Tuesday, July 26, 2005

Antara Fretilin, Xanana dan Ramos Horta

Dalam filosofis hidupnya, seorang selalu punya irama tersendiri. Itu akan selalu ia turuti meski dengan macam macam rintangan. Contoh yang gamblang adalah seseorang yang memasuki masa remaja kemudian mulai mengenal cinta dan masa pacaran. Kalau dikenang kemudian, seringkali kisah-kisah masa remaja ini begitu unik, lucu dan puspa warna. Dua hati melekat diikat oleh unsur kesamaan tertentu. Namun relasi ini sangat mungkin berantakan di tengah jalan. Ada pula yang berhasil dipertahankan dan berujung pada perkawinan.

Sama halnya dengan kelompok atau organisasi politik. Sebuah komunitas atau kelompok yang dipertautkan oleh kesamaan idealisme. Dalam perjalanan waktu, merekapun akan memiliki dinamika sendiri. Sama seperti anak remaja tadi.

Dalam bingkai cerita seperti itu kita bisa menelusuri jejak ramos Horta dan Xanana Gusmao di organisasi perjuangan. Ramos Horta dan kawan-kawan mendirikan partai politik bernama ASDT. Tidak lama, ASDT kemudian berubah nama menjadi Fretilin. Belakangan hari Ramos Horta kemudian keluar dari Fretilin. Selintas, agak ganjil. Adapun Xanana Gusmao, ia bukanlah pendiri Fretilin. Namun ia kemudian identik dengan partai ini, seperti halnya dengan sayap politiknya; Falintil. Lalu sejak 1980-an ia memimpin sekaligus Falintil dan Fretilin dari hutan. Dialah yang memisahkan Falintil (kini menjadi FDTL) dan Fretilin.

Seperti halnya Ramos Horta, Xanana Gusmao pun kemudian angkat kaki dari Fretilin. Yaitu sejak ia membentuk dan memimpin CNRM tahun 1986. Dua belas tahun berselang, CNRM kemudian berubah menjadi CNRT. Terakhhir ia juga keluar dari Falintil. Tampak bahwa Xanana Gusmao berkali-kali pindah dan mengutak atik organisasi. Banyak orang yang bingun dibuatnya. Masyarakatpun hanya bisa berspekulasi.

Sebenarnya orang selalu punya cara sendiri untuk mengubah apa yang dilihatnya pantas diubah. Itu sah-sah saja asal demi sesuatu yang dianggapnya ideal. Orang yang mengerti menyebutnya pergantian strategi. Itu biasa baik dalam dunia perang maupun dalam politik keseharian.

Kembali ke CNRM yang diubah menjadi CNRT. 9 Juni 2001, CNRT dibubarkan. Kalau memang merupakan strategi, lalu apa dibalik semua ini? Mereka yang tidak mengerti akan melihat pergantian demi pergantian ini sebagai gali-lubang tutup-lubang. Sesungguhnya tidak demikian. Perubahan-perubahan itu hanya untuk mengantisipasi perkembangan situasi. Seperti kita ketahui setelah perjuangan bersenjata, perlahan diplomasi politik semakin mewarnai resistensi rakyat Timor Lorosae.

Lalu bagaimana pula harus diartikan langkah mundur Xanana Gusmao dan Ramos Horta dari Fretilin. Kalau disebut merupakan strategi, strategi apa lagi itu?

Saat pembukaan kongres Fretilin baru-baru ini di Dili, reporter Lian Maubere bertanya kepada Ramos Horta apakah suatu saat ia akan kembali ke Fretilin, Ramos Horta dengan lantang menjawab bahwa ia tidak akan kembali ke sana. Ia menyebut bukan hanya dirinya tapi Xanana Gusmao juga bersikap serupa. Alasanya, lanjut dia, karena dirinya dan Xanana Gusmao akan membebaskan diri dari sebentuk idiologi yang telah identik dengan sebuah partai politik. Disini keduanya memposisikan diri sebagai ‘kakak’ dari pengiat partai politik. Bukan saja partai yabg telah berkiprah tahun ’75 tapi yang juga lahir belakangan ini. “kalau saya dan Xanana Gusmao kembali ke Fretilin partai-partai lain akan iri....”, tutur dia. Persoalanya, lanjut Ramos Horta, bukan karena dirinya oportunis tapi karena strategi politik. “kami ingin lebih bebas bermain dengan semua partai politik. Jadi tidak harus mengikat diri pada salah satu partai politik. Itu kan lebih realistis”.

Kita bisa memahami prinsip kedua tokoh ini. Mau kembali ke Fretilin atau tidak bukan urusan kita. Tapi setidak-tidaknya Fretilin, seperti kata Mari’I Alkatiri, mengharapkan mereka berdua untuk bergabung lagi.

Selama ini kita melihat bahwa Xanana Gusmao dan Ramos Hotra berada di luar dapur Fretilin. Tapi kita juga tidak pernah tahu kalau-kalau mereka seringkali ke dapur Fretilin sekedar menghirup menu segar di sana. Karena bagaimanapun kedewasaan dan intelektulitas mereka terbentuk di sana. Bisa saja ucapan mereka ”tidak” di depan publik padahal hati mereka lain. Kita juga tidak pernah mengetahui seberapa dalam cinta mereka kepada Fretilin. Terlepas dari itu semua, sepanjang sejarah Fretilin sebagai lokomotif politik Timor Lorosae, nama kedua tokoh ini akan senantiasa dicatat sebagai bagian integralnya.

Tulisan ini pernah di muat pada Majalah Lian Maubere, Edisi 28 Juli 2001

No comments: