiwanya akibat tragedi perang. Sehingga kehilangan rasa akan kesamaan pribadi dan keberlangsungan sejarah. Ia mengatakan bahwa korban-korban perang yang masih hidup itu mengalami ‘krisis jatidiri’. (baca John Powell, SJ). Secara implisit kita kurang setuju dengan gagasan Erik H. Erikson dalam konteks persoalan kita dewasa ini di Timor Lorosa’e. Defakto tidak semua orang hidup dari sisa-sisa tragedi perang bermental normal. Tetapi banyak sekali yang berusaha mengatasi persoalan-persoalan itu secara murni dan realistis. Ada juga karena perkembangan evolusi budaya dalam perkembangan lainnya telah mendatangkan krisis bagi banyak manusia. Untuk memahami tentang krisis terhadap manusia, maka kita harus bersedia melihat latar belakang dan luka-luka krisis terhadap manusia itu sendiri. Paling tidak dibenak kita mulai berpikir dari mana krisis itu muncul. Dan apa yang menjadi faktor utama dalam krisis jati diri itu.
Secara sederhana saya ingin menyoroti terhadap gerakan pemuda anti kekerasan yang baru-baru ini mengadakan aksi di UNTAET. Pada mulanya apa yang menjadi inti persoalan dari gerakan ini. Disain penting dari gerakan ini adalah KEPRIHATINAN. Keprihatinan atas kemacetan birokrasi terutama di bidang hukum dan keamanan. Karena selama sekian tahun harga diri diinjak-injak oleh regim yang berkuasa. Ketika jaman Indonesia banyak gerakan pemuda telah dilenyapkan oleh militer Indonesia. Dan bagaimana polarisasinya gerakan militer menguasai seluruh jantung jaringan klanestin. Saya pikir semua orang mengetahui soal itu. Point terpenting dari gerakan Militerisme Indonesia adalah semata-mata ingin menghilangkan atau menghancurkan cultur atau jatidiri negeri ini. Terutama dialamatkan kepada generasi muda. Karena pemuda dianggap sebagai jantung dari segala bencana oleh Militer Indonesia.
Sementara gerakan anti kekerasan muncul sebagai gerakan moral semata-mata menuntut kepada UNTAET atau regim yang saat ini berkuasa untuk melihat secara serius dan lebih mendalam tentang gejolak sosial. Dan lebih dari itu adalah gerakan-gerakan yang ingin mengacau keadaan. Tuntutan mereka supaya pihak berwajib secara serius menangani masalah-masalah itu. Gerakan anti kekerasan sebenarnya sedang mencari polarisasi jatidiri yang selama ini hilang. Karena kita sedang menata negeri ini dari puing-puing kehancuran sekaligus ingin mengembalikan jatidiri yang selama sekian tahun terinjak-injak. Maka kita butuh suasana yang sejuk dan damai. Tetapi defakto sekarang ini masih ada kelompok-kelompok tertentu yang ingin memperpanjang tangan regim terdahulu.
Faktor ini, penting karena ketika jaman Indonesia kita telah menyaksikan banyak hal. Saya ingin menceritakan contoh kasus yang sangat menarik lewat tulisan ini. Antara tahun 1990 – 1997 pada waktu regim Indonesia banyak sekali propaganda dari mereka untuk mengeluarkan banyak pemuda ke luar Timor Lorosa’e. Yang biasa dikenal dengan program tenaga kerja baik lewat Yayasan Tiara Indonesia dan Departemen Tenaga Kerja Indonesia dan Departemen-departeman lain yang berkuasa di Timor Lorosa’e. Selain itu juga beberapa Yayasan Islam atau Yayasan Militer yang berkedok kemanusiaan juga membawa anak-anak dibawah usia masuk ke beberapa pesantren di seluruh wilayah Indonesia. Misalnya di Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi dan di tempat-tempat lain baik itu di Sulawesi dan pada umumnya banyak di Jawa Barat. Sekitar puluhan ribu pemuda digiring ke pulau Jawa dan sekitarnya untuk diberi pekerjaan. Pada hal dibalik program itu sebenarnya ingin menghilangkan identitas orang muda Timor Lorosa’e. Ketika Abilio Osorio masih berkuasa dengan kabibetnya mereka juga tidak punya prihatin terhadap nasib mereka. Baru kita tahu lebih banyak tentang mereka ketika mulai masuk pada proses pendaftaran untuk Jajak Pendapat di lima wilayah di Indonesia (baca Formattu JPI – Indonesia).
Klaim ini oleh regim Indonesia dialamatkan kepada generasi muda. Tujuan utama dari klaim ini adalah ingin menghancurkan cultur asli orang Timor Lorosa’e. Dan memutus jaringan regenerasi untuk menghilangkan sejarah. Bagaimana nasib mereka dan apa yang selama ini mereka lakukan di tanah rantau sekarang. Banyak cerita dan banyak kasus tentang mereka. Kita bahkan bertemu dengan mereka bicara satu haripun kisah mereka tidak akan habis. Pada akhirnya yang kita temukan pada perjalanan hidup mereka adalah: tanpa suatu pandangan hidup, tanpa suatu sintesis pribadi, tanpa tujuan, tanpa konsultasi yang jelas, tanpa perencanaan manajemen yang jelas dari para penguasa akhirnya membawa Kaum Muda ini kepada suatu dunia yang sangat mengasingkan mereka. Inilah kata-kata yang pernah kurenungkan beberapa tahun lalu hidup bersama mereka. Sesudah Jajak Pendapat dan proses repartiasi tentu saja banyak yang kembali ke tanah Lorosa’e. Tetapi masih banyak juga yang belum kembali ke tanah kelahiran mereka hingga saat ini.
Jangan tanyakan tentang nasionalisme mereka. Mereka pasti terjaga dengan nasionalismenya sendiri. Dan jangan salahkan mereka bila mereka belum kembali pada saat ini. Mereka pasti mempunyai jatidiri sebagai warga Timor Lorosa’e suatu saat. Barangkali saat ini mereka juga sedang mempertahankan nasionalisme dan jatidiri mereka. Karena dengan jatidiri dan nasionalisme yang berbau Timor Lorosa’e maka mereka disingkirkan. Yang terpenting bagi kita sekarang adalah berbagai pandangan dan latar belakang yang berbeda jangan dijadikan musuh. Dalam bentuk-bentuk kerusuhan dan anarkis yang dipraktekan di tengah-tengah masyarakat. Tetapi sadar dan ingatlah negeri ini butuh ketenangan dan masyarakat ingin hidup dalam keadaan damai. Siapapun orang Timor Lorosa’e punya peranan dan partisipasi penting untuk membangun negeri ini. Meskipun kita sama-sama berjalan bertatih-tatih. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam kendala. Baik itu kendala ekonomi, sumberdaya manusia sarana dan prasana lainnya. Kita merasa optimis dan kemauan bersama untuk menata negeri ini. Kalau tidak ada kebersamaan maka tidak ada pula keberhasilan yang berarti.
Ketika di masa-masa sulit kita membangun solidaritas bersama dengan mudah. Entah dengan Falintil (kini FDTL) di hutan, jaringan klanestin di kota, di rumah tahanan yang dijaga ketat oleh aparat. Kota-kota besar di seluruh wilayah Indonesia dan beberapa kota di luar negeri. Meskipun dengan jatuh bangun membangun relasi komunikuasi itu. Dan pada akhirnya kita sukses dan meraih identitas dan jatidiri kita. Sekarang waktunya untuk mengeratkan persaudaraan kita untuk membangun negeri ini. Kita harus mengakui seluruh kelemahan dan kekurangan modal kita pada hari-hari ini. Tetapi modal yang paling kuat sebagai benteng pertahanan kita adalah PERSATUAN. Pepata dalam peribahasa mengatakan “Bersatu Kita Kokoh Bercerai Kita Runtuh”.
Jargon tentang peribahasa itu saya pikir semua orang memahami itu. Tetapi kenyataannya sulit sekali dipraktekan. Berkaitan dengan tuntutan kita selama ini, yaitu tentang kemerdekaan total Timor Lorosa’e sesudah pasca Transisi. Saya pikir semua orang setuju kalau pemerintahan UNTAET segera keluar dari Timor Lorosa’e. Mungkin menjadi satu kekuatiran juga, karena selama ini kita belum menunjukan tanda-tanda sebagai sebuah masyarakat yang bermartabat. Dalam hal toleransi bermasyarakat terutama masalah keamanan. Sehingga UNTAET mempunyai argument itu untuk memperpanjangan Transisi di Timor Lorosa’e. Kalau harga diri dan Jatidiri kita tidak mau diinjak oleh kaum kolonial, kita juga harus bersedia menahan diri. Dan memandang segala macam persoalan yang ada di depan kita dengan kepala dingin, dan menuntut apa yang pantas kita tuntut, dan kita juga bersedia dituntut bila kita melakukan kesalahan menurut versi orang lain. Mari kita sama-sama belajar memahami inti persoalan sebelum bertindak lebih jauh. Sehingga seluruh tindakan kita sesuai dengan norma dan jatidiri, sebagai sebuah masyarakat Timor Lorosa’e yang bermartabat. Dan mempertahankan nilai perjuangan kita yang selama ini kita rintis dengan nyawa, air-mata dan seluruh harta benda yang ada di bumi Lorosa’e. Meskipun membangun sebuah negeri harus dilalui dengan revolusi. Tapi itu telah usai. Hal yang paling penting sekarang adalah saatnya untuk membangun dan memelihara. Bukan saatnya lagi untuk merusak. Dengan demikian kita akan tetap terjaga dengan Jatidiri kita sebagai masyarakat yang bermoral dan bermartabat.

No comments: